Friday, 11 November 2016

PENELITIAN ILMIAH: Sebuah Pengantar Untuk Para Guru




Oleh Jajang Suryana

Ada empat cara, menurut Charles Pierce, untuk mengetahui dan menjelaskan gejala alam. 1) Method of Tenacity (metode keteguhan): kebenaran yang disandarkan kepada suatu pendapat karena pendapat tersebut telah diyakini masyarakat sejak lama. 2) Method of Authority (metode otoritas): kebenaran pernyataan dibuktikan dengan menunjuk kepada pernyataan orang yang dianggap ahli. 3) Method of Intuition (metode intuisi): keyakinan yang didasarkan kepada anggapan umum. 4) Scientific Method (metode ilmiah): kebenaran empiris yang bisa diuji ulang secara ilmiah (Rakhmat, 1989)

Kebenaran ilmu sifatnya sementara. Suatu teori bisa diperbaharui dengan teori lain yang melengkapi atau bahkan menolak isi teori lama. Pada kenyataanya, kebenaran ilmiah bukanlah kebenaran mutlak. Tidak ada kebenaran yang mutlak dalam kaitan dengan semua upaya olah pikir manusia. Semua kebenaran dalam dunia ilmu bisa dipertentangkan berdasarkan penemuan-penemuan baru yang menguatkan atau bahkan menolak temuan yang telah ada.

Kaidah ilmu ditegakkan oleh orde (tatanan yang tertaur), determinisme (sebab, pendahulu), parsimoni (kesederhanaan dalam penjelasan dan mencakup lebih banyak fenomena), dan empirisme (menunjukkan keparcayaan pada observasi dan eksperimen). Oleh karena itu, penemuan ilmiah, teori ilmiah, bisa ditelusuri dan dikaji ulang dengan jalan yang sama oleh ilmuwan yang berbeda (Rakhmat, ibid.).

Ketika Charles Darwin membangun teori tentang The Universe, yang kemudian begitu banyak orang di dunia ilmu pengetahuan, lebih khusus bidang kajian biologi, percaya betul cerita tentang evolusi bentuk tubuh manusia yang berasal dari sejenis binatang primata. Salah satu simpulan hasil kajian Darwin yang diterima mentah-mentah oleh banyak ilmuwan waktu itu, adalah bahwa manusia-manusia masa kini merupakan hasil malih rupa dari wujud monyet, secara evolutif, menjadi manusia sesungguhnya. Waktu itu, tidak ada yang penasaran, apakah proses evolusi itu berhenti pada bentuk manusia masa kini? Darwin tidak mampu menunjukkan bukti tesisnya. Dia berlindung dalam dinding kokoh yang dia bangun, yang disebut the missing link. Hingga kini, link (mata rantai) yang missing (hilang) itu tidak pernah ditemukan, karena memang tidak pernah ada, tidak pernah menjadi bukti kebenaran teori Darwin. 

Tahun 2000, setelah begitu lama teori evolusi itu menjadi pegangan para ilmuwan, Harun Yahya menulis buku yang begitu gamblang, menunjukkan bukti-bukti kesalahan teori Charles Darwin. Yahya menunjukkan bukti-bukti ilmiah yang menentang teori Darwin. Kesalahan teori Darwin ditunjukkan dengan berbagai bukti nyata yang ada di alam, sebagai bukti tak terbantah. Sehingga ketersesatan “ilmiah” para ilmuwan pendukung teori Darwin telah terbantah mentah-mentah. Bahkan, Harun Yahya membongkar “manipulasi ilmiah di belakang Teori Evolusi Darwin dan Motif-motif Ideologisnya”

Jenis-Jenis Kegiatan Penelitian

Pada kenyataannya, kegiatan penelitian ditujukan untuk meramalkan sesuatu atau memerikan keadaan sesuatu. Penelitian yang ditujukan untuk meramalkan sesuatu biasanya menggunakan metode korelasi, eksperimen, dan kuasi-eksperimen. Data yang dikumpulkan dalam kegiatan penelitian tersebut adalah data numerik. Oleh karena itu penelitian jenis ini disebut penelitian kuantitatif. Penelitian yang ditujukan untuk memerikan, mendeskripsikan tentang sesuatu, keadaan, atau kejadian. Penelitian ini biasanya cenderung mengolah data yang analisisnya kualitatif.

Penelitian-penelitian kesenirupaan, misalnya tentang estetika, kaji fungsi, analisis bahan, lebih cocok menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dibanding penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif bisa juga digunakan dalam penelitian kesenirupaan, asal jenis data yang akan dikumpulkan dan diolah adalah data yang numerik.

Masalah Penelitian dan Cara Merumuskannya

Masalah penelitian bukan judul penelitian. Masalah adalah inti persoalan penelitian yang tersirat di dalam judul. Masalah adalah pertanyaan-pertanyaan penelitian yang akan dicari jawabannya.

Pertimbangan-pertimbangan memilih masalah penelitian: 1) segi keilmuan (: kebenaran ilmiah, kemampuan peneliti, moral keilmuan); 2) metode keilmuan (: dapat dipecahkan melalui langkah-langkah berpikir ilmiah); 3) kepentingan dan manfaat (: tingkat pendidikan, kedalaman, nilai guna bagi ilmu dan praktek); 4) hal-hal teknis (: menarik perhatian peneliti, situasional).

Penelitian-penelitian yang bertujuan untuk meramalkan sesuatu selalu harus dimulai dengan perumusan jawaban sementara (hipotesis, yang akan dibuktikan melalui penelitian). Kegiatan penelitian bergerak dari tahap konsepsional ke tahap operasional. Pada tahap konsepsional peneliti menguraikan hal-hal yang abstrak tentang konsep (generalisasi tentang hal-hal khusus: merah, hijau, biru adalah “warna”; membaca buku, mendengarkan kuliah, adalah “belajar”); konstruk (ciri-ciri konsep yang dapat diamati dan diukur: “lapar” dioperasionalisasikan dengan perasaan sakit karena tidak makan selama 24 jam); dan variabel (nilai konstruk yang bisa diukur secara kuantitatif atau kualitatif).

Kategori variabel: 1) variabel bebas dan tak bebas; 2) variabel aktif dan atribut; 3) variabel kontinyu dan kategoris/diskret.

Hipotesis Penelitian dan Pengujian

Hipotesis menghubungkan teori dengan dunia empiris. Manfaat hipotesis untuk memudahkan peneliti dalam menarik simpulan penelitian. Teori tidak dapat diuji. Supaya dapat diuji, teori harus dirinci menjadi proposisi-proposisi. Proposisi ini sering disebut hipotesis (Rakhmat, 1989). Hipotesis memberikan manfaat dalam penelitian, misalnya dalam menentukan proses pengumpulan data seperti penentuan metode, instrumen yang harus digunakan, sampel (terok) atau sumber data, dan teknik analisis data. Di samping itu, hipotesis bermanfaat dalam menjelaskan gejala yang diteliti, yang dapat dilihat dari pernyataan hubungan variabel-variabel penelitian. Hasil pengujian hipotesis bermanfaat dalam perumusan simpulan-simpulan penelitian (Sudjana, 1988).

Hipotesis harus menggunakan logika berpikir rasional maupun empiris. Oleh karena itu, sumber hipotesis bisa dari hasil berpikir rasional (: deduktif) atau dari hasil berpikir empiris (: induktif). Hipotesis diturunkan dari teori pengetahuan ilmiah (Sudjana, ibid.).

Seperti disebutkan Goode dan Hatt (1952), rumusan hipotesis yang baik harus: 1) Jelas secara konseptual: konsep didefinisikan secara operasional. Pendefinisian konsep bisa dengan kata-kata; dalam operasi tertentu (indeks pengukuran, jenis observasi); atau dengan cara menghubungkannya dengan konsep lain yang terdapat dalam penelitian sebelumnya. 2) Mempunyai rujukan empiris: tidak boleh mengandung konsep-konsep yang merupakan penilaian (value judgements). Kata-kata seperti seharusnya, baik, efektif, lebih mencerminkan sikap daripada gejala empiris. 3) Bersifat spesifik: supaya hipotesis mudah diukur, hipotesis dijabarkan dalam subhipotesis yang subjek, waktu, target, dan hubungan-hubungannya dinyatakan secara jelas dan eksplisit. 4) Dihubungkan dengan teknik penelitian yang ada: penggunaan alat ukur yang pernah digunakan (pelajari juga lengkap dengan kritik-kritik yang bersangkutan dengan alat ukur tersebut). 5) Berkaitan dengan suatu teori: menolak, mendukung, atau meneguhkan teori, oleh karena itu perumusan hipotesis memerlukan penelaahan pustaka (Rakhmat, op. cit.)

Perumusan hipotesis bisa disusun dengan pola pernyataan tidak ada hubungan, tidak ada perbedaan, tidak ada pengaruh, dan sejenisnya, yang biasa disebut hipotesis nol, hipotesis tak berarah (: hipotesis yang kurang tajam). Hipotesis itu bisa juga disusun dengan pola pernyataan ada hubungan, ada perbedaan, ada pengaruh atau sejenisnya yang disebut hipotesis penelitian, hipotesis berarah (: hipotesis yang mempunyai alasan kuat dan rasional).

Pengujian hipotesis dilakukan melalui data empiris, dengan melakukan verifikasi data di lapangan. Pengumpulan data bisa berangkat dari tindakan sengaja yang dilakukan peneliti, melalui eksperimen, atau dari hasil perlakuan orang lain. Dalam kegiatan eksperimen, peneliti menentukan beberapa kelompok objek penelitian (biasanya 2 kelompok). Kelompok pertama diberi perlakuan (kelompok eksperimen) sesuai dengan kondisi (variabel bebas) yang diciptakan peneliti; kelompok kedua tidak diberi perlakuan (kelompok kontrol). Hasil masing-masing kelompok akan menjadi variabel terikat, varibel tak bebas (Sudjana, op. cit.). Variabel bebas adalah variabel yang diduga menjadi penyebab atau pendahulu bagi variabel lain (: Jika A, maka B. A variabel bebas. B variabel terikat, tak bebas). Variabel yang lain adalah variabel aktif, variabel yang dapat dimanipulasi, dapat dikendalikan (: suhu ruangan, situasi pembelajaran, jumlah perhatian); dan variabel atribut, variabel yang sudah jadi, tak dapat dikendalikan atau dimanipulasi (: usia, jenis kelamin, status sosial, tingkat kecerdasan, pembawaan). Di samping itu, ada juga yang disebut dengan variabel kontinyu (secara teoretis bisa mempunyai nilai bergerak: tinggi orang boleh jadi 1,5, 1,53, 1,534, dan sebagainya), dan variabel diskret (hanya mempunyai satu nilai: jumlah anak yang dimiliki, misalnya: 1, 2, 3, yang tidak mungkin ada pecahan) [Rakhmat, op. cit.].

Data, Alat Pengumpul Data, dan Kemungkinan Analisisnya

Verifikasi atau proses pengumpulan data sangat diperlukan untuk  menguji hipotesis. Proses pengumpulan data (kuantitatif: ukuran jumlah; kualitatif: ukuran nilai) bersangkut paut dengan tiga hal: metode dan instrumen; sampel (terok) atau sumber data; dan teknik analisis data. Dalam menetapkan ketiga unsur tadi harus memperhatikan masalah: hakikat variabel yang diteliti (: jika variabel harus diadakan oleh peneliti, maka metode yang harus digunakan adalah metode eksperimen; jika variabel telah ada atau telah terjadi karena perlakuan orang lain, maka bisa digunakan metode deskriptif, ex post facto).

Definisi konsep atau definisi operasional setiap variabel menentukan jenis data sekaligus alat pengumpul data. Definisi produktivitas kerja, misalnya, adalah kemampuan meningkatkan produksi benda, oleh karena itu secara operasional data bertalian dengan jumlah dan jenis benda yang dibuat, waktu yang dibutuhkan, dan kapasitas kemampuan mengadakan benda produk setiap objek yang diteliti dalam kurun waktu tertentu. Alat pengumpul data bisa berupa lembar kuesioner atau panduan wawancara. Jawaban yang
dikehendaki dalam tujuan penelitian dan manfaat hasil penelitian yang diharapkan, menjadi informasi awal yang akan memberi petunjuk terhadap jenis data, sumber data, dan cara analisis data yang diperlukan (Sudjana, op. cit.).

Jenis data, ada yang bersifat kuantitatif, ada juga yang kualitatif. Data kuantitatif memerlukan pendekatan kuantitatif, lebih banyak melibatkan perhitungan (persentase, rata-rata, jumlah, yang statistikal). Data kualitatif mengharuskan penggunaan pendekatan yang kualitatif (analisis kecenderungan, analisis isi, tafsiran, kaji tanda, yang kualitatif). Data bisa didapatkan dari sumber pertama (data primer), sumber kedua (data sekunder), dan seterusnya. Data awal (dawal) menjadi sangat penting dalam penetapan masalah penelitian. Dalam bidang seni rupa misalnya, dawal bisa berupa foto-foto sasaran penelitian. Dengan memanfaatkan dawal peneliti bisa melakukan penelitian secara lebih jelas karena sasaran penelitian yang telah jelas.

Sumber data utama, khusus dalam penelitian kualitatif, seperti disebutkan oleh Lofland dan Lofland (1984), terdiri atas kata-kata dan tindakan, selebihnya (seperti dokumen) adalah data tambahan. Data kata-kata dan tindakan yang didapat dari orang yang diwawancarai atau diamati merupakan data dari sumber data utama. Sumber tertulis merupakan sumber tambahan, tetapi tidak bisa diabaikan. Sumber tertulis itu bisa berupa buku dan majalah ilmiah, arsip, dokumen pribadi, dan dokumen resmi. Foto, kini, juga sudah banyak digunakan sebagai sumber data penelitian kualitatif. Foto bisa berupa foto buatan orang lain maupun buatan peneliti. Data statistik biasa juga digunakan dalam penelitian kualitatif untuk melihat gambaran kecenderungan subjek pada latar penelitian dan data tentang  komposisi distribusi. Tetapi, pada batas-batas tertentu, data statistik yang bersifat hasil generalisasi, mengurangi makna subjek secara perseorangan yang unik dan utuh (Moleong, 1991). 

Metode Penelitian dan Ciri-cirinya

Metode bertalian dengan cara memperoleh data yang diperlukan dalam kegiatan sebuah penelitian. Metode adalah strategi, proses, dan pendekatan  dalam memilih jenis, karakteristik, serta dimensi ruang dan waktu dari data yang diperlukan (Sudjana, 1988).

Sudjana menyebutkan istilah yang agak berbeda dengan Rakhmat dalam penyebutan jenis metode penelitian. Menurut Sudjana (ibid.), metode penelitian terdiri atas “metode penelitian historis, deskriptif, ex post facto, dan eksperimen”. Sedangkan Rakhmat menyebutnya dengan metode penelitian historis, deskriptif, korelasional, eksperimental, dan kuasi eksperimental (Rakhmat, 1989). Tanpa perlu memperdalam perbedaan penyebutan tadi, pada dasarnya kedua penulis tadi menyebut hal yang sama, hanya saja Rakhmat memecah metode eksperimental menjadi dua bentuk. Bahkan, perbedaan penyebutan tersebut lebih tampak lagi dalam tulisan Surakhmad (1980). Dia hanya menyebut tiga metode penelitian saja: metode penelitian historik, deskriptif, dan eksperimental.
 
A. Metode Penelitian Historis

Metode penelitian ini bertujuan untuk “merekonstruksi masa lalu secara sistematis dan objektif dengan mengumpulkan, menilai, memverifikasi, dan menyintesiskan bukti untuk menetapkan fakta dan mencapai kongklusi yang dapat dipertahankan, seringkali dalam hubungan hipotesis tertentu” (Isaac dan Michael, 1972, dikutip oleh Rakhmat, 1989). Atau, “sebuah proses yang meliputi pengumpulan dan penafsiran gejala, peristiwa ataupun gagasan yang timbul di masa lampau, untuk menemukan generalisasi yang berguna dalam usaha memahami kenyataan-kenyataan sejarah, malahan yang juga dapat berguna untuk memahami situasi sekarang dan meramalkan perkembangan yang akan datang” (Surakhmad, op. cit.). Jadi, metode ini digunakan apabila peneliti ingin mengungkapkan peristiwa atau kejadian pada masa lalu. Pengertian metode penelitian sejarah sering dikacaukan dengan metode penelitian dokumenter. Keduanya, memang, memiliki persamaan dan perbedaan.

Hasil penerapan metode historik bisa bersifat komparatif (misalnya, komparasi mengutamakan dimensi waktu dalam membahas aspek kurikulum), yuridis (misalnya, menggali ketetapan hukum), bibliografik (misalnya, membuat ikhtisar karya-karya ilmiah bidang tertentu), biografik (misalnya, cara berpikir seorang tokoh), dan studi-studi khusus bidang sosiologi dan anropologi, misalnya, yang bersifat genetik, klinik, otobiografik, dan kasus. Sumber data yang akan digunakan dalam penelitian bisa berupa sumber data primer maupun sekunder (Surakhmad, op. cit.).

Langkah-langkah penelitian historis:

1) Merumuskan masalah (melalui kegiatan pendalaman dan pengkhususan);
2) Menghimpun data (dari sumber data primer maupun sekunder);
3) Memilih strategi analitis kritik (menggunakan analisis dokumenter [mengikuti proses
    berpikir aduktif: mengemukakan jawaban atas pertanyaan tertentu sehingga
    memperoleh “kecocokan” atau analisis kuantitatif analisis statistik, analisis isi
    (Ali, op.cit.; Rakhmat, op. cit.).
4) Merumuskan hipotesis (untuk membuat kerangka kerja, membuat suatu dugaan yang
    mendalam, mengecek aspek-aspek permasalahan, atau mengklasifikasikan);
5) Membuat simpulan;
6) Membuat laporan hasil penelitian (Ali, op. cit.).
 
B. Metode Penelitian Deskriptif
Metode penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan atau menjelaskan kejadian yang ada pada masa sekarang (Ali, 1987; Sudjana, 1988; Surakhmad, 1982). Fakta atau karakteristik populasi atau bidang tertentu dilukiskan secara faktual dan cermat (Isaac dan Michael, 1972, seperti dikutip oleh Rakhmat, 1989). Hasil dan simpulan dari kegiatan penelitian deskriptif umumnya hanya menjelaskan konsep dan variabel yang diteliti, menjelaskan perbedaan konsep dengan variabel, atau menghubungkan variabel yang satu dengan yang lainnya (Sudjana, op. cit.). Yang pasti, data hasil penelitian tidak sekadar dikumpulkan dan disusun, tetapi dianalisis dan diinterpretasi untuk menjelaskan arti data tersebut (Surakhmad, op. cit.). Metode penelitian yang “melulu” deskriptif disebut sebagai penelitian survai (Isaac dan Michael, 1981) atau penelitian observasional (Wood, 1977).
Bila dilihat dari sudut kegunaannya, demikian Surakhmad (ibid.), metode deskriptif dapat dipakai untuk berbagai tujuan khusus. Konsep yang terbatas melihat metode ini sebagai kegiatan yang dangkal, terdiri atas pengumpulan, tabulasi, dan penuturan data. Selanjutnya ditegaskan, konsep penyelidikan ilmiah melihat kedudukan metode tersebut lebih luas dan dalam, karena metode penelitian ini terdiri atas berbagai teknik. Malahan, hasil penelitian yang bersifat deskriptif telah menjadi sumbangan awal dalam menemukan jalan-jalan yang baru, terutama dalam penelitian yang bersifat longitudinal, generik, dan klinik. Metode deskriptif amat berguna untuk mencari teori, bukan menguji teori, hypothesis-generating, dan heuristic (Rakhmat, op. cit.).

Data yang dikumpulkan dalam penlitian deskriptif adalah data yang diperoleh dengan ukuran-ukuran kecenderungan pusat (central tendency) atau ukuran sebaran (dispersion).

Titik berat penelitian terletak pada suasana alamiah (naturalistic setting) [Rakhmat, ibid.). Oleh karena itu, lanjut Rakhmat, seorang peneliti yang menggunakan pendekatan deskriptif harus memiliki sifat reseptif (harus selalu mencari, bukan menguji), memiliki kekuatan integratif (kekuatan untuk memadukan berbagai macam informasi menjadi satu kesatuan penafsiran. Jadi, dalam penelitian deskriptif peneliti harus menjabarkan (analisis), memadukan (sintesis), melakukan klasifikasi, dan organisasi. Dari penelitian deskriptiflah dikembangkan penelitian korelasional dan eksperimental!

Jenis-jenis penelitian deskriptif:
·         Survai: suatu cara mengumpulkan dari dari sejumlah unit atau individu (biasanya jumlahnya cukup banyak) dalam suatu jangka waktu tertentu. Contoh sensus penduduk, survai sekolah (survai karakteristik guru), survai pendapat umum, dsb. (Ali, op. cit., hal. 121-122).
·         Studi (penelaahan) Kasus: cara mengumpulkan data dari satu permasalahan (kasus) tunggal. Kasus ini diteliti secara mendalam, meliputi berbagai aspek yang cukup luas, dan secara integratif menggunakan berbagai teknik. Sampel (terok) harus benar-benar representatif memiliki kesamaan karakter (Ali, ibid. hal. 123).
**) Ali juga Surakhmad masih memasukkan teknik yang lain termasuk studi perbandingan (comparative study), studi korelasi (hubungan antarvariabel), studi prediksi (perkiraan), studi pertumbuhan, dan studi kecenderungan (trend study) yaitu perpaduan antara metode sejarah, dokumenter, dan survai (Ali, ibid., hal. 123-127), oleh penulis lain, metode-metode penelitian tadi dibahas terpisah, tidak dimasukkan dalam jenis penelitian deskriptif.


C. Metode Penelitian Korelasional

Disebutkan oleh Rakhmat (op. cit.), metode ini merupakan kelanjutan metode deskriptif. Penelitian yang menggunakan metode deskriptif tidak menunjukkan hubungan antarvariabel. Penelitian korelasional memasukkan pencarian hubungan antarvariabel. Metode korelasi bertujuan meneliti sejauhmana variasi pada satu faktor berkaitan dengan variasi pada faktor lain. Kalau yang dihubungkan hanya dua faktor saja disebut simple correaltion (korelasi sederhana), tetapi kalau lebih dari dua faktor disebut multiple correlation (korelasi ganda). Korelasi tidak selalu menunjukkan hubungan kausalitas, tidak diartikan hubungan sebab akibat (untuk menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat, harus dipenuhi syarat: asosiasi, prioritas waktu, dan hubungan sebenarnya). Korelasi yang signifikan secara statistik tidak boleh diartikan signifikan secara substantif (contoh: menguji keefektifan suatu program dibandingkan dengan program lainnya) atau signifikan secara teoretis (contoh: jika mempertanyakan hal yang berkaitan dengan konsep diri, sosialisasi, perkembangan sosiokultural, dll.) [Rakhmat, ibid.].

Metode korelasi digunakan untuk:
·         Mengukur hubungan di antara berbagai variabel;
·         Meramalkan variabel tak bebas; dan
·         Meratakan jalan untuk membuat rancangan penelitian eksperimental.


D. Metode Penelitian Eksperimental

Pada awalnya, jenis penelitian ini biasa dilakukan dalam bidang sains. Tetapi, kemudian juga diterapkan dalam penelitian bidang sosial. Eksperimen di dalam laboratorium lebih “mudah” dilakukan, karena adanya alat yang khusus serta situasi yang terpisah dari gangguan luar.  Setiap variabel dapat dimanipulasi menurut rencana. Eksperimen di luar laboratorium pada umumnya menghadapi banyak kesulitan karena lebih banyak kemungkinan menghadapi gangguan. Kebanyakan penelitian eksperimental adalah deduksi teori (Surakhmad, op. cit.). Oleh karena itu, kata Surakhmad, eksperimen itu mengikuti; tidak mendahului teori; kebanyakan dilakukan untuk membuktikan deduksi-deduksi teori tertentu.

Metode penelitian ini ditujukan untuk “meneliti hubungan sebab-akibat dengan memanipulasikan satu atau lebih variabel pada satu (atau lebih) kelompok eksperimental, dan membandingkannya dengan kelompok kontrol yang tidak mengalami manipulasi” (Rakhmat, op. cit.). Percobaan-percobaan dalam jenis penelitian ini “merupakan modifikasi kondisi yang dilakukan secara sengaja dan terkontrol dalam menentukan peristiwa atau kejadian, serta pengamatan terhadap perubahan yang terjadi pada peristiwa itu sendiri” (Wermeister, dikutip oleh Ali, op. cit.).

Penelitian eksperimen pada kenyataannya tidaklah sederhana. Seperti disebutkan oleh Rakhmat (op. cit.), peneliti harus memperhatikan, apakah tidak ada variabel luar yang ikut serta menimbulkan pengaruh. Karena itu, sedapat mungkin peneliti harus mengusahakan, mengontrol, agar perbedaan hasil pengamatan itu tidak disebabkan oleh hal-hal lain kecuali variabel bebas yang diteliti.

Secara garis besar, kegiatan penelitian eksperimental ditandai tiga hal:
·         manipulasi, mengubah secara sistematis keadaan tertentu;
·         observasi, mengamati dan mengukur hasil manipulasi;
·         kontrol, mengendalikan kondisi-kondisi penelitian ketika berlangsungnya
      manipulasi. Kontrol merupakan kunci penelitian eksperimental. Seba, tanpa kontrol,
      manipulasi dan observasi akan menghasilkan data yang confounding, meragukan
      (Rakhmat, ibid.).


E. Penelitian Kuasi-Eksperimental

Penelitian Kuasi-Eksperimental mempunyai dua ciri.
·         Peneliti tidak mampu meletakkan subjek secara acak pada kelompok eksperimental atau kelompok kontrol;
·         Peneliti tidak dapat mengenakan variabel bebas kapan dan kepada siapa saja yang dikehendakinya.

Kedua ciri tersebut menyulitkan penetapan hubungan kausal antara variabel-variabel. Hubungan kausal tersebut bisa dideteksi bila peneliti berhasil mengurangi variabel luar yang meragukan.

Contoh rancangan penelitian kuasi-eksperimental.
1). Rancangan Kelompok Tak Acak: Dua kelompok sasaran penelitian, keduanya
     diprauji; kelompok pertama dipengaruhi perlakuan eksperimen, kelompok
     kedua dibiarkan.
2). Rancangan Rangkai Waktu: Sasaran penelitian diperlakukan dalam
     pengukuran yang berkali-kali sebelum dan sesudah garapan.


F. Pendekatan Penelitian Bidang Seni

Pendekatan sejarah, proses kreatif, dan kritik seni merupakan contoh penelitian bidang seni rupa. Pendekatan sejarah dan proses kreatif lebih bersifat deskriptif, mencatat apa yang terjadi, apa yang ada, apa yang tercatat, apa yang tampak, apa yang diucapkan oleh seniman sebagai pengakuannnya, dan lain sebagainya. Kegiatan pendeskripsian data kesenirupaan baik secara sejarah maupun pencatatan proses kreatif seseorang, tidak akan menunjukkan interpretasi, kritik, atau pun penilaian. Dalam krirtik seni proses penentuan nilai akan muncul sebagai bentuk keputusan.

Eisner (1979; 1983) menekankan perlunya penelitian dan evaluasi dengan menggunakan bahasa kritik seni. Ia menegaskan bahwa kritik seni merupakan pendekatan yang sangat membantu dan melengkapi kegiatan penelitian karena kekuatannya dalam meyajikan deskripsi dan interpretasi yang kaya dengan nilai-nilai kehidupan manusia. Bahkan, ia juga menegaskan bahwa dalam dunia pendidikan perlu penelitian yang menggunakan pola pikir kritik seni, khususnya dalam mengevaluasi program. Ia mengritik secara pedas, selama ini penelitian pendidikan kurang bermanfaat karena terlalu kuantitatif, sebagai penelitian berjarak, reduksionis, dan tidak mampu menangkap beragam nuansa nilai interaksi manusiawi.

Dua hal penting yang menjadi ciri kegiatan kritik: 1) kritik adalah suatu aktivitas empirik dan 2) berbagai hal bisa menjadi sasaran kritik. Masalah yang bisa dikaji dengan kritik tidak harus selalu karya seni. Beragam hal bisa dikaji secara kritik, seperti benda, peristiwa, program, perilaku manusia, dan lain-lain.

Sumber nilai yang menunjang kehidupan seni:
1) seniman dengan latar belakang budayanya dan konteks sosial budaya pada saat
    karya diciptakan, yang sering disebut sebagai sumber informasi genetik yang
    terdiri atas: faktor genetik yang bersifat subjektif (terdapat pada diri
    senimannya) dan faktor genetik yang objektif (iklim budaya lingkungannya)
    [Gotshalk, 1966];
2) karya seni sebagai sumber informasi objektif yang biasa disebut sebagai faktor
    objektif (intrinsik), yang merupakan kondisi objektif dari karya seni;
3) kaomponen penikmat seni sebagai sumber informasi afektif, yang berupa
    dampak emosional pada diri penikmat dalam menanggapi karya, dan beragam
    tafsir makna nilai setelah melakukan interaksi dialektis dengan karya dalam
    proses penikmatan.

Ketiga unsur tadi saling bersintindakan. Oleh karena itu, tidak sepantasnya aktivitas evaluasi setiap karya seni mengabaikan salah satu dari ketiga unsur tadi, bila menghendaki suatu pemahaman yang lebih lengkap.


G. Penelitian Tindakan

Penelitian tindakan banyak menarik minat para peneliti bidang ilmu sosial dan humaniora. Penganut Empirisme, Positivisme Logis, dan Strukturalisme menolak jenis penelitian ini. Sebaliknya, penganut Pragmatisme dan Materialisme Dialektis menerimanya. Peneliti ilmu pengetahuan sosial dan humaniora yang dituntut terjun ke lapangan untuk bergelut dengan praktik dan peningkatannya, memandang penelitian ini sangat layak. Terutama bila ditinjau dari tujuan penelitian: penelitian ini dipandang sebagai alat untuk mencapai tujuan (Madya, 1994).

Elliot (1982) mendefinisikan penelitian tindakan sebagai: “kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya. Seluruh prosesnya --telaah, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan pengaruh-- menciptakan hubungan yang diperlukan antara evaluasi diri dan perkembangan profesional”.

“Penelitian tindakan adalah intervensi skala kecil terhadap tindakan di dunia nyata dan pemeriksaan cermat terhadap pengaruh intervensi tersebut” (Cohen dan Manion, 1980).

“Penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian refleksi diri kolektif yang dilakukan oleh peserta-pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik pendidikan dan praktik sosial mereka, serta pemahaman mereka terhadap praktik-praktik itu dan terhadap situasi tempat dilakukannya praktik-praktik tersebut” (Kemmis dan Taggart, 1988).

Dua hal penting yang menjadi ciri penelitian tindakan: hasil penelitian dipakai sendiri oleh penelitinya, juga oleh orang lain, dan penelitiannya terjadi di dalam situasi nyata yang hasil pemecahan masalahnya diperlukan serta dipraktikkan.

Winter (1989) yang dikutip oleh Madya, menunjukkan enam asas penelitian tindakan:
1) kritik refleksif, 2) kritik dialektis, 3) sumber daya kolaboratif, 4) resiko, 5) struktur majemuk, dan 6) teori.

Kritik refleksif adalah: mengumpulkan catatan-catatan yang telah dibuat oleh peneliti lain atau yang berwewenang. Kritik dialektis adalah: melakukan kritik terhadap gejala yang diteliti. Sumber daya kolaboratif adalah: kesadaran peneliti bahwa ia bagian dari situasi yang diteliti. Resiko adalah: salah satu di antaranya melesetnya hipotesis. Struktur majemuk adalah: berhubungan dengan gagasan bahwa gejala yang diteliti harus mencakup seluruh unsur pokok agar menyeluruh. Bila situasi belajar yang diteliti, maka harus mencakup guru, siswa, tujuan pendidikan, interaksi pembelajaran, dan keluaran. Teori, praktik, dan transformasi adalah: teori dan praktik bukan dua dunia yang berbeda tetapi hanyalah merupakan dua tahapan yang berbeda yang saling bergantung dan mendukung.

Penelitian tindakan yang dikenal secara umum terdiri atas tindakan skala luas yang pada akhirnya menjadi kebijakan umum; tindakan berskala sempit untuk menyusun kebijakan terbatas, dan tindakan kelas (kebijakan yang lebih sempit).


H. Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Penelitian tindakan kelas berbeda dengan penelitian eksperimental. Hal itu sering dikacaukan pengertiannya. Tabel di bawah ini menunjukkan perbedaan tersebut.  



Tabel 1. Perbedaan mendasar antara penelitian tindakan kelas dengan penelitian eksperimental



No.
Komponen
Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian Eksperimental
1.
Masalah
Bersifat kasus khusus dan situasional (setting khusus)
Umum
2.
Tujuan
Perbaikan, peningkatan
Penyelidikan ada tidaknya pengaruh
3.
Sasaran Penelitian
Individu, kelas
Populasi dan sampel
4.
Hipotesis
Hipotesis tindakan (boleh tidak ada hipotesis)
Harus ada hipotesis dan harus melalui uji statistik
5.
Rancangan
Perencanaan-tindakan-observasi-refleksi; tidak ada kelompok kontrol
Eksperintal; ada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
6.
Analisis Data
Bersifat kualitatif
Bersifat kuantitatif, melalui analisis statistik
7.
Proses
Penekanan pada proses bukan pada  hasil
Penekanan pada hasil
8.
Simpulan
Tidak dapat digeneralisasi
Dapat digeneralisasi



* Dikutip dengan beberapa penyesuaian dari Sugiarta, 2011






Ketika guru mendapatkan masalah dalam proses pembelajaran, seharusnya guru menyadari bahwa permasalahan tersebut harus ditangani segera. Penanganan masalah terkait dengan kesiapan guru, melalui kegiatan refleksi, untuk melakukan perbaikan atas kondisi kelas, kelompok peserta didik, individu peserta didik, cara pembelajaran, materi pembelajaran, atau apapun yang menjadi bagian dari proses pembelajaran. Guru yang profesional adalah guru yang secara terus menerus berusaha meningkatkan kualitas dirinya.

Permasalahan di satu kelas belum tentu sama persis penyebab dan cara penyelesaiannya di kelas yang lain. Oleh karena peramsalahan kelas adalah kasus khusus (setting khusus), maka pilihan tindakan yang harus dilakukan oleh guru juga disesuaikan dengan kasus per kasus (situasional). Dalam menangani permasalah kelas, sangat bijaksana jika guru berkolaborasi dengan guru lain, tim ahli, bahkan praktisi lapangan, dalam melakukan tindakan. Setiap anggota berpartisipasi aktif dalam melakukan penelitian tindakan. Karena sifat penelitian tindakan adalah evaluasi diri, penanganan terhadap masalah nyata di kelas, maka penelitian ini harus secara terus menerus dilakukan hingga mendapatkan peningkatan-peningkatan dalam proses pembelajaran.   

Rancangan penelitian tindakan kelas secara umum mengikuti pola: Refleksi awal-Perencanaan-Tindakan-Observasi-Refleksi. Berangkat dari hasil refleksi terhadap masalah yang ditemukan di kelas, direncanakanlah bentuk-bentuk tindakan rasional yang diperkirakan bisa menyelesaikan permasalahan. Rencana tindakan dijabarkan dalam bentuk skenario tindakan yang sistematis dan bersiklus (umumnya 2 siklus). Semua kegiatan tindakan diobservasi sekaligus dievaluasi untuk mengukur sejauhmana tindakan yang telah dilakukan bisa memperbaiki atau meningkatkan indikator-indikator pembelajaran. Selanjutnya, dilakukan refleksi (analisis, sintetis, pemaknaan, perenungan, dan penyimpulan) sebagai bahan perencanaan (revisi) tindakan selanjutnya yang lebih disempurnakan.

Komponen Usulan PTK

Format umum yang biasa digunakan dalam mengusulkan PTK adalah sebagai berikut.

A. Judul Penelitian
Judul singkat, spesifik, jelas menggambarkan masalah, tempat, dan tindakan yang dilakukan dalam penelitian. Maksimal 20 kata.

B. Bidang Kajian
Bidang kajian yang diteliti, seperti tentang strategi pembelajaran, media pembelajaran, sistem asesmen dan evaluasi, atau yang lainnya, dituliskan untuk mempertegas bidang kajian.

C. Latar Belakang Masalah
Kemukakan bahwa permasalahan adalah permasalah nyata yang terjadi di kelas. Masalah dipilih untuk diperbaiki. Kemukakan kepentingan masalah berdasarkan daya dukung, waktu, dan kebermanfaatan hasil perbaikannya. Gambarkan situasi yang akan dibangun selama kegiatan penelitian, bagaimana kolaborasi guru dan keterlibatan anggota peneliti.

D. Rumusan Masalah
Identifikasi alternatif tindakan yang bisa dilakukan. Berikan alasan yang logis tentang pemilihan tindakan yang akan dilakukan. Kemukakan tentang pemecahan masalah dalam bentuk tindakan. Rumuskan hipotesis tindakan (jika perlu), indikator keberhasilan tindakan, cara mengukur keberhasilan, dan cara mengevaluasinya. Rumusan masalah disusun dalam bentuk kalimat tanya yang secara operasional bisa menunjukkan ruang lingkup penelitian yang akan dilakukan.

E. Tujuan Penelitian
Kemukakan secara singkat dan operasional mengacu kepada rumusan masalah.

F. Manfaat Hasil Penelitian
Sebutkan manfaat hasil penelitian, terutama terkait dengan upaya perbaikan kualitas pembelajaran bagi siswa, guru, sekolah, dan komponen lainnya.

G. Kajian Pustaka
Deskripsikan kajian teori dan masalah empirik yang mendasari kegiatan PTK. Jika ada, deskripsikan juga hasil-hasil penelitian sebelumnya yang bisa menguatkan pilihan tindakan.

H. Metode Penelitian
Jelaskan sasaran penelitian, waktu kegiatan, tempat penelitian, prosedur kegiatan. Prosedur mengacu kepada pola refleksi awal-perencanaan-tindakan-observasi-refleksi. Kemukakan juga hal-hal yang terkait dengan penyiapan bahan pembelajaran, perangkat pembelajaran, hingga hal-hal yang terkait dengan persiapan observasi dan evaluasi.

I. Jadwal Penelitian
Kemukakan jadwal kegiatan dalam bentuk tabel.

J. Biaya Penelitian
Sesuaikan dengan peraturan yang ditetapkan oleh penyandang dana.

K. Personalia Penelitian
Rincilah personalia penelitian lengkap dengan tugas dan ketersediaan waktu kerjanya.

L. Daftar Pustaka
Seusaikan dengan peraturan penulisan daftar pustaka yang resmi.

M. Lampiran-lampiran
1. Perangkat penelitian, seperti instrumen yang telah dikembangkan.
2. Curriculum vitae peneliti
3. Surat-surat keterangan  


5.
TUGAS

2.1.1 Sebutkan dua jenis pendekatan penelitian

2.1.2 Deskripsikan 2 jenis pendekatan penelitian beserta karakteristik sifat
         data yang dituntutnya  

2.1.3 Tunjukkan perbedaan utama 2 pendekatan penelitian

2.2.1 Deskripsikan 5 jenis metode penelitian

2.2.2 Tentukan pilihan metode penelitian berdasarkan kasus tertentu yang
         dipaparkan

2.2.3 Tetapkan teknik pengumpulan data yang disesuaikan dengan kasus yang
         dipaparkan

2.2.4 Tetapkan instrumen pengumpul data yang disesuaikan dengan kasus
         yang dipaparkan

2.3.1 Deskripsikan pentingnya data awal

2.3.2 Tunjukkan contoh data awal sebuah kondisi pembelajaran

2.4.1 Tetapkan refleksi sebagai langkah perbaikan terhadap kinerja sendiri

2.4.2 Siapkan langkah-langkah penyelesaian hasil refleksi

2.5.1 Pilihlah masalah sebagai bahan kegiatan penelitian tindakan kelas

2.5.2 Rancang kegiatan penelitian tindakan kelas

6.

ASSESMEN

Buatlah rancangan penelitian tindakan kelas berdasarkan format umum pengusulan rencana kegiatan penelitian tindakan kelas.

7.

SUMBER BACAAN

Ali, Mohamad. 1987. Penelitian Pendidikan Prosedur & Strategi. Bandung:
       Angkasa
Madya, Suwarsih. 1994.  Panduan Penelitian Tindakan. Yogyakarta: Lembaga
       Penelitian IKIP Yogyakarta
Moleong, Lexy J. 1991. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja
       Rosdakarya
Rakhmat, Jalaluddin. 1989. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: Remadja
       Karya
Sudjana, Nana. 1988. Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah Makalah-Skripsi-
       Tesis-Disertasi. Bandung: Sinar Baru
Sugiarta, I Made. 2011. Materi Pokok Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
       Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru, Universitas Pendidikan Ganesha
Surakhmad, Winarno. 1982. Pengantar Penelitian Ilmiah: Dasar, Metoda,
       Teknik. Bandung: Tarsito
Sutopo, H.B. 1990. Kritik Seni Sebagai Pendekatan Penelitian Kualitatif.
       Makalah pada Seminar Nasional Penelitian Kualitatif Ilmu Humaniora dan
       Ilmu Sosial, Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret, Surakarta

No comments:

Post a Comment