<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562622522429490936</id><updated>2012-01-21T18:10:56.829-08:00</updated><category term='si jampang'/><category term='Museum Wayang'/><category term='jender'/><category term='naruto'/><category term='kartun'/><category term='maza'/><category term='kolaborasi'/><category term='model pembinaan profesi pendidik'/><category term='sanento yuliman'/><category term='surya'/><category term='open lesson'/><category term='robot'/><category term='si buta dari goa hantu'/><category term='FSRD-ITB'/><category term='sinetron'/><category term='art'/><category term='melayu'/><category term='between techniques and instinctive framing'/><category term='mutual learning'/><category term='Gatra'/><category term='penghargaan'/><category term='budaya'/><category term='lomba'/><category term='e-book'/><category term='artist'/><category term='Sangsit'/><category term='crayon sinchan'/><category term='panji koming'/><category term='gamer'/><category term='peniruan'/><category term='olah pikir'/><category term='naif'/><category term='bentara budaya bali'/><category term='ITB'/><category term='imajinasi'/><category term='masyarakat dusun'/><category term='Rococo'/><category term='Yasraf Amir Piliang'/><category term='tabrani. ekspresivitas'/><category term='mimi rasinah'/><category term='olah rasa'/><category term='wayang kulit'/><category term='pura dalem'/><category term='Asep Sunandar Sunarya'/><category term='pengkajian'/><category term='leak'/><category term='gadang'/><category term='ornamen'/><category term='walt disney'/><category term='pola tumpuk'/><category term='jinah bolong'/><category term='copy the master'/><category term='Kompas'/><category term='game'/><category term='beban'/><category term='toraja'/><category term='telesel'/><category term='gunung kembar'/><category term='ruang publik'/><category term='seni rupa anak-anak'/><category term='pura'/><category term='surakarta'/><category term='rambut sedana'/><category term='BSE'/><category term='Bali'/><category term='seni'/><category term='pura mekah'/><category term='worm'/><category term='lambang'/><category term='waktu luang'/><category term='9 windu'/><category term='rasio'/><category term='rasa'/><category term='sundawan'/><category term='mahasiswa'/><category term='senirupawati'/><category term='jakarta-jakarta'/><category term='animasi'/><category term='panji tengkorak'/><category term='rangda'/><category term='uang kepeng'/><category term='pembaruan'/><category term='godam'/><category term='Primadi Tabrani'/><category term='pasek'/><category term='gambar'/><category term='Oho Garha'/><category term='kelainan'/><category term='nyeleneh'/><category term='pikir'/><category term='kungfu painting'/><category term='seni rupa'/><category term='audio-visual'/><category term='catatan'/><category term='Betul-betul Puisi untuk Ibu'/><category term='Jagaraga'/><category term='kemasan'/><category term='penelitian'/><category term='T-Ford'/><category term='Jeep'/><category term='jeihan sukmantoro'/><category term='relief'/><category term='Sudjoko'/><category term='wayang golek'/><category term='kesenian'/><category term='vignette'/><category term='Singaraja'/><category term='pendokumentasian'/><category term='sejarah'/><category term='lesson study'/><category term='Sunda'/><category term='M. Duyeh'/><category term='gundala'/><category term='Fischer'/><category term='pola'/><category term='mutering jagat'/><category term='syah bandar'/><category term='pangeran mlaar'/><category term='drawing'/><category term='wayang'/><category term='ogoh-ogoh'/><category term='Buleleng'/><category term='komunitas belajar'/><category term='kalong'/><category term='nyawa dan rasa'/><category term='masdiono'/><category term='barong'/><category term='perspektif'/><category term='dwi jendra'/><category term='pola rebah'/><category term='dunia maya'/><category term='gambar karya anak-anak'/><category term='kapten mar'/><category term='McCloud'/><category term='makanan tradisional'/><category term='joglo'/><category term='Bali Post'/><category term='anime'/><category term='jagoan'/><category term='missing link'/><category term='film'/><category term='lukisan'/><category term='ekonomi'/><category term='percaya diri anak-anak'/><category term='perajin'/><category term='pesawat'/><category term='komik'/><category term='laba-laba merah'/><category term='nusantara'/><category term='proses kreatif'/><title type='text'>rupasenirupa</title><subtitle type='html'>bicara seni rupa tanpa rasa beda</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Je Suryana</name><uri>https://profiles.google.com/108432985872626695684</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-MfOlICd2i3U/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAATE/IwozjZU4t_0/s512-c/photo.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>37</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562622522429490936.post-1761433743138286556</id><published>2012-01-02T17:50:00.000-08:00</published><updated>2012-01-03T16:00:13.857-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='penghargaan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='penelitian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mahasiswa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendokumentasian'/><title type='text'>PENELITIAN SENI RUPA</title><content type='html'>Oleh Jajang Suryana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karya seni rupa menjadi bagian tak terpisahkan dari hampir semua sisi kehidupan manusia. Sejak manusia bangun tidur untuk memulai kegiatan hidup hariannya, barang-barang hasil olah rupa telah menjadi bagian keperluan hidupnya. Ketika manusia berkegiatan, rehat dari kegiatan, atau bahkan ketika manusia betul-betul istirahat total dari hampir seluruh kegiatannya, manusia tetap berinteraksi dengan berbagai hasil olah rupa. Semua benda hasil olah rupa sengaja ditata untuk menyenangkan mata, untuk kenikmatan penggunaan, untuk kebanggaan prestise, untuk kegiatan pengabdian kemanusiaan, atau bahkan untuk pengabdian kehambaan manusia kepada Tuhannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hasil olah pikir manusia yang dimotori aneka kebutuhan jasmaniah maupun ruhaniah, dalam bentuk benda-benda budaya fisik, pada setiap periode kehidupan manusia terus bertambah jenis dan bentuknya. Manusia diberi kesanggupan oleh Allah untuk bisa merespon kondisi alam lingkungannya. Sumber ide yang telah ditebar oleh Allah di alam, bebas diakses oleh siapa saja yang aktif melakukan pencarian. Oleh karena itu, seorang anak sekalipun, ketika aktif melakukan olah pikir dan rasa merespon kebutuhan lingkungannya, akan bisa mendapatkan akses penuh gudang inspirasi yang telah disediakan oleh Allah.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;TANPA SEKOLAH&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Orang tua-tua yang hidup pada zaman dahulu, yang aktif dan tanggap terhadap keberadaan lingkungannya, mereka bisa menggubah banyak benda kebutuhan mereka. Hasilnya sangat mencengangkan. Tanpa sekolah, mereka bisa membangun rumah adat yang megah, jembatan, bendungan, atau bahkan benda-benda kecil yang berfungsi sekadar pengisi waktu luang, untuk hiburan. Mereka bahkan bisa meramu aneka kegiatan maupun hasil kegiatan menjadi sesuatu yang sarat dengan simbolisasi tertentu. Keaktifan pikir dan rasa tetap menjadi kunci keberhasilan kegiatan mereka. Dan, Allah selalu menghargai berbagai aktifitas mahlukNya!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Inspirasi batik (teknik, motif, dan makna), bentuk wayang (berbagai media dan cerita digunakan), perabot rumah tangga (berbagai bahan alami yang menyehatkan tubuh digunakan sebagai bahan dasarnya), benda-benda upacara, benda hiburan, benda ekonomis, semua didapatkan ditemukan oleh mereka yang tidak pernah berhenti melakukan pencarian. Proses kreasi, dalam kondisi dan lingkungan manapun, sama jalurnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-VoAqanxgotQ/TwJU7lcn4XI/AAAAAAAAAWE/qtqZeiApln8/s1600/Jajang+Suryana-51+tahun-Singaraja-MakamBatuManado-SonyEricssonK530i.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-VoAqanxgotQ/TwJU7lcn4XI/AAAAAAAAAWE/qtqZeiApln8/s320/Jajang+Suryana-51+tahun-Singaraja-MakamBatuManado-SonyEricssonK530i.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-g5zKAKazuWo/TwJVFmIKeMI/AAAAAAAAAWM/yFUrq2RgUCA/s1600/Jajang+Suryana-51+tahun-Singaraja-CandiBentar-SonyEricssonK530i.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-g5zKAKazuWo/TwJVFmIKeMI/AAAAAAAAAWM/yFUrq2RgUCA/s320/Jajang+Suryana-51+tahun-Singaraja-CandiBentar-SonyEricssonK530i.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-a4jpvd_XvuM/TwJVqWkprFI/AAAAAAAAAWU/bmNAqPcNDtw/s1600/Jajang+Suryana-51+tahun-Singaraja-TanahLotTabanan1-SonyEricssonK850i.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="230" src="http://3.bp.blogspot.com/-a4jpvd_XvuM/TwJVqWkprFI/AAAAAAAAAWU/bmNAqPcNDtw/s320/Jajang+Suryana-51+tahun-Singaraja-TanahLotTabanan1-SonyEricssonK850i.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-PjdUiu7bLU8/TwJWO6L0t1I/AAAAAAAAAWc/0yTGn6F-U48/s1600/CIMG5168.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-PjdUiu7bLU8/TwJWO6L0t1I/AAAAAAAAAWc/0yTGn6F-U48/s320/CIMG5168.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-3Ha-HWz1LpU/TwJWkJCNuDI/AAAAAAAAAWk/1nhrV2NS04A/s1600/KumpulanKarya.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-3Ha-HWz1LpU/TwJWkJCNuDI/AAAAAAAAAWk/1nhrV2NS04A/s320/KumpulanKarya.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-y2h9NTWMZ-I/TwJXduoO1YI/AAAAAAAAAWs/7C7QwzucBHA/s1600/DSC03509.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-y2h9NTWMZ-I/TwJXduoO1YI/AAAAAAAAAWs/7C7QwzucBHA/s320/DSC03509.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-IKr2iDFnM1Y/TwJZPogaZ7I/AAAAAAAAAW8/8i52RgTsD0g/s1600/DSC04664.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-IKr2iDFnM1Y/TwJZPogaZ7I/AAAAAAAAAW8/8i52RgTsD0g/s320/DSC04664.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-cSG-onViJtY/TwJZvQj_HPI/AAAAAAAAAXM/yy3_Ttz4jlA/s1600/DSC04929.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-cSG-onViJtY/TwJZvQj_HPI/AAAAAAAAAXM/yy3_Ttz4jlA/s320/DSC04929.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-fs9rnVzXQtU/TwJZStwTUcI/AAAAAAAAAXE/uWnO5-iI76w/s1600/AsusG73Jh.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-fs9rnVzXQtU/TwJZStwTUcI/AAAAAAAAAXE/uWnO5-iI76w/s320/AsusG73Jh.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-TywdEnHQYSY/TwJYgKW9kXI/AAAAAAAAAW0/avB1Idz2ORQ/s1600/14112011123.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-TywdEnHQYSY/TwJYgKW9kXI/AAAAAAAAAW0/avB1Idz2ORQ/s320/14112011123.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;PENDOKUMENTASIAN, PENELITIAN, PENGHARGAAN&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;Mahasiswa Jurusan Seni Rupa, kerap merasa "kehabisan" data penelitian. Dalam banyak kassus, ketika mereka akan melakukan penelitian untuk program skripsi mereka, ada saja keluhan tentang bahan penelitian yang akan mereka olah.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;Pencarian data tentang benda-benda budaya fisik, benda seni rupa, bisa ditelusuri dari beragam zaman dan keberadaan manusia. Masih banyak karya peninggalan masa lalu yang bisa dikaji sebagai bahan penelitian. Kubur batu, bangunan tempat ibadat, bangunan tempat tinggal, perabot rumah tangga, alat transportasi, alat-alat hiburan, dan begitu banyak jenis benda seni rupa yang sangat menarik, bisa dikaji dari berbagai sudut pendekatan kajian. Mungkin dari sisi desain, estetika, penggunaan bahan, fungsi, bentuk, nilai yang dikandung, atau sekadar keberadaannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;Banyak orang yang mulai tidak memiliki rasa penghargaan atas prestasi hidup masyarakatnya. Benda-benda karya masyarakat dibiarkan tanpa pemeliharaan. Bahkan banyak benda kesejarahan yang penting diganti, dipindahkan, dijual, bahkan dihancurkan demi memenuhi kebutuhan masa kini yang --kadang-kadang-- kurang memberi manfaat besar bagi masyarakat sekitar. Minimal, upaya pendokumentasian perlu segera dilakukan. Melalui penelitian-penelitian, pencatatan benda-benda prestasi hidup masyarakat bisa ditata sebagai database hasil budaya masyarakat, yang bisa dijadikan sebagai bahan pembelajaran penghargaan bagi generasi pelanjut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562622522429490936-1761433743138286556?l=rupasenirupa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/feeds/1761433743138286556/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2012/01/penelitian-seni-rupa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/1761433743138286556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/1761433743138286556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2012/01/penelitian-seni-rupa.html' title='PENELITIAN SENI RUPA'/><author><name>Je Suryana</name><uri>https://profiles.google.com/108432985872626695684</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-MfOlICd2i3U/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAATE/IwozjZU4t_0/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-VoAqanxgotQ/TwJU7lcn4XI/AAAAAAAAAWE/qtqZeiApln8/s72-c/Jajang+Suryana-51+tahun-Singaraja-MakamBatuManado-SonyEricssonK530i.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562622522429490936.post-4934679077140970222</id><published>2011-12-10T18:39:00.001-08:00</published><updated>2011-12-12T14:59:04.927-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Betul-betul Puisi untuk Ibu'/><title type='text'></title><content type='html'>Betul-betul Puisi untuk Ibu&lt;br /&gt;Oleh Jajang Suryana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu,&lt;br /&gt;engkau hulu segala&lt;br /&gt;engkau muara segala&lt;br /&gt;samuderamu mejikuhibiniu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singaraja, 11/12/2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562622522429490936-4934679077140970222?l=rupasenirupa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/feeds/4934679077140970222/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2011/12/ibu-engkau-hulu-segala-engkau-muara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/4934679077140970222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/4934679077140970222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2011/12/ibu-engkau-hulu-segala-engkau-muara.html' title=''/><author><name>Je Suryana</name><uri>https://profiles.google.com/108432985872626695684</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-MfOlICd2i3U/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAATE/IwozjZU4t_0/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562622522429490936.post-8154382837677399901</id><published>2011-10-02T02:59:00.000-07:00</published><updated>2011-10-02T02:59:28.832-07:00</updated><title type='text'>KILAS BALIK NUSANTARA: Jung Nusantara, Kapal Induk di Masa Silam</title><content type='html'>&lt;a href="http://kilasbaliknusantara.blogspot.com/2011/02/jung-nusantara-kapal-induk-di-masa.html"&gt;KILAS BALIK NUSANTARA: Jung Nusantara, Kapal Induk di Masa Silam&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562622522429490936-8154382837677399901?l=rupasenirupa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://kilasbaliknusantara.blogspot.com/2011/02/jung-nusantara-kapal-induk-di-masa.html' title='KILAS BALIK NUSANTARA: Jung Nusantara, Kapal Induk di Masa Silam'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/feeds/8154382837677399901/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2011/10/kilas-balik-nusantara-jung-nusantara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/8154382837677399901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/8154382837677399901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2011/10/kilas-balik-nusantara-jung-nusantara.html' title='KILAS BALIK NUSANTARA: Jung Nusantara, Kapal Induk di Masa Silam'/><author><name>Je Suryana</name><uri>https://profiles.google.com/108432985872626695684</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-MfOlICd2i3U/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAATE/IwozjZU4t_0/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562622522429490936.post-1245219759606020916</id><published>2011-09-08T16:54:00.001-07:00</published><updated>2011-12-11T13:12:33.923-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='joglo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gadang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='waktu luang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='olah pikir'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='olah rasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pikir'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='toraja'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Seni: Pikir, Rasa, dan Kesadaran Lingkungan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh Jajang Suryana&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika kegiatan seni dianggap sebagai "pengisi waktu luang", jangan anggap hal itu sebagai bentuk pelecehan. Di antara sekian banyak kegiatan seni yang telah dilakukan oleh para &lt;i&gt;sesepuh&lt;/i&gt; kita, mengisi waktu luanglah yang mereka pilih sebagai inti kegiatan. Setelah mereka jeda menggarap sawah, huma, kebun, atau setelah menyadap nira, mengail ikan, dan banyak kegiatan nafkah hidup lainnya, barulah mereka berkesenian. Mereka memanfaatkan waktu luang untuk kemaslahatan hidup. Bukan sekadar &lt;i&gt;ngerumpi!&lt;/i&gt; Dan, dari &lt;b&gt;kegiatan memberi makna waktu luang dengan perbuatan yang maslahat, penuh &lt;i&gt;keikhlasan, arif terhadap lingkungan, serta serius dalam mengelola pikiran&lt;/i&gt;, mereka bisa melahirkan rumah adat Joglo (Jawa Tengah), Julang Ngapak (Sumedang), Toraja (Toraja), Gadang (Padang), &lt;/b&gt;dan sejumlah rumah adat yang penuh simbolisasi dan ramah lingkungan! Begitupun ketika mereka merespon kebutuhan lingkungan sehari-hari dengan mengadakan perangkat keperluan hidup utama mereka. Lahirah aneka perabot rumah tangga, baju tradisi, senjata, alat transportasi, alat pertanian, alat perikanan, alat permainan sehat, kontainer bahan makanan, dan asesoris kehidupan mereka yang menawan (tarian, nyanyian, cerita edukatif, petuah, kalimat hikmah, dan aneka kekayaan lainnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa bilang semua yang mereka hasilkan hanya sekadar produk olah rasa semata? Semua karya mereka sarat dengan hasil proses olah pikir, olah rasa, dan olah kesadaran lingkungan. Oleh karena itu, karya-karya mereka selain menyatu dengan lingkungan, juga berterima dengan pikiran, rasa, dan kondisi lingkungan &amp;nbsp;masyarakat pendukungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika teori modernisme menguasai pikiran para ahli seni "sekolahan", teori-teori itu telah banyak mengubah pola pikir, rasa, dan kesadaran sosial sebagian masyarakat. Dengan berkendaraan teori Barat itu, lebih khusus terkait dengan teori seni, para anak muda lulusan sekolah seni berbangga hati, bahwa teori yang mereka kuasailah yang paling sahih, valid, dan empirik. Tudingan mereka terhadap para sesepuh sangat melecehkan. Bahkan untuk urusan penyebutan profesi seni pun mereka pilah sesuai "selera" mereka. Ketika telunjuk terarah kepada mereka, sebutan senimanlah yang mereka gunakan. Tetapi, ketika telunjuk mengarah kepada para sesepuh, orang desa, pegiat seni yang tanpa sekolahan, mereka menyebutnya sekadar artisan (istilah pinjaman dari teori Barat), perajin, tukang, juru, dan sejumlah sebutan yang menunjukkan posisi lebih rendah daripada sebutan seniman (artist). Dan, mereka amat bangga dengan segala milik bangsa lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Insya Allah, akan dilanjutkan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562622522429490936-1245219759606020916?l=rupasenirupa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/feeds/1245219759606020916/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2011/09/seni-pikir-rasa-dan-kesadaran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/1245219759606020916'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/1245219759606020916'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2011/09/seni-pikir-rasa-dan-kesadaran.html' title=''/><author><name>Je Suryana</name><uri>https://profiles.google.com/108432985872626695684</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-MfOlICd2i3U/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAATE/IwozjZU4t_0/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562622522429490936.post-7857896612602810577</id><published>2011-04-26T21:02:00.002-07:00</published><updated>2011-04-26T21:06:12.313-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='komik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='masdiono'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gambar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tabrani. ekspresivitas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='percaya diri anak-anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wayang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='McCloud'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='relief'/><title type='text'>SEKALI LAGI, TENTANG KOMIK</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh Jajang Suryana&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;Ada sejumlah pengertian yang bertalian dengan pengertian komik. Pengertian-pengertian ini adalah pengertian yang sangat mendasar, pengertian umum. Pada perkembangan masa kini, pengertian tadi mungkin berubah, berkembang, meluas, atau bahkan melenceng dari pengertian umum. Hal tersebut tidak akan dipernasalahkan terlalu jauh, karena perubahan merupakan hal yang wajar, biasa,&amp;nbsp;bahkan menjadi keharusan untuk menunjukkan perubahan-perubahan sejalan berubahnya pola pikir dan tindak manusia.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tahun 1951-an, Poerwadarmita penyusun &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Logat Ketjil Bahasa Indonesia,&lt;/i&gt; belum memasukkan istilah komik dalam kamus yang disusunnya. Bisa diperkirakan bahwa peristilahan tadi masih dianggap asing. Dalam kamus yang disusun lebih kini, istilah komik tersebut sudah umum dikenal. Misalnya, dalam &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI)&lt;/i&gt; akan kita temukan pengertian komik sebagai "bacaan bergambar, cerita bergambar (dl majalah, &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; kabar atau berbentuk buku)" (Poerwadarminta, 1991: 517). &lt;st1:place w:st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; penyusun &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)&lt;/i&gt; menyebut pengertian komik sebagai "cerita bergambar (dl majalah, &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; kabar, atau berbentuk buku) yang umumnya mudah dicerna dan lucu" (Moeliono, djp., 1990: 452). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Istilah komik berasal dari bahasa Inggris (Amerika?) &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;comic,&lt;/i&gt; yang berarti cerita atau&amp;nbsp;buku komik; yang bersifat gembira (Echols dan Shadily, 1990: 129), cerita bergambar yang lucu (Wojowasito, 1985: 75). McCloud (2001) dalam buku &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Understanding Comics &lt;/i&gt;yang unik, karena disusun dalam &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; penceritaan buku komik, memaparkan tentang komik secara lebih lengkap. Disebutkan, bahwa pengertian komik: "Gambar-gambar serta lambang-lambang lain yang terjukstaposisi (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;jukstaposisi = berdekatan, bersebelahan&lt;/i&gt;) dalam turutan tertentu, untuk menyampaikan informasi dan/atau mencapai tanggapan estetis dari pembacanya" (McCloud, 2001: 9).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kini, yang disebut buku komik, tidak semata berisi cerita gembira, lucu, dan mudah dicerna. Cerita-cerita komik masa kini banyak yang menggambarkan kekerasan, keruwetan, kebengisan, kesadisan, bahkan kecabulan. Buku komik buatan Amerika, misalnya keluaran perusahaan Walt Disney, dikenal dengan cerita-cerita lucu tokoh-tokoh binatang seperti Donald Duck, Mickey Mouse, Pluto, Simba, Garfield, dan Tom and Jerry. Lain halnya dengan komik-komik keluaran perusahaan Warner Bros, sekalipun tokoh-tokoh ceritanya adalah binatang, sejumlah tokoh itu digambarkan kasar dan jahat. Sejumlah komik keluaran perusahaan Perancis (seperti cerita Asterix dan Scooby Dou), Brussel (seperti cerita Smurf ), dan Belgia (seperti cerita Tintin), cenderung menceritakan petualangan detektif atau jagoan masa lalu; kadang-kadang bercampur dengan cerita hantu yang lucu tetapi menegangkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sehubungan dengan kondisi tersebut, McCloud menambahkan pemerian lainnya tentang istilah komik. Dia memasukkan tokoh-tokoh pahlawan super berkostum warna cerah (seperti Batman, Superman, X-Man, Spiderman, dan sejenisnya); kelinci, tikus, dan beruang lucu; serta "sesuatu yang merusak mental remaja". Apa yang disebutkan oleh McCloud terakhir bisa tampak pada komik-komik masa kini. Misalnya, sejumlah komik keluaran Jepang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Komik-komik buatan perusahaan Jepang memang sangat beragam. Tema ceritanya&amp;nbsp;terdiri atas cerita untuk anak-anak murni (Doraemon, Pokemon, Digimon), cerita&amp;nbsp;tentang anak tetapi ditujukan untuk orang dewasa (Crayon Shin-Chan, Detektif Conan, dan Dragon Balls), cerita remaja (Sailor Moon dan Candy-Candy), dan cerita untuk orang dewasa murni (Saint Seiya). Oleh karena itu tidak semua komik, juga film kartun --McCloud menunjukkan persamaan dan perbedaan antara komik dengan animasi, film kartun-- cocok untuk anak-anak. Kini, sudah banyak perusahaan komik&amp;nbsp;maupun film kartun, yang memproduksi karya senimannya, khusus untuk konsumsi&amp;nbsp;orang dewasa. Tetapi, karena anggapan umum bahwa komik maupun kartun adalah&amp;nbsp;untuk anak-anak, begitu banyak orang tua yang kurang memperhatikan anak-anak&amp;nbsp;pada saat membaca komik maupun menonton film-film kartun untuk orang dewasa.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Majalah &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Intisari&lt;/i&gt;, Juni 2001, memuat tulisan Andrian W.D. yang mengangkat permasalahan "Kontroversi di Balik Film Kartun". Disebutkan, salah satu film kartun yang pernah ditayangkan oleh RCTI dihentikan penayangannya karena protes para orang tua yang memandang bahwa film kartun tersebut terlalu banyak menonjolkan adegan sadis, pertumpahan darah, dan balas dendam. Hal yang mengenaskan pernah terjadi di Jepang (produk film-film animasi selalu dibuat lengkap dengan buku komiknya, sehingga cepat populer). Peristiwa buruk terjadi antara tahun 1995-1996. Seorang murid menusuk gurunya. Peristiwa itu "diduga sebagai pengaruh film kartun &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Neon Genesis Evangelion&lt;/i&gt; yang yang tengah naik daun saat itu. Di dalamnya memang ada adegan salah satu Eva menusuk lawan dengan senjata serupa pisau &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;cutter.&lt;/i&gt; Akibat kasus itu, penayangan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;anime&lt;/i&gt; (film animasi, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;pengutip&lt;/i&gt;) di Jepang dibatasi (Andrian, 2001: 115). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Di Indonesia belum tercatat kasus menggemparkan akibat pengaruh komik, hal ini&amp;nbsp;terkait dengan masih rendahnya minat baca masyarakat kita. Namun kini, setelah komik-komik asing dimunculkan lengkap dengan film animasi cerita yang sama di televisi, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;video game, play station, x-box, video compact disk (VCD), game personal computer,&lt;/i&gt; dan yang lebih memasyarakat yaitu game dalam telesel (telefon seluler) minat “pembaca” muda &lt;st1:country-region w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; tampaknya mulai bangkit.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Akibat langsung dari film animasi dan lebih khusus komik bisa tampak dari kesukaan siswa sekolah dasar mengoleksi buku komik dan meniru-niru bentuk tokoh kesayangan mereka dalam bentuk gambar. Sejumlah orang tua berada pun telah mulai menyediakan fasilitas pemutar video dan mengoleksi aneka VCD/DVD berisi cerita animasi untuk anak-anaknya. Bahkan, dengan semakin mudahnya penyewaan VCD/DVD dan pemutarnya, semakin banyak orang yang terlibat langsung dengan penikmatan cerita animasi tersebut. Bisa kita periksa hingga ke pelosok desa kecil sekalipun, tempat penyewaan VCD/DVD, bahkan penjualan VCD/DVD, bisa kita temukan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Perkembangan hasil riset tentang media penggandaan sejenis cakram, CD-R (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;compact disk recordable, &lt;/i&gt;CD yang bisa ditulisi ulang) dan CD-RW (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;compact disk recordable &amp;amp; writeable, &lt;/i&gt;dan hasil teknologi media perekaman yang lebih tinggi darinya, cakram yang bisa ditulisi maupun dihapus-ulang isinya), sangat memudahkan penggandaan film animasi maupun game di atas cakram. Apakah hal itu telah cukup dijadikan bukti bahwa masyarakat &lt;st1:country-region w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; masa kini tidak terpengaruh kondisi krisis ekonomi yang selama ini dituding sebagai penyebab keterpurukan bangsa &lt;st1:country-region w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;?&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;KEBERADAAN KOMIK DI MANCANEGARA&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dalam tulisan ini, yang dimaksud komik adalah semua jenis buku cerita yang dilengkapi gambar. Komik bukan cergam (cerita bergambar). "Dalam cergam, gambar berperan sebagai ilustrasi, pelengkap tulisan, sehingga sebetulnya tanpa hadirnya gambarpun cerita masih bisa dinikmati pembacanya" (Masdiono, 1988: 9). Selanjutnya, Masdiono menegaskan: "Dalam komik yang terjadi adalah sebaliknya, teks atau tulisan berperan sebagai pelengkap gambar, misalnya: memberi dialog, narasi, dan sebagainya. Jadi lebih tepatnya, &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;KOMIK&lt;/b&gt; adalah &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;GAMCER -gambar bercerita.&lt;/b&gt; Sehingga, sebuah komik, kalau penggambarnya &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;"canggih"&lt;/b&gt;, bisa saja tanpa kata-kata".&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Gambar cerita, menurut hasil penafsiran para ahli, telah ada sejak masa prasejarah.&amp;nbsp;Gambar-gambar yang menghiasi dinding-dinding gua di Gua Lascaux, Perancis Selatan atau di Gua Lelang-Leang, Sulawesi Selatan, tulisan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;hieroglyph&lt;/i&gt; di dinding&amp;nbsp;kuil Mesir, piktograf suku-suku Indian di Amerika, maupun goresan-goresan gambar&amp;nbsp;pada tebing di Irian Jaya, adalah gambar yang bercerita. Wayang dikenal pula pernah&amp;nbsp;mengalami masa gambar cerita. Ketika cerita wayang masa lalu ingin disampaikan&amp;nbsp;secara naratif dan bisa dibawa ke mana saja pencerita pergi, terjadilah perubahan dari&amp;nbsp;wayang batu berupa relief pada dinding candi menjadi wayang beber. Gambar pada&amp;nbsp;daun lontar yang dikenal dengan sebutan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;prasi&lt;/i&gt;, menjadi bukti yang sama tentang&amp;nbsp;gambar cerita masa lalu. "Tentu saja keahlian membuat gambar 'komik' seperti itu tidak berkembang seperti cerita bergambar yang kita kenal sekarang (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Jakarta-Jakarta&lt;/i&gt;,&amp;nbsp;No. 99, 1988: 18).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tabrani (1991: 59) menunjukkan perubahan gambar dari relief pada dinding candi&amp;nbsp;menjadi bentuk gambar cerita yang mulai dilengkapi dengan teks kunci:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;"Gambar-gambar, baik lukisan maupun relief yang menggambarkan sekuen-sekuen, masih tetap yang diutamakan dengan ditambahkan teks ringkas sebagai kata-kata kun-ci untuk masing-masing sekuen. Pada saat proses belajar mengajar, maka sang pendeta atau sang guru dengan berpegang pada kata-kata kunci kemudian menceritakan tiap sekuen secara panjang lebar dengan kata-kata lisan. Gambar-gambar tiap sekuen dibu-at sedemikian agar si penutur dapat membayangkan kembali dalam ingatannya keseluruhan kejadian sekuen itu dulu, jadi juga di sini gambar masih merupakan simbol suatu proses".&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tampaknya, cikal bakal komik yang disebut Masdiono sebagai &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;gamcer &lt;/i&gt;(gambar bercerita) telah ada sejak masa kuno, masa kerajaan-kerajaan Nusantara Lama. "Relief cerita di Candi Borobudur adalah versi 'cergam', begitupun "kropak lontar cergam seperti kisah 'Dampati Lalangon' dari Lombok" (Tabrani: &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;ibid.&lt;/i&gt;: 61).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;McCloud membahas secara menarik tentang keberadaan komik dalam bentuk yang&amp;nbsp;lain, yang ia sebut "hanyalah sebagian epik dari naskah bergambar pada jaman pra-Columbus yang 'ditemukan' oleh Cortes sekitar tahun 1519". Gambar berwarna sepanjang 36 kaki (12 meter) ini menceritakan tentang seorang pahlawan militer dan politikus besar bernama "Kuku Macan 8 Rusa". Bahkan ditunjukkan pula gambar yang ditemukan di Perancis, yaitu &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Permadani Bayeux&lt;/i&gt;, yang keberadaannya beratus-ratus tahun sebelum Cortes mulai mengumpulkan komik. Permadani itu panjangnya 230 kaki (sekitar 76 meter). Isi gambarnya tentang penaklukan Norman atas Inggris, yang berawal pada tahun 1066. Namun, hieroglif, sekalipun berbentuk gambar, menurut &amp;nbsp;McCloud, tidak bisa dikelompokkan sebagai komik, sekalipun gambar itu berbeda juga dengan abjad karena masing-masing unsur gambarnya melambangkan bunyi (McCloud, 2001: 12).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Komik "sebenarnya", berkembang di Amerika Serikat. Tetapi, nama-nama pekomik&amp;nbsp;termasyhur dari Jenewa seperti Rudolf Toffler (1966-1846) dan Willem Busch (1832 - 1908) dari Jerman, tak bisa dilepaskan dari keberadaan komik-komik modenn masa&amp;nbsp;awal. Begitupun dari Perancis dikenal nama Caran d'Ache dan Rabier, serta Tom&amp;nbsp;Brown dari Inggris. Amerika meniru apa yang&amp;nbsp; terjadi di Eropa. Pada tahun 1880-an,&amp;nbsp;ketika terjadi persaingan &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; kabar yang sangat kuat antara Joseph Pulitzer (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;New&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;York World&lt;/i&gt;) dn William Randolph Hearst (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Morning Journal&lt;/i&gt;) di &lt;st1:state w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;New   York&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;, &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; kabar-surat kabar Amerika mulai memuat komik (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Jakarta-Jakarta, op. cit.&lt;/i&gt;).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tahun 1910-an muncul kecenderungan baru di Amerika, yaitu terbitnya komik-komik yang lebih intelektual. Tahun 1924-an kecenderungan itu berubah, ke arah cerita kemasyarakatan. Tahun 1929-an, setelah muncul cerita &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Tarzan&lt;/i&gt; yang disusul lahirnya komik &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Flash Gordon, Secret Agent X-9, Jules Jim, Terry The Pirate, Prince Valiant, Batman, Phantom, &lt;/i&gt;serta &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Mandrake &lt;/i&gt;(hanya menyebut beberapa yang terkenal) adalah kecenderungan komik baru berisi cerita petualangan. Setelah itu muncul komik &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;science fiction,&lt;/i&gt; seperti &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Superman&lt;/i&gt; yang hingga kini ceritanya masih populer. Komik dengan cerita &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Mickey Mouse&lt;/i&gt; dan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Donald Duck&lt;/i&gt;, terbitan Walt Disney, baru muncul pada tahun 1931-an (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Jakarta-Jakarta, ibid: &lt;/i&gt;20).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Komik dengan tokoh cerita anak &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;badung&lt;/i&gt; (bandel) sudah muncul sejak awal abad ke-20). Di samping itu mucul pula cerita tentang tokoh anak bijak (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Jakarta-Jakarta, i&lt;/i&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;bid.&lt;/i&gt;). Tampaknya, kini komik dengan berbagai tema cerita muncul secara berbarengan dari para pekomik Jepang. Tema-tema seperti persahabatan, permusuhan, balas dendam, percintaan, anak bandel, anak bijak, anak jagoan, fiksi ilmiah, petualangan, dan berbagai jenis tema cerita lainnya, termasuk cerita dunia robot, telah begitu besar menyedot perhatian para pembaca muda. Semua komik Jepang ditata berbeda dengan komik keluaran Amerika, Perancis, dan Belgia yang cenderung tertib. Teknik banyak &amp;nbsp;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;frame&lt;/i&gt;, dilengkapi &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;close up &lt;/i&gt;bagian-bagian tertentu, kemudian dirangkai dengan ketidakteraturan pemilahan bidang gambar, tampaknya telah mengilhami para pekomik muda &lt;st1:country-region w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Pada tabloid &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Fantasia&lt;/i&gt; dan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Tablo&lt;/i&gt; misalnya, bisa dilihat kecenderungan pengaruh &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; komik Jepang tersebut. Bukan hanya &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; penggambaran saja yang ditiru, dunia robot pun telah menjadi topik cerita yang ditiru dan dikembangkan para pekomik muda &lt;st1:country-region w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Sementara pada tabloid atau koran untuk konsumsi kelas bawah, muncul kecenderungan memanfaatkan tokoh wayang, khususnya punakawan, yang di"modern"&lt;st1:state w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt; suasana ceritanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;KOMIK DI ANTARA KARYA-KARYA SENI RUPA&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mempertanyakan posisi komik di antara karya seni rupa lainnya menjadi sangat menarik. Komik termasuk karya gabungan. Beberapa kegiatan seni bisa muncul di &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Seni rupa sebagai induk kegiatan utamanya (seni gambar, seni ilustrasi, dan seni grafis), dipadu dengan unsur seni sastra. Tetapi banyak kalangan teoretisi seni rupa maupun sastra yang enggan memasukkan komik ke dalam kategori seni utama. Dalam bidang seni rupa, komik tidak dimasukkan ke dalam kelompok karya seni rupa utama. Begitu pun dalam seni sastra, cerita komik tidak dimasukkan sebagai karya sastra utama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Seni Utama&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Teori seni rupa Barat mengenal pemilahan kelompok seni rupa dalam dua bentuk: seni murni (terjemah dari &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;pure art&lt;/i&gt;), sering juga disebut dalam kelompok seni utama (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;major art&lt;/i&gt;), dan seni terap (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;applied art&lt;/i&gt;) atau tergolong seni remeh (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;minor art&lt;/i&gt;). Dalam aneka bahasan buku seni rupa yang menjadi buku acuan, yaitu buku-buku yang ditulis oleh pengarang Barat, pola bahasannya lebih mengutamakan bahasan jenis seni rupa yang dikategorikan seni murni (Jajang, 2000: 109). Oleh karena itu, jenis hasil kegiatan maupun teori tentang seni yang tidak termasuk kelompok seni murni, kurang banyak dibahas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Myers (1958: 211) menulis dalam salah satu bukunya yang kerap diacu sebagai sumber teori seni rupa Barat, yang termasuk kelompok seni murni hanya bidang-bidang kegiatan "&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;painting, sculpture, architecture, prints, and drawing&lt;/i&gt;". Sejalan dengan Myers, para penyusun ensiklopedi seperti &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Chambers's Encyclopedia, Collier's Encyclopedia, &lt;/i&gt;dan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Encyclopedia Americana&lt;/i&gt;, dalam bagian bahasannya mengupas pengelompokan seni rupa ke dalam rumpun seni utama dan seni remeh. Sekalipun &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;prints&lt;/i&gt; (seni cetak) dan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;drawing &lt;/i&gt;(seni gambar) menjadi bagian utama kegiatan pembuatan komik, dalam bahasan seni cetak dan seni gambar tidak sekali pun menyinggung bahasan komik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dalam perjalanan seni lukis modern, pelukis pop asal Amerika, Andy Warhol, mengangkat potongan-potongan gambar dari bagian cerita komik terkenal di Amerika. Kemudian potongan gambar (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;frame, sequence&lt;/i&gt;) itu ditiru-besarkan di atas kanvas. Perbuatan Warhol sempat mengundang polemik besar dalam menyambut atau menolak gerakan seni rupa pop. Tetapi, apa yang telah dilakukan oleh Warhol tidak bisa menempatkan komik (sebagai bagian ungkapan yang diangkat Warhol) secara utuh masuk ke dalam kelompok seni murni, atau sekadar mengangkat komik menjadi bahan bincangan penting.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Seni Remeh&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Yang termasuk katergori seni remeh banyak sekali, yaitu jenis kegiatan seni rupa di&amp;nbsp;luar kelompok seni murni, seni utama. Myers (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;ibid.&lt;/i&gt;) menulis sebagai berikut: "minor&amp;nbsp;or applied art: furniture, textiles, ceramics, etc", tanpa terlalu banyak memberi kupasan. Pengabaian bahasan tadi, tampak juga dalam sejumlah buku lain yang telah&amp;nbsp;menjadi buku acuan utama teori seni rupa &lt;st1:country-region w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Oleh karena itu, sulit sekali kita&amp;nbsp;menemukan buku yang isinya merupakan bahasan mendalam tentang seni-seni terapan ini yang digandengkan dengan bahasan seni murni. Komik, sebagai kelompok seni remeh, berada pada posisi tersebut, posisi yang kurang diperhitungkan keberadaannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Yang menarik adalah sikap penulis buku antropologi seni. &lt;st1:place w:st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; penulis buku ini tidak&amp;nbsp;memilah seni rupa berdasarkan murni-terap atau utama-remeh. Semua jenis seni rupa&amp;nbsp;dibahas secara lengkap sebagai kajian yang memiliki kesamaan posisi. Hal yang sama bisa kita temukan juga dalam bahasan-bahasan sosiologi seni.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Penghargaan terhadap Pelaku Seni&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pengelompokan murni-terap atau utama-remeh dalam seni rupa berawal dari sikap&amp;nbsp;penghargaan terhadap kelompok pelaku seni. Pelaku seni murni adalah para pekota,&amp;nbsp;pelaku seni akademisi. Mereka penentu kebijakan-kebijakan teori seni, karena merekalah yang menulis buku acuan seni. Sikap para teoretisi seni rupa, khususnya,&amp;nbsp;kurang memiliki penghargaan yang baik terhadap para pelaku seni non-akademisi.&amp;nbsp;Oleh karena itu, muncullah penyebutan yang berbeda antara pelaku seni akademisi&amp;nbsp;dengan non-akademisi. Di dunia seni rupa Barat kental sekali pembedaan tersebut,&amp;nbsp;yang bersumber dari pembedaan kelas sosial pelaku seni. Teori seni rupa Barat dengan segala latar belakang kondisi budayanya, diserap secara lengkap oleh para ahli teori seni rupa &lt;st1:country-region w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Istilah &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;seniman&lt;/i&gt; dan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;perajin&lt;/i&gt; lahir dari pembedaan kelas sosial pelaku seni rupa. Seniman, terjemah dari kata &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;artist&lt;/i&gt;, adalah sebutan untuk pelaku seni akademisi, orang kota. Sebaliknya, perajin yang merupakan padan kata dari &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;craftsman&lt;/i&gt;, adalah untuk menunjuk pelaku seni non-akademisi, kebanayakan orang desa. Begitu di Barat, begitu &amp;nbsp;juga di lingkungan masyarakat seni &lt;st1:country-region w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Pekomik, dalam teori seni rupa Indonesia hanya dihargai sebagai perajin saja, yaitu pelaku seni yang karyanya terkait dengan urusan pesanan, jual-beli, dan sejenisnya. Alasan itulah yang kerap ditunjuk sebagai pembeda antara kegiatan kelompok yang mengaku seniman dengan perajin. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Padahal, yang mengaku sebagai seniman, pelaku seni murni, pengusung seni utama,&amp;nbsp;sejak masa &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;boom seni lukis&lt;/i&gt; tahun 1980-an (Jajang, 2000: 85; &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Jakarta-Jakarta&lt;/i&gt;, 1989:&amp;nbsp;9) hingga kini, sibuk mengatur strategi penjualan karya. Mereka adu pintar mengatur&amp;nbsp;strategi pasar melalui kurator, galeri, dan media &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Menjual karya, yang dahulu&amp;nbsp;dianggap "aib bagi seniman" dan menjadi titik pembeda yang mereka kedepankan&amp;nbsp;sebagai dinding pemisah antara mereka dengan para perajin, malah kini mereka&amp;nbsp;banggakan sebagai suatu keberhasilan!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Komik dan Gambar Buatan Anak-anak&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pada tahapan tertentu anak-anak usia sekolah dasar menggambar dengan cara meniru. Mereka ingin menguasai cara menggambar objek secara mirip. Dalam beberapa hasil observasi di lapangan, anak usia 5-9 tahun, suka meniru gambar dalam buku bacaan, gambar buatan temannya, atau juga gambar tokoh-tokoh cerita yang sangat disukainya. Anak-anak tertentu yang memiliki pembawaan khusus, pada usia 2,8 tahun sudah bisa meniru gambar tokoh cerita yang sangat disukainya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kesenangan meniru gambar tokoh cerita kesukaan, pada saat tertentu, dihambat oleh&amp;nbsp;perkembangan nalar yang semakin realis. Pertimbangan mirip dan tidak mirip mulai&amp;nbsp;muncul menjadi penghambat tingkat ekspresivitas anak dalam menggambar. Beberapa anak yang kurang percaya diri mulai suka menghapus gambar karyanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Irama perkembangan masing-masing anak tidak ada sama persis. Semua anak memiliki jalur perkembangan motorik yang berbeda. Seakalipun kesukaan akan gambar pada kebanyakan anak bisa dikatakan seragam pada usia yang sama, namun karena keragaman irama perkembangan tadi menyebabkan perbedaan-perbadaan intensitas perhatian anak terhadap kegiatan menggambar.&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562622522429490936-7857896612602810577?l=rupasenirupa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/feeds/7857896612602810577/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2011/04/sekali-lagi-tentang-komik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/7857896612602810577'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/7857896612602810577'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2011/04/sekali-lagi-tentang-komik.html' title='SEKALI LAGI, TENTANG KOMIK'/><author><name>Je Suryana</name><uri>https://profiles.google.com/108432985872626695684</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-MfOlICd2i3U/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAATE/IwozjZU4t_0/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562622522429490936.post-7084507729868632346</id><published>2011-04-18T22:18:00.005-07:00</published><updated>2011-04-18T22:39:10.301-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='seni'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sudjoko'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jakarta-jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sanento yuliman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekonomi'/><title type='text'>SENI UNTUK EKONOMI? BETUL ITU!</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Oleh Jajang Suryana&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Catatan:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;&lt;i&gt;Tulisan ini dibuat tahun 1992. Tapi, jika dibaca lagi, ternyata masih patut jika di&lt;b&gt;upload&lt;/b&gt; lagi sebagai bahan bacaan. Lumayan!&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sudjoko &lt;/span&gt;(almarhum) &lt;span lang="IN"&gt;tahun 1960 telah mengeluarkan pikiran-panjangnya tentang "Peranan Seni Dalam Pembangunan Ekonomi Negara". Prasaran tersebut disampaikannya pada Kongres BMKN tahun 1960, di Bandung. Tulisannya dimulai dengan pertanyaan yang "lucu", menyoal keunikan harga benda seni. Contoh yang dikemukakannya adalah tentang lukisan. Sudjoko mengemukakan secara cerdas, pengandaian cara jual benda seni berkaitan dengan teori ekonomi. Hal itulah, menurut Sudjoko, yang mungkin menjadi keberatan para ahli teori ekonomi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Bagi banjak orang seni adalah sesuatu jang tingkahnja sukar dimengerti; seni, misalnja, tidak dapat ditentukan harga pembeliannja dengan ukuran² jang mudah masuk akal. Suatu lukisan berukuran 1 m² jang dibuat dengan ongkos produksi 100 rupiah bisa didjual dengan harga 10.000 rupiah (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;perbandingan harga tahun 1960-an:&lt;/i&gt; pengutip), sedang untuk lukisan lain jang berukuran sama dengan ongkos produksi sama orang tjuma mau bajar paling tinggi 20 rupiah. Kelebihan produksi lukisan tidak dengan senidirinja sadja akan berpengaruh kepada harga, demikian djuga dengan kekurangan produksi. Maka perlukah seni dimasukkan dalam persoalan ekonomi? Dan apakah diatas onberekenbaarheid ini bisa dibangun suatu ilmu ataupun pemikiran serieus untuk tugas jang teramat berat, ialah pembangunan negara?" (Sudjoko, 1960: 239: &lt;i&gt;dikutip seperti ejaan aslinya&lt;/i&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada kenyataannya, apa yang digambarkan oleh Sudjoko tampak menyentak semua ahli ekonomi termasuk juga lebih khusus para seniman. Ketika heboh &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;boom&lt;/i&gt; harga lukisan tahun 1989/1990, begitu banyak pelukis, keluarga pelukis, atau pun kolektor lukisan, yang tiba-tiba menjadi orang kaya baru (OKB). Beberapa seniman di antaranya, sampai kini, lukisannya memiliki harga jual yang sangat menghebohkan. Karya mereka diantri oleh para peminatnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tetapi, berbeda dengan para pekriya yang nilai penjualan karyanya mendongkrak tingkat PDRB, nilai penjualan karya para seniman lukis yang mengalami boom tidak pernah disebut-sebut, bahkan sengaja ditutupi dari pengetahuan khalayak!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sanento Yuliman&lt;/span&gt;, juga almarhum, &lt;span lang="IN"&gt;(1992: 2) menulis:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Itulah seni lukis yang biasa dinamakan (terutma oleh para pendukungnya) '&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;seni lukis modern Indonesia&lt;/i&gt;'. Seni lukis itu banyak menerima masukan informasi dari Barat. Seni lukis itu juga tidak sedikit menerima tunjangan dari Negara, berupa penyelenggaraan pendidikan seni rupa, Anugerah Seni, kemudahan bagi pelukis untuk belajar, bepergian, dan berpameran di luar negeri, dll".&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tentang kehebohan boom seni lukis, ditulis oleh wartawan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Jakarta-Jakarta&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;, almarhum juga (majalahnya),&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt; seperti berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;"Dunia seni lukis Indonesia, makin kisruh. Bayangkan, harga lukisan karya seorang pelukis muda seperti Dede Eri Supria saja, kini laku Rp 15 juta. Dan harga karya pelukis kaliber Affandi, dalam tempo setahun ini, sudah melejit menjadi Rp 150 juta. Para pelukis pemula pun kini sudah tak rikuh-rikuh memasang tarip luar biasa aduhai. Tapi dari apa yang terjadi, ternyata peran galeri dan kolektor dalam mematok harga, sangat dominan. Senang tak senang, para pelukis Indonesia pun sudah naik taraf hidupnya jika dilihat per-harga karyanya" (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Jakarta-Jakarta,&lt;/i&gt; 1989: 9).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Akibat boom tersebut, para pelukis harus mampu bersikap profesional dalam mengelola teknik pemasaran karyanya. Semakin pintar bernegosiasi dengan berbagai kalangan “pesenang" lukisan, semakin terbukalah kesempatan menjadi kaya raya. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Jakarta-Jakarta&lt;/i&gt; melontarkan pernyataan penting untuk menyebut keberadaan para pelukis masa kini dengan "Apa boleh buat, diam-diam tanpa disadari, agaknya memang sudah ada kebutuhan baru yang harus dipunyai seorang seniman. Yakni, teknik pemasaran, dan teknik negosiasi".&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Salah satu akibat boom adalah pemalsuan lukisan. Begitu tergiurnya orang untuk memiliki karya seseorang, atau lebih tepatnya, tergiur oleh harga karya milik seorang pelukis, salah satu cara "termudah" untuk mendapatkannya adalah dengan jalan meng&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;copy&lt;/i&gt; karya yang diinginkan. Banyak lukisan palsu yang beredar di antara para kolektor. Tentu saja, pelukis yang mengetahui karyanya dipalsu orang lain, reaksinya bermacam-macam. Affandi, ketika mengetahui banyak lukisannya yang ditiru, hanya sekadar berkomentar: "Kasihan kolektornya menyimpan lukisan yang tak asli". Tetapi ada juga yang mencak-mencak hingga berusaha memperkarakannya. Namun kare-na perangkat hukum di Indonesia belum menunjang kebutuhan tuntutan perkara seperti itu, pemalsuan terus saja berlanjut tanpa takut tersangkut hukum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di samping itu, sejumlah pelukis, termasuk pelukis "kagetan" --karena berangkat dari lingkungan di luar seni lukis, di antaranya dunia sastra-- banyak yang memanfaatkan kondisi boom. Boom sendiri direspon oleh masyarakat penikmat seni Indonesia tertentu sebagai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;kesempatan baik untuk memiliki karya seni lukis. Tingkat kemampuan ekonomis sekelompok masyarakat negara Indonesia telah begitu tinggi. Terbukti, dalam berita lelang di Singapura, pembeli lukisan yang berharga lelang melangit adalah dari Indonesia. Hasil olah seni kini telah menjadi objek komoditi yang sangat menjanjikan. Tetapi, ketika karya bidang seni musik, tari, sastra, atau pertunjukan, biasa diuangkan tanpa masalah, benda-benda seni rupa masih tetap "dirahasiakan" nilai penjualannya. Padahal, para seniman telah menjadi &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;teladan bidang ekonomi yang patut ditiru. Pendidikan seni telah terbukti bisa menjamin kemampuan ekonomis seseorang!&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sudjoko, yang prasarannya dimuat dalam majalan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Budaja 6, &lt;/i&gt;Juni 1960, Tahun ke-IX,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;halaman 239-250, mengungkapkan tujuh hal yang bertalian antara masalah seni dengan bid&lt;/span&gt;a&lt;span lang="IN"&gt;ng ekonomi. Ketujuh hal itu, jika kita periksa, masih relevan dengan kebutuhan perkembangan seni rupa (khususnya) dan ekonomi masa kini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;"I. &lt;u&gt;Memperbanjak&lt;/u&gt; &lt;u&gt;lapang&lt;/u&gt; &lt;u&gt;usaha&lt;/u&gt; &lt;u&gt;dan&lt;/u&gt; &lt;u&gt;usaha&lt;/u&gt; &lt;u&gt;dan&lt;/u&gt; &lt;u&gt;kesempatan&lt;/u&gt; &lt;u&gt;bekerdja&lt;/u&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;dengan sendirinja masuk dalam rentjana pembangunan ekonomi kita. Industri-industri ringan maupun berat harus ditambah dan didirikan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita, untuk mengurangi djumlah kebutuhan jang harus diimport, dan untuk melajani kebutuhan-kebutuhan luarnegeri. Disini seniman membantu dalam menjuburkan kehidupan perusahaan dan mempopulerkan "Buatan Indonesia" atau "Made in Indonesia". Disamping itu seni sendiri mendjadi sumber dan pentjipta suatu matjam kebutuhan setiap manusia, ialah kebutuhan akan seni.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;II. &lt;u&gt;Usaha&lt;/u&gt;-&lt;u&gt;usaha&lt;/u&gt; &lt;u&gt;untuk&lt;/u&gt; &lt;u&gt;memperbesar&lt;/u&gt; &lt;u&gt;dan&lt;/u&gt; &lt;u&gt;mempertjepat&lt;/u&gt; &lt;u&gt;penjaluran&lt;/u&gt; &lt;u&gt;dan&lt;/u&gt; &lt;u&gt;pendjualan&lt;/u&gt; &lt;u&gt;barang&lt;/u&gt; banjak bergantung kepada seni. Propaganda berupa tulisan, gambar, pameran dan pementasan minta fantasi, pengetahuan dan tanggung djawab besar dari seniman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;III. Dalam &lt;u&gt;memperbesar&lt;/u&gt; &lt;u&gt;volume&lt;/u&gt; &lt;u&gt;eksport&lt;/u&gt; tugas seni akan bertambah banjak sedjadjar dengan perkembangan industrialisasi dan usaha-usaha kita jang lain untuk mempergiat eksport. Selain dengan propaganda, maka seniman djuga membantu mempertinggi kwalitet barang dan memperbesar kepertjajaan luarnegeri kepada buatan-buatan kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;IV. &lt;u&gt;Tourisme&lt;/u&gt; &lt;u&gt;Indonesia&lt;/u&gt; adalah sumber valuta aisng jang kini sudah mulai mendjadi perhatian sungguh-sungguh dari Pemerintah. Peranan seni disini tidak mungkin disangsikan lagi. Dunia luar dan touris asing harus kita pikat dengan seluruh kegiatan kita dalam dunia seni. Touris-touris Indonesia sendiri tentu akan turut meramaikan kehidupan ekonomi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;V. &lt;u&gt;Memperbanjak&lt;/u&gt; &lt;u&gt;ahli&lt;/u&gt; dalam segala bidang adalah kewadjiban mutlak bagi setiap negara jang ingin madju pesat. Disini sekali-kali tidak boleh dilupakan bahwa senimanpun adalah ahli, dan jumlah ahli da lam seni harus diperbesar dengan memberi kesempatan beladjar jang banjak didalam maupun keluar negeri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;VI. Seni bisa didjadikan alat untuk &lt;u&gt;mendorong&lt;/u&gt; &lt;u&gt;semangat&lt;/u&gt; &lt;u&gt;bekerdja&lt;/u&gt; dan untuk &lt;u&gt;mentjipta&lt;/u&gt; &lt;u&gt;suasana&lt;/u&gt; &lt;u&gt;senang&lt;/u&gt; &lt;u&gt;bekerdja&lt;/u&gt;. Segala rentjana ekonomi akan gagal djikalau tidak ada kegairahan dan potensi bekerdja pada rakjat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;VII. Segala matjam &lt;u&gt;kegiatan&lt;/u&gt; &lt;u&gt;seni&lt;/u&gt; &lt;u&gt;jang&lt;/u&gt; &lt;u&gt;aktif&lt;/u&gt; &lt;u&gt;maupun&lt;/u&gt; &lt;u&gt;apresiatif&lt;/u&gt;&amp;nbsp; harus dipupuk terus menerus. Masyarakat jang berdjiwa seni adalah sumber manpower untuk keperluan pembangunan ekonomi".&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;(&lt;i&gt;dikutip sesuai dengan ejaan aslinya&lt;/i&gt;)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562622522429490936-7084507729868632346?l=rupasenirupa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/feeds/7084507729868632346/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2011/04/seni-untuk-ekonomi-betul-itu.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/7084507729868632346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/7084507729868632346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2011/04/seni-untuk-ekonomi-betul-itu.html' title='SENI UNTUK EKONOMI? BETUL ITU!'/><author><name>Je Suryana</name><uri>https://profiles.google.com/108432985872626695684</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-MfOlICd2i3U/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAATE/IwozjZU4t_0/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562622522429490936.post-2457409056380539739</id><published>2011-02-28T14:22:00.000-08:00</published><updated>2011-02-28T14:22:22.794-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nusantara'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sejarah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='missing link'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>CATATAN BUDAYA NUSANTARA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jajang Suryana&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kita begitu yakin, berdasarkan buku-buku sumber sejarah yang diwariskan oleh Belanda, bahwa bangsa &lt;st1:country-region w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; adalah murni sebagai petani. Keyakinan tersebut didukung oleh kenyataan masa kini yang dilengkapi bukti bahwa keterkaitan dengan urusan kerja-tani tampak di mana-mana. Sedangkan, kerja-laut hanya tampak pada sebagian kecil masyarakat kita. Padahal, sejak awal, ketika Belanda dan bangsa lain yang kemudian menjajah masyarakat &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; mulai memasuki kawasan Nusantara, bangsa kita adalah pelaut-pelaut ulung yang aktif.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Periksalah kawasan Kerajaan Sriwijaya. Penguasa kerajaan “perairan” itu pernah berjaya mempersatukan kawasan Nusantara. Laut, ketika itu, bukan menjadi penghalang, pemisah. Laut adalah pemersatu pulau-pulau Nusantara. Bisa diperiksa juga hasil inderaja (penginderaan jarak jauh) situs Trowulan. Ternyata, air telah menjadi sarana jalan penghubung yang sangat vital pada masa jaya kerajaan tersebut. Dan, perahu adalah kendaraan kebanggaan, seperti sepeda motor dan mobil pada masa sekarang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Keyakinan” bahwa masyarakat &lt;st1:country-region w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; adalah petani murni, memberi dampak ketidakseimbangan perhatian kita terhadap lahan hidup yang menjadi kekayaan tak ternilai milik masyarakat &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Lahan darat seolah dibanggakan menjadi tempat paling utama yang “memberi hidup” bangsa kita. Memang alam daratan &lt;st1:country-region w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; sangat bisa meyakinkan siapa pun bahwa bangsa kita adalah petani ulung, pengolah tanah yang piawai. Tetapi kenyataannya, bangsa kita hanya petani gurem yang cenderung dijerat para tengkulak. Apalagi ketika pemberlakuan “penyeragaman” pola tanam dan jenis tanam berlangsung sangat politis. Para petani hanyalah menjadi objek penderita bagi keuntungan para pemodal, para orang &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Cokelat ditanam di mana-mana, hasilnya karena terlalu banyak kemudian ditimbun. Oleh karena itu harganya menjadi murah. Begitu pun dengan nasib pohon cengkih, vanilli, jeruk, kelapa sawit, dan bahkan padi. Orang Papua, misalnya, diharuskan menanam padi. &lt;st1:place w:st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; transmigran ahli mengolah sawah dikirim ke tanah Cenderawasih. Alasan penganekaragaman sumber hayati menjadi pegangan utama Pemerintah saat itu. Masyarakat yang terkena proyek transmigrasi bisa berganti pola makan, meniru pola makan para transmigran, atau dipaksa menyesuaikan diri dengan pola proyek. Yang dulu makan sagu, kini makan nasi. Masyarakat kota-kota besar, lebih khusus masyarakat ibu &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, tetap dalam pola lama. Kalaupun berubah, perubahannya mengacu pola Barat, pola yang kurang membumi. Pola “kesatuan” telah disistematisasikan menjadi pasungan bagi ke&lt;i&gt;bhinneka&lt;/i&gt;an. Begitu menurut para ahli.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Peribahasa lama yang berbunyi “bebek berenang mau minum mencari air”, jika dikaitkan dengan keberadaan bangsa &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; menjadi sangat pas. Gambaran menyakitkan itu telah tampak pada para petani &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang piawai mengolah tanah tetapi tak bisa mendapatkan hasil yang memadai untuk memenuhi kebutuhan hidup. Entah mengapa, beras harus didatangkan dari Jepang dan &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;Thailand&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Begitu pun hasil proyek sensasional IPTN kemudian hanya untuk ditukar kedelai. Yang paling menyakitkan bagi para petani, ketika mereka panen, ada saja oknum orang kaya, oknum pemerintah, yang merusak “kebahagiaan” para wong cilik itu, misalnya dengan mengimpor beras dari luar negeri. Masya Allah!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Soekarno pernah mengingatkan kondisi negara kita dengan istilah kawasan yang “hijau royo-royo”. Ya, negara yang tanahnya hijau royo-royo itu tidak memberi kesempatan hidup makmur kepada pemiliknya. Kecintaan terhadap tanah Pertiwi yang gemah ripah loh jinawi, juga tidak tampak. Begitu banyak para penikmat kehidupan instan yang sangat suka membabat hutan untuk kepentingan instan juga, untuk kepentingan sesaat, kepentingan diri sendiri dan kelompoknya yang sangat terbatas. Itulah, sejak dahulu kita belum betul-betul punya konsep pendidikan penghargaan yang mantap, yang bisa menumbuhkan rasa tanggung jawab kepemilikan terhadap bumi pertiwi. Yang banyak tumbuh justru rasa memiliki yang tidak bertanggung jawab, rasa memiliki yang terlalu bersifat pribadi.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Lalu, kesadaran baru pernah dimunculkan. “Kita memiliki hamparan laut yang sangat luas. Di dalamnya terkandung aneka jenis ikan yang bisa membikin masyarakat &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; tidak akan kelaparan. “Laut itu harus diolah. Jangan sampai dijarah bangsa lain”, demikian antara lain pernyataan para ahli. Tetapi kenyatannya, sudah sekian lama laut kita menjadi ladang subur bagi para pencari ikan bangsa lain. Entah “legal” entah mencuri. Para nelayan negeri tetangga kerap rajin mengeruk kekayaan laut &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Sedangkan para nelayan asli bangsa kita, yang peralatan kelautannya masih sangat sederhana, karena tidak pernah mendapat perhatian sungguh-sungguh dari Pemerintah, keberadaannya tetap dalam kondisi miskin. Sekali waktu panen ikan, ikan-ikan tak bisa diolah. Sungguh sangat menyakitkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Konon, daerah perairan samudera sekitar Nusa Kambangan adalah lahan berkeliarannya para ikan tuna kelas terbaik. Lahan itu, tentu saja sangat menjanjikan bagi para nelayan kita. Tetapi, nelayan asing juga yang kemudian menikmatinya. Nelayan kita tetap kalah terampil, karena ketidakmampuan peralatan. Yang aneh, mengapa nelayan asing bisa mengeruk kekayaan laut kita.”Pengamanan laut kita belum optimal”, kata para ahli. Angkatan laut kita belum mampu mengamankan kawasan laut yang demikian luas bentangannya. Lalu, sampai di situ saja solusi jawabannya? Mengapa tidak diamankan saja lebih ketat (sementara) bagian bentangan samudera yang telah diketahui isi dan&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;kandungannya? Mengamankan yang sedikit, tetapi telah jelas isinya, lebih arif ketimbang menunggu memiliki kemampuan mengamanakan seluruh wilayah Nusantara yang begitu luas itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sudah sejak masa Nusantara Lama laut dianggap sebagai pemersatu, bukan pemisah nusa-antara, pulau-pulau kepulauan &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; kini. Lautan adalah bagian integral dari bumi Nusantara. Seorang raja Jawa gampang saja lari ke Sumatera atau &lt;st1:place w:st="on"&gt;Kalimantan&lt;/st1:place&gt; untuk menjadi raja di tempat pelariannya. Atau sebaliknya. Kedekatan penghuni pulau-pulau Nusantara, dulu, sangat erat. Bahkan, mereka sekerabat. Ya, laut telah begitu akrab dengan mereka. Kini, setelah laut hampir banyak dilupakan, kekerabatan itu hampir-hampir terputus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Catatan sejarah bangsa &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; memang tak lurus. Berita yang dikandung buku-buku informasi kesejarahan tak jernih. Bahkan ada sejenis &lt;i&gt;missing link.&lt;/i&gt; Generasi masa kini menjadi bingung menelusuri daerah &lt;i&gt;missing&lt;/i&gt; tersebut. Bisa diperiksa, catatan sejarah tentang kerajaan masa lalu hanya menceritakan raja Anu berkuasa dari tahun sekian hingga tahun sekian. Raja Anu yang lain wafat tahun sekian, diganti oleh raja Anu keturuanannya. Peninggalan kerajaan Anu adalah bangunan megah, patung-patung, atau benda-benda yang kelihatan saja. Sementara cerita tentang kepiawaian masyarakatnya, kekayaan negaranya, kemajuan ekonominya, ketangkasan pikir masyarakatnya, tidak pernah diceritakan dalam buku-buku sejarah tersebut. Kita telah kehilangan catatan penting tentang masyarakat &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; masa lalu. Akanklah catatan tak lengkap itu diwariskan lagi kepada generasi setelah kita?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562622522429490936-2457409056380539739?l=rupasenirupa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/feeds/2457409056380539739/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2011/02/catatan-budaya-nusantara.html#comment-form' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/2457409056380539739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/2457409056380539739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2011/02/catatan-budaya-nusantara.html' title='CATATAN BUDAYA NUSANTARA'/><author><name>Je Suryana</name><uri>https://profiles.google.com/108432985872626695684</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-MfOlICd2i3U/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAATE/IwozjZU4t_0/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562622522429490936.post-266929728228725940</id><published>2010-11-21T22:29:00.001-08:00</published><updated>2010-11-21T22:30:01.644-08:00</updated><title type='text'>PEMBELAJARAN SENI RUPA BERBASIS KEARIFAN LOKAL</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Oleh Jajang Suryana&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;ABSTRAK&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Seni sebagai alat pendidikan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; merupakan kunci kegiatan pembelajaran kesenian di sekolah umum. Tujuan utama pendidikan pada hakikatnya untuk mengantarkan anak menyelesaikan tahap-tahapan tugas perkembangannya. Perkembangan fisik, psikis, nalar, rasa, etika, perilaku, kesadaran sosial, kesadaran lingkungan, dan tata nilai, masing-masing pembinaannya dititpkan kepada bidang-bidang ajar tertentu. Semua bidang ajar tersebut hanyalah &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;alat,&lt;/b&gt; bukan &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;tujuan.&lt;/b&gt; Oleh karena itu, pembelajaran pendidikan seni, sama seperti pembelajaran pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, pendidikan olah raga, pendidikan keilmualaman, dan bidang ajar pendidikan yang lainnya. Semua bidang kajian memiliki fungsi penting sendiri-sendiri dalam melengkapi pengembangan tugas perkembangan anak. Melalui bidang-bidang ajar tersebut, anak-anak akan mendapatkan pembiasaan yang menunjang penyelesaian masing-masing tugas perkembangannya. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Kata kunci: &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;tugas perkembangan; alat; tujuan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;PENDAHULUAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Masalah pendidikan seni rupa, di Indonesia, masih dianggap sangat sepele. Bukti tentang hal itu bisa dilihat berupa kebijakan Pemerintah dalam menentukan isi kurikulum pendidikan seni --pendidikan seni rupa merupakan bagian utama di dalamnya. Pendidikan seni rupa masih dianggap sebagai “selingan, pengisi waktu kosong”, sementara masalah seni secara umum belum juga dianggap sebagai masalah ilmiah. Kesenian belum dikategorikan sebagai bidang kajian keilmuan sebagaimana matematika, fisika, biologi, sosiologi, antropologi, hukum, ekonomi, dan sebagainya. Oleh karena itu, perhatian khusus kepada keberadaan kemampuan mengolah kegiatan seni yang dimiliki oleh masyarakat, baru ditanggapi sebagai suatu anugerah khusus dari Tuhan kepada orang-orang tertentu. Sementara pengajaran tentangnya masih dianggap sebagai hal yang sangat eksklusif, hanya untuk keperluan orang-orang tertentu, orang-orang yang memiliki pembawaan seni semata. Di sisi lain, penyelenggaraan pendidikan seni yang ideal masih dianggap sebagai “pendidikan yang amat mahal”, sementara “hasil utama kegiatannya belum setara dengan kepraktisan hasil pendidikan eksakta dan masalah-masalah sosial kemasyarakatan yang umum”.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Segala masalah yang berhubungan dengan bidang keilmualaman, seperti matematika, fisika, kimia, dan biologi, secara &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;sombong&lt;/i&gt; ditempatkan dalam posisi bidang kajian utama yang paling rasional. Segala sesuatu yang rasional kemudian dihargai dengan nilai sangat tinggi. Bukti penghargaan tersebut bisa diperiksa dalam kenyataan kekeliruan yang lazim pada masa kini. Penyediaan jatah jam pembelajaran untuk bidang-bidang ajar yang “dianggap sangat rasional; yang dianggap bisa mengembangkan proses berpikir”, rata-rata sangat longgar. Bahkan, bisa dikategorikan, berlebihan. Ketidakadilan isi kurikulum itu telah menyepelekan sisi pengembangan kejiwaan siswa yang lain, sisi kreativitasnya, sisi sosialnya, sisi emosionalnya, sisi spiritualnya, sisi kesempurnaan kemanusiaanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Semua kemampuan kemanusiaan seseorang itu menuntut pemungsian semua belahan otak. Belahan otak, ternyata, memiliki fungsi yang berbeda. “Belahan otak kiri mengendalikan sisi tubuh kanan dan belahan otak kanan mengendalikan sisi tubuh kiri” (Atkinson, et. al. 1987: 62). Tahun 1861, seorang antropolog Perancis, Paul Broca, memeriksa otak seorang pasien yang menderita kehilangan kemampuan berbicara. Dia menemukan kerusakan pada bagian sebelah kiri tepat di atas celah lipatan frontal, yang kini disebut sebagai &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;daerah Broca&lt;/i&gt;, yaitu daerah produksi suara ucapan (Atkinson, et. al. 1987: 62). Kondisi kerusakan itu kerap terjadi pada orang-orang yang belahan otak kirinya dominan (bukan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;kidal kiri&lt;/i&gt;). Sekalipun ada sementara orang yang memiliki pusat ujaran pada bagian belahan otak kanan, atau ada juga yang pusat ujarannya terbagi pada dua bagian belahan otaknya, orang-orang yang normal mempunyai bagian fungsi bahasa dalam otak belahan kirinya. Di samping sebagai pusat bahasa, belahan otak kiri memiliki fungsi kalkulasi, sedangkan belahan otak kanan memiliki fungsi kemampuan konstruksi spatial dan kemampuan nonverbal (Atkinson, et. al. 1987: 64).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Bukti hasil penelitian menunjukkan bahwa “kedua belahan otak itu bekerja dalam cara yang sangat berbeda. Belahan kiri mengendalikan perilaku membaca, menulis, dan berhitung. Belahan ini bekerja dalam suatu cara yang logis dan analitik, berfokus pada setiap rincian dan mengamati ciri-ciri individualistik dan bukan pola keseluruhan. Sebaliknya, belahan otak kanan memegang peranan khusus dalam kemampuan musik dan kemampuan artistik, dalam berkhayal dan bermimpi, dan dalam mengamati pola geometrik yang rumit. Persepsinya holistik (menyeluruh), dan efektif, khususnya mengenai tugas yang membutuhkan visualisasi mengenai hubungan. Belahan kanan juga memperlihatkan lebih banyak emosi dan impulsif dibandingkan dengan belahan kiri” (Atkinson, et. al. 1987: 70). “Individu yang sangat logis, analitik, dan verbal mempunyai fungsi belahan otak kiri yang sangat efisien, sedangkan mereka yang luar biasa sifat holistiknya, musikal, intuitif, dan impulsif mempunyai kelebihan yang seimbang pada belahan otak kanannya” (Atkinson, et. al. 1987: 70).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Kreativitas terkait dengan kemampuan otak seseorang. Mengacu kepada fungsi belahan otak kiri dan kanan yang berbeda, maka kreativitas, pada dasarnya, bisa muncul pada setiap orang. Terbukti di lapangan, begitu banyak hasil gubahan terkait dengan bidang hasil fungsionalisasi belahan otak kiri maupun kanan. Banyak karya kebahasaan yang telah dihasilkan. Begitupun karya yang sifatnya kalkulatif seperti pada rumus matematika, fisika, dan kimia yang sangat logis, terinci, dan analitik. Di samping itu, sudah pasti, banyak karya seni yang telah dihasilkan. Banyak juga karya desain konstruktif yang holistik, yang mengandalkan fungsi ruang spatial pada belahan otak kanan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Belum disadari oleh banyak orang, bahwa proses penggubahan segala sesuatu bertalian erat dengan begitu banyak hal, tidak sekadar dengan masalah pikir semata. Sebagaimana karya matematika, karya seni lahir melalui fungsionalisasi pikir dan rasa seseorang. Perimbangan peranan pikir dan rasa dalam penggubahan apa pun, sulit dikalkulasi. Sangat menarik dikemukakan di sini, apa yang dikumpulkan Brewster Ghiselin (1983) tentang proses kreatif beragam orang dari berbagai bidang kajian. Bunga rampai yang disusun oleh Ghiselin ini sangat penting untuk menunjukkan bahwa proses kreasi semua bidang kegiatan memiliki jalur yang sama, bahkan proses yang sama. Proses kreasi rumus fisika, kimia, matematika, sama dengan proses kreasi dalam penggubahan karya seni lukis, sastra, musik, dan lain-lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Satu sikap menyepelekan golongan masyarakat seni tertentu telah lama tumbuh dan dipelihara oleh para seniman akademisi. Sikap yang merupakan hasil comotan dari cara berpikir dan bertindak teoretisi seni Barat itu, telah meracuni masyarakat seni Indonesia. Mereka melecehkan kedudukan seniman otodidak, seniman “kampung”. Para seniman di luar kelompok akademisi, disebut oleh mereka sebagai “artisan (istilah pinjaman), perajin, tukang”, dan segala nama sebutan yang kurang terhormat. Padahal, begitu banyak kearifan lokal yang digubah oleh para tukang, para &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;kipu&lt;/i&gt;, para juru, para pendahulu, para leluhur, yang hingga kini belum dapat tergantikan kedudukan nilai maupun fungsinya. Tanpa melalui sekolah formal, tanpa mengolah teori seni yang banyak diagungkan oleh para akdemisi, mereka bisa menghasilkan prestasi hidup yang sangat ramah lingkungan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Berapa banyak peralatan hidup sehari-hari masyarakat kita yang telah dibuat berdasarkan kepekaan mereka dalam merespon lingkungan. Mereka bisa membuat jembatan dan rumah tradisional tanpa pernah belajar di Fakultas Arsitektur dan Sipil. Mereka bisa membuat perkakas rumah tangga yang ramah lingkungan tanpa pernah belajar di Fakultas Desain. Mereka pun bisa melahirkan aneka kearifan lainnya tekait dengan kepekaan hitungan (jengkal, depa, hasta, dan sejenisnya), menemukan ramuan tradisional untuk upaya penyembuhan, membuat sarana transportasi laut yang hebat seperti perahu Phinisi, membuat peralatan pertanian seperti tenggala, garu dan cangkul, atau membuat karya yang penuh dengan kelembutan hati dan perbuatan seperti batik, tembang, musik, wayang, topeng, atau pun cerita penuh petuah (sastra dan tonil). Semua kearifan tadi masih belum banyak yang diindahkan sebagai kebanggaan prestasi bangsa, atau sekadar bahan ajar yang diwariskan kepada generasi muda. Bahkan, pencatatannya pun tidak banyak, atau tidak ada! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Segala prestasi hidup yang diejekkan oleh para seniman Barat sebagai hasil kegiatan waktu luang itu, sebetulnya adalah hasil kegiatan sungguh-sungguh, sepenuh hati, lengkap dengan kecintaan terhadap lingkungan, yang melahirkan karya-karya prestisius. Belum ada temuan baru sejenis rumah Gadang, rumah Batak, rumah Toraja, rumah Betawi, rumah Sunda, rumah Joglo, rumah Bali, selain upaya modifikasi atau penambahan-penambahan asesorisnya. Tidak ada peribahasa baru yang dilahirkan pada masa kini sebagai refleksi positif atas temuan-temuan penanda, simbol, ataupun gambaran kondisi lingkungan. Belum lahir konsep tradisi baru yang kental mencirikan suatu daerah tertentu, selain melanjutkan apa yang pernah digubah dan dikonsep olah para leluhur. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Penelitian tentang keterkaitan kegiatan seni dengan kecerdasan seseorang mulai banyak dilakukan orang. Seni sangat mempengaruhi aktivitas otak kanan, yang selama ini penggunaannya belum optimal. Tiadanya pelajaran kesenian bisa menghambat perkembangan otak anak-anak (Williams, 1977). Orang-orang yang memiliki daya cipta tinggi --peningkatan daya cipta bisa dilakukan melalui kegiatan-kegiatan seni-- memiliki kesempatan “hidup” yang lebih lama ketimbang yang hanya sekadar memiliki kecerdasan tinggi. Daya cipta memerlukan lebih dari sekadar kecerdasan (Paat, 1987). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Tentang pengoptimalan fungsi otak kanan, Primadi Tabrani (2006) merumuskannya dalam Limas Citra Manusia. Anugerah Tuhan kepada setiap manusia, tulis Primadi, adalah tiga kemampuan primer: kemampuan fisik, kreatif, dan rasio. Dan, kini, setelah lama orang berbicara tentang otak kiri dan kanan, talah muncul pula kondisi lain yang terkait dengan keberadaan otak tengah. Semuanya bertalian dengan kemampuan manusia dalam mengolah rasa, pikir, dan kesadaran atas lingkungannya, termasuk aktivitas seni di dalamnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;PEMBELAJARAN SENI RUPA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Materi ajar seni rupa difungsikan sebagai media ekspresi, yaitu sebagai alat untuk melatih pengalaman estetis bagi siswa. Siswa SD dan SMP adalah siswa yang --secara umum-- bukan calon seniman. Oleh karena itu, mereka mendapatkan materi ajar seni rupa sebagai media pengalaman estetis, yang akan melengkapi pengalaman mereka dalam mengolah rasa, pikir, dan kesadaran terhadap lingkungannya. Melalui kegiatan ini anak-anak bisa mendapatkan kesempatan menyatakan perasaan (berekspresi, olah rasa), sehingga mereka akan memiliki dasar kemampuan mengungkapkan pendapat (olah nalar). Lewat aneka kegiatan seni pula bisa dikondisikan pengembangan kemampuan dasar --khusus untuk anak-anak kelas rendah-- psikomotorik (gerak tangan, lengan, kaki, tubuh, dsb.), cerap (lihatan, amatan), cipta (gagasan), sosial (hubungan antarteman dan lingkungan), pikir (nalaran), dan sikap penghargaan. Pengembangan pembawaan seni, sekaligus juga pengembangan kepekaan terhadap nilai artistik dan estetik, dapat terlaksana melalui kegiatan pembelajaran bidang seni ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Dunia anak adalah &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;dunia bermain.&lt;/b&gt; Melalui kegiatan bermain, anak-anak belajar mengenal dan merasakan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;peranannya&lt;/i&gt; dalam kehidupan. Mereka bermain peranan sebagai dokter, guru, polisi, orang tua, anak, jutawan, agamawan, bahkan kadang-kadang menjadi penjahat. Semua permainan itu sangat bermanfaat bagi anak. Bermain, dalam konteks kegiatan pembelajaran, adalah kegiatan yang sungguh-sungguh dilakukan sepenuh hati, tidak sekadar memenuhi kesenangan semata. Oleh karena itu, pada dasarnya, semua kegiatan pembelajaran, harus dikondisikan dalam situasi bermain, sehingga semua kegiatan yang dihadapi anak akan menjadi “kebutuhan”, bukan menjadi beban. Dalam kegiatan bermain juga selalu muncul bentuk-bentuk keterpaduan masalah. Hal ini mengisyaratkan bahwa pada kenyataannya, sebuah kegiatan pembelajaran selalu bisa mengandung keterpaduan antarbidang ajar, yang serumpun (bidang kesenian, misalnya) maupun lintas bidang (seni-agama; seni-pengetahuan alam; seni-etika, dsb.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Pada semua kegiatan pembelajaran, untuk semua bidang ajar, memungkinkan penggunaan metode-metode pembelajaran yang umum. Metode &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;ceramah, diskusi, tanya jawab, pemberian tugas, &lt;/i&gt;dan&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt; kerja kelompok &lt;/i&gt;misalnya&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;, &lt;/i&gt;bisa saja digunakan dalam mengajarkan semua materi ajar. Tetapi, mata ajar-mata ajar tertentu menuntut kekhususan dalam kegiatan pembelajarannya. Contohnya mata ajar KERTAKES, kini Seni Budaya (dan Keterampilan).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Materi ajar KERTAKES terdiri atas materi seni rupa dan materi seni lainnya, serta materi yang menuntut keterampilan siswa. Dalam kegiatan pembelajaran seni rupa kita mengenal beberapa pendekatan yang mengacu kepada konsep &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;belajar melalui kegiatan bermain.&lt;/b&gt;&amp;nbsp; Untuk melaksanakan belajar melalui kegiatan bermain, kita memerlukan lingkungan sebagai alat pembangkit minat dan pemancing kreativitas (daya cipta) anak. Cara membangkitkan minat dan kreativitas anak bisa dilakukan dengan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;pendekatan inspiratif&lt;/i&gt; dan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;pendekatan permisif.&lt;/i&gt; Kearifan lokal milik masyarakat adalah salah satu aset bahan ajar yang tak akan pernah habis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Pendekatan inspiratif merupakan cara membangkitkan motivasi berkarya pada anak dengan menghadirkan inspirasi atau ilham. Guru bisa menceritakan suatu peristiwa rutin seperti hari raya, hari kelahiran, maupun peristiwa lain yang kejadiannya berulang pada waktu yang tetap. Guru juga bisa bercerita tentang sesuatu yang paling menarik perhatian anak. Boneka mainan kesayangan, mobil-mobilan baru, baju baru, sepatu hadiah ibu, tas biru kesukaan, dan aneka contoh topik yang berkaitan langsung dengan diri anak, bisa dijadikan sumber inspirasi bagi anak. Guru dituntut mampu memberi inspirasi kepada semua anak. Tetapi pada dasarnya, pendekatan inspiratif ini tidak selalu harus berbentuk kegiatan bercerita.Guru bisa juga melakukan sumbang saran dan memberikan alternatif, misalnya.Cara lain yang bisa digunakan dalam memancing kreativitas anak adalah dengan menggunakan pendekatan permisif. Pendekatan ini lebih banyak memberi kebebasan berkarya kepada anak sesuai dengan keinginan dan pandangan anak. Meskipun dianggap terlalu liberal oleh sementara ahli pendidikan di Indonesia, pendekatan permisif ini dalam kegiatan pembelajaran seni rupa akan sangat menolong anak dalam mendapatkan kebebasan berkreasi. Sikap permisif seorang guru tidak berarti membiarkan anak tanpa kendali. Kebebasan dimaksud adalah kebebasan terbimbing. Dalam sikap keserbabolehan, guru tetap menjadi pengarah, fasilitator, pembimbing, dan teman kegiatan anak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Daya cipta, lebih umum dikenal dengan sebutan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;kreativitas,&lt;/i&gt; keberadaannya masih kurang mendapat penghargaan. Hurlock (1978) menyebutkan banyak hal yang terkait dengan alasan pengabaian masalah kreativitas, lima peramasalahan penting di antaranya adalah sebagai berikut. Pertama, keyakinan tradisional yang menyatakan bahwa kreativitas yang biasa disebut “kegeniusan” dianggap sebagai sesuatu yang diturunkan. Oleh karena itu, dari keyakinan tersebut muncul anggapan bahwa “tidak ada yang bisa dilakukan untuk membuat orang kreatif”. Kedua, karena yang kreatif itu diyakini jumlahnya sedikit, penelitian ilmiah lebih ditujukan kepada sesuatu yang bisa mempengaruhi sebagian besar penduduk saja. Ketiga, penghargaan yang miring terhadap nilai kreativitas itu terkait juga dengan adanya sejumlah kasus di lingkungan masyarakat bahwa seseorang yang kreatif cenderung menunjukkan perilaku berbeda dari yang lain. Di sini, dalam pembinaan daya cipta, proses menjadi penting!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Penilaian karya siswa, prestasi siswa, perilkau siswa, tidak sekadar diukur dengan satu ukuran yang kaku. Hasil akhir kegiatan kerap menjadi untutan utama penilaian. Tetapi hal itu sangat merugikan keberadaan siswa. Jika penilaian hasil akhir saja yang diutamakan, jejak kerja yang pernah dilakukan oleh siswa tidak pernah tercatat. Padahal, semua kegiatan kehidupan adalah sebuah proses menuju ke satu titik tertentu. Dan, secara keseluruhan, kegiatan siswa selama mengikuti pembelajaran di sekolah, adalah sebuah perjalanan proses. Proses itu melewati shelter-shelter semester, tingkatan kelas, yang akhirnya sampai pada penentuan kelulusan siswa. Jika proses pelulusan saja yang diukur, yang diutamakan pemeriksaannya, filosofinya menjadi lain. Kondisi inilah yang sering kita saksikan dalam pengeliminasian seorang siswa melalui peristiwa ujian nasional. anyak siswa yang tidak memiliki harga apapun ketika siswa yang bersangkutan tidak bisa lolos dalam menyelesaikan soal-soal ujian akhir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;b&gt;PENUTUP&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Pendidikan yang mengutamakan proses, menuntut penetapan cara pandang yang berbeda dengan cara menilai yang sekadar mengutamakan hasil akhir. Dalam pola penilaian yang mengutamakan hasil akhir, ada penghilangan jejak hidup yang pada dasarnya adalah prestasi-prestasi yang menyertai lintasan waktu belajar siswa. Ukuran keberhasilan seseorang dalam menyelesaikan proses pembelajaran yang dilaluinya adalah penghargaan terhadap tahap-tahap kegiatan mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Hasil pembelajaran seni rupa yang kurang mementingkan proses penyadaran siswa atas lingkungannya akan melahirkan masyarakat yang kurang peduli terhadap prestasi hidupnya. Jejak-jejak prestasi yang pernah diraih oleh lingkungannya sama sekali kurang mendapat perhatian. Padahal semua tindakan adalah proses yang tidak tiba-tiba sampai di satu tujuan tertentu. Oleh karena itu, kesadaran akan sebuah proses dan jalan panjang yang dilewati dalam proses itu, seharusnya ditanamkan kepada siswa, agar siswa memiliki rasa penghargaan atas proses kerjanya, sekaligus proses kerja yang pernah dilakukan para pendahulunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;PUSTAKA RUJUKAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Alisjahbana, S. Takdir (Ed.). 1983. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Kreativitas.&lt;/i&gt; &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;: Dian Rakyat&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;De Bono, Edward. 1989. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Berpikir Lateral.&lt;/i&gt; Diindonesiakan oleh Sutoyo. &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;: Erlangga&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Garha, Oho. 1979. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Pendidikan Kesenian Seni Rupa II Untuk SPG.&lt;/i&gt; &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Atkinson, Rita L. (et. al.). 1987. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Pengantar Psikologi.&lt;/i&gt; Diindonesiakan Agus Dharma (Ed.). &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;: Erlangga&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Ghiselin, Brewster. 1983. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Proses Kreatif.&lt;/i&gt; Jakarta: &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Gunarsa, Singgih D. dan Y. Singgih D. Gunarsa (Ed.). 1986. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.&lt;/i&gt; &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;: BPK Gunung Mulia&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Hurlock, Elizabeth B. 1978. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Perkembangan Anak.&lt;/i&gt; Jilid 2. Diindonesiakan oleh Meitasari Tjandrasa. &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;: Erlangga&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Lowenfeld, Viktor &amp;amp; W. Lambert Brittain. 1970. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Creative and mental Growth.&lt;/i&gt; &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;London&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;: The Macmillan Company&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Wilson, Marjorie and Brent Wilson. 1982. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Teaching Children to Draw.&lt;/i&gt; &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Engelwood Cliffs&lt;/st1:city&gt;, &lt;st1:state w:st="on"&gt;New   Jersey&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt;: Prentice-Hall, Inc.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562622522429490936-266929728228725940?l=rupasenirupa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/feeds/266929728228725940/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2010/11/pembelajaran-seni-rupa-berbasis.html#comment-form' title='15 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/266929728228725940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/266929728228725940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2010/11/pembelajaran-seni-rupa-berbasis.html' title='PEMBELAJARAN SENI RUPA BERBASIS KEARIFAN LOKAL'/><author><name>Je Suryana</name><uri>https://profiles.google.com/108432985872626695684</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-MfOlICd2i3U/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAATE/IwozjZU4t_0/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562622522429490936.post-7310929665025697607</id><published>2010-05-21T13:40:00.000-07:00</published><updated>2010-05-21T13:40:08.089-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='vignette'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kungfu painting'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lukisan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fischer'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='drawing'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='naif'/><title type='text'>Tema-tema Lukisan</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Sebuah hasil pengamatan yang lumayan lengkap tentang tema lukisan Indonesia masa kini, dipaparkan dalam &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Modern Indonesian Art &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;yang disunting oleh Joseph Fischer (1990). Dikemukakan, tema lukisan seniman Indonesia banyak menunjukkan penggunaan kembali nilai-nilai tradisi. Fischer meninjau tampilan luar lukisan-lukisan yang terkumpul untuk Pameran KIAS (1990-1991), yaitu lukisan-lukisan yang “mewakili” angka tahun 1945-1990.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Yang ditunjuk oleh Fischer sebagai nilai tradisi adalah adanya tema-tema lukisan yang menggambarkan &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;perahu kematian, tarian, peristiwa suci, perayaan di sekitar candi-candi, kaligrafi, badan &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;dan&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt; wajah manusia tiruan topeng &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;atau&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt; wayang, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;dan terutama &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;pohon hayat &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;atau &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;gunungan.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt; Tanpa mempermasalahkan kekentalan ikatan para pelukis dengan nilai tradisi, kita bisa menemukan adanya tanda keterikatan para seniman dengan nilai tradisi miliknya, paling tidak yang pernah dikenalnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Hasil pengamatan Fischer, memang, belum bisa dijadikan sumber simpulan yang meyakinkan. Apakah ketertarikan para pelukis Indonesia itu menggambarkan kekentalan ikatan pikir-rasa-pengalaman seniman dengan nilai tradisi, atau hanya sekedar comotan simbol-simbol tradisi untuk kebutuhan mengusung nilai estetis semata?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Lukisan-lukisan yang dipajang pada pameran tertentu, atau yang digantung di galeri dan &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;artshop&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;, banyak yang bertema sama, hampir seragam. Contoh nyata, lukisan bertema penari, penari Bali khususnya, bisa kita temukan berserakan dalam kanvas-kanvas para pelukis Indonesia. Ketika mereka melukis, boleh jadi banyak di antara mereka ada yang sama sekali tidak pernah melihat penari Bali yang sebenarnya. Mungkin ada yang mengambil contohan dari foto, sejenis kartu pos. Mungkin pula dari majalah. Atau, bahkan sangat mungkin dari lukisan orang lain. Dan, ada juga yang menghayalkan objek, kemudian menjadi lukisan yang objeknya jauh dari ketepatan penggambaran.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Sementara orang berpendapat bahwa “melukis tidak sama dengan membuat foto; melukis adalah menggambar dengan memasukkan unsur emosi”. Tetapi, sekalipun emosi mendominasi lukisan, kalau lukisan tersebut masih dibebani judul atau tema tertentu yang “nyata”, penanda objek yang menjadi judul atau tema mestinya mendekati ciri-ciri sebenarnya. Paling tidak, ciri utama, esensi objek, bisa ditampilkan oleh pelukisnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Tema tertentu seringkali menjadi &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;trend.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt; Memeriksa lukisan-lukisan masa lalu, lukisan yang pernah dibuat oleh para pelukis Barat yang tersohor pada masanya, akan ditemukan juga bukti tentang hal itu. Para pelukis seperti Leonardo da Vinci, Picasso, Braque, dan Vincent van Gogh misalnya, pada suatu periode tertentu melukis dengan memilih tema yang menjadi perhatian banyak pelukis. Bukan hanya tema lukisan saja yang kemudian menjadi trend tiruan, tetapi objek lukis pun demikian. Ketika tema &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;still life&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt; digandrungi misalnya, bentuk biola dan bejana kaca menjadi objek lukisan yang paling disukai pada zaman mereka. Dan, Van Gogh, Braque, Frans Leger, Amėėde Ozenfan, melukis hal yang sama tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Banyak pelukis masa kini yang juga mengolah tema tertentu saja. Alasan mengusung nilai kepribadian yang begitu gigih diperjuangkan oleh para pelukis seangkatan Affandi, boleh jadi, kini mulai ditinggalkan oleh para pelukis muda. Banyak pelukis muda yang lebih senang bergerak dalam komunitas dibanding dalam individu. Entah meniru, entah turut-turutan, entah karena tema tertentu menjadi tema yang laku dijual, sebagai berita sensasi atau sebagai komoditi, begitu banyak pelukis muda yang mengolah tema tertentu yang sedang &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;in.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Gaya “naif”, kalau disa dibilang begitu, atau gaya “kungfu painting” (meminjam istilah Hardiman), begitu marak dalam kanvas-kanvas masa kini. Banyak pelukis mengolah bentuk dan citra kekanak-kanakan –boleh jadi karena pengaruh menangnya lukisan-lukisan bergaya sama pada lomba yang&amp;nbsp; diselenggarakan Yayasan Philip Morris belakangan ini. Banyak juga pelukis yang seperti “mengamuk” memenuhi kanvas dengan sabetan-sabetan (meminjam istilah pedalangan) kuas besar untuk menghasilkan gaya abstrak. Kemudian, untuk menunjukkan bahwa gaya tersebut berciri daerah, tidak sama dengan gaya para pendahulu gaya abstrak, dinamailah abstrak filosofis. Memang, beberapa unsur tradisi masuk ke dalam bidang kanvas. Seperti hasil pengamatan Fischer, Atau, banyak juga pelukis yang beralih mengolah gambar dengan gaya &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;vignette,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt; sebagai kegiatan &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;drawing.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562622522429490936-7310929665025697607?l=rupasenirupa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/feeds/7310929665025697607/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2010/05/tema-tema-lukisan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/7310929665025697607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/7310929665025697607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2010/05/tema-tema-lukisan.html' title='Tema-tema Lukisan'/><author><name>Je Suryana</name><uri>https://profiles.google.com/108432985872626695684</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-MfOlICd2i3U/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAATE/IwozjZU4t_0/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562622522429490936.post-6605017484958997661</id><published>2010-04-03T18:38:00.000-07:00</published><updated>2010-04-03T18:38:56.342-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sinetron'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='proses kreatif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perajin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bali'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anime'/><title type='text'>Jalan-jalan Proses Kreatif</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CJESURY%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CJESURY%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CJESURY%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin:0cm;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";	mso-ansi-language:IN;	mso-fareast-language:IN;}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:Arial;	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}.MsoPapDefault	{mso-style-type:export-only;	margin-bottom:10.0pt;	line-height:115%;}@page Section1	{size:21.0cm 842.0pt;	margin:70.9pt 3.0cm 2.0cm 99.25pt;	mso-header-margin:35.45pt;	mso-footer-margin:35.45pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Oleh&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Jajang Suryana&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Istilah proses kreatif seolah-olah hanya terkait dengan bidang kesenian. Segala bentuk penggubahan karya, desain bentuk, dan rancang bangun benda, sebagai contoh, selalu dihubungkan dengan proses kreatif, proses “penciptaan” yang dilakukan oleh seorang penggubah, seniman. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebuah buku yang ditulis oleh Ghiselin (1983), seorang profesor pada Universitas Utah, Amerika Serikat, &lt;/span&gt;isinya &lt;span lang="IN"&gt;membahas peramasalahan proses kreatif secara lengkap. Buku yang diberi judul &lt;i&gt;The Creative Process &lt;/i&gt;(dialihbahasakan oleh Wasid Soewarto dengan judul &lt;i&gt;Proses Kreatif&lt;/i&gt;)&lt;i&gt; &lt;/i&gt;berisi uraian yang lengkap tentang proses kreatif orang-orang dari berbagai bidang ilmu. Proses kreatif di antaranya dalam bidang matematika, fisika, biologi, seni musik, seni rupa, seni sastra, dan psikologi, dikemukakan Ghiselin melalui contoh-contoh pengakuan, surat, tulisan, analisis, maupun hasil wawancara. Kondisi pikir, rasa, dan ururt-urutan kegiatan dalam penggubahan karya, apapun bentuknya, pada kenyataannya mengikuti alur proses yang sama. Bahkan, bisa dikatakan “seragam”. Proses kreatif seseorang diawali dengan adanya dorongan tenaga mujarad yang membimbing seseorang untuk melakukan sesuatu. Tenaga dorong yang tidak maujud itu, disadari oleh semua yang mendapatkannya, sebagai kekuatan supranatural, kekuatan Tuhan atau Yang Dipertuhan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Proses kreatif adalah jalan penggubahan. Seorang novelis misalnya menceritakan, ketika ia akan melahirkan sebuah novel setebal 250-an halaman A4, menerima desakan pada ruang kesadarannya, pikir dan rasanya, agar segera merealisasikan “bisikan” tersebut menjadi tulisan. Proses terbentuknya kalimat, paragraf, plot, konflik, prolog dan epilog, berjalan dikendalikan tenaga gaib. Ia “hanya” menjadi alat pembentuk cerita novel semata. Bahkan, ketika novel itu berakhir alirannya, ujung cerita tidak dipaksakan oleh penulis. Ia menerima apa adanya berdasarkan bimbingan tenaga gaib itu. Tetapi, kondisi keberuntungan tersebut tidak selamanya bisa dialami sang novelis. Pada saat bimbingan gaib itu tidak ada, sang novelis merasakan kesulitan yang berat untuk membuat rangkaian kalimat. Apalagi untuk membuat cerita lengkap dengan berbagai plot, konflik, dan penjiwaan tokoh ceritanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Penggubahan karya hanya bisa secara mulus dilakukan oleh seseorang yang sudah biasa terlatih melakukan penggubahan. Seseorang yang biasa menggubah bentuk karya seni sastra, pikir dan rasanya bisa tergugah ketika membaca hasil gubahan orang lain. Seperti seorang pelukis, ia bisa terdorong keinginannya untuk berkarya ketika melihat karya buatan pelukis lainnya. Begitu pun pemusik, pematung, perancang busana, koreografer, teknolog, biolog, dan pelaku bidang-bidang lainnya, selalu tersentuh hatinya jika berhadapan dengan karya-karya sesuai bidang yang ditekuninya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sumber inspirasi yang lain adalah sesuatu yang dicari, diupayakan secara terus-menerus. Seseorang yang suka menekuni bidang kegiatan tertentu, ia akan secara sinambung mengembangkan keterampilannya. Melalui jenis pencarian tersebut didapatkan pengembangan, penemuan bentuk baru, pemalihan rupa, penggabungan model, dan sejenisnya. Ini juga bisa dikategorikan sebagai bentuk jalan proses kreatif. Proses pencarian inspirasi ini, seperti diakui oleh banyak orang, harus berjalan sinambung. Kadang-kadang, dorongan penggubahan muncul dari sumbangan pikiran orang lain. Dalam bidang kesenian, para pemikir dan pemerhati bidang seni kerap memberi alternatif pemecahan masalah terkait dengan keberadaan jenis kegiatan seni tertentu. Begitu pula para pemilik modal, para patron, perangkat pemerintahan negara, juga para guru, tercatat banyak memberi masukan alternatif pengembangan jenis, bentuk, dan hasil karya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada masa kini, aneka pengaruh bisa datang dari sumber yang sangat beragam. Perangkat media elektronik seperti televisi dan komputer internet, telah begitu banyak mendorong pertukaran ide antarpelaku kegiatan. Publikasi berupa pameran, reklame media cetak dan video, telah mempercepat penyebaran informasi berbagai bidang ilmu. Sehingga, tidak ada jalan yang tertutup untuk segala jenis agihan (pertukaran, &lt;i&gt;sharing&lt;/i&gt;) informasi. Rupa kendaraan, seperti speda motor dan kendaraan roda empat, telah mengarah kepada bentuk yang lebih&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“seragam”. Begitu juga, lebih hebat, “keseragaman” model dan kemampuan benda-benda&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;elektronika, seperti pesawat teve, ponsel, radio, &lt;i&gt;tape recorder, VCD player, MP3 player, play station,&lt;/i&gt; kamera, komputer, dan masih banyak lagi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Keseduniaan, globaliasasi, dan istilah sejenis, telah dijadikan alasan penting dalam menerima aneka perubahan arus besar dari dunia luar. Nilai budaya asing begitu mudah dan nikmat&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;diserap secara sadar oleh hampir semua lapisan masyarakat terpelajar. &lt;i&gt;Anime&lt;/i&gt; (film animasi tayangan teve dan VCD) produk Jepang misalnya, telah menjadi &lt;i&gt;trend&lt;/i&gt; baru yang diikuti oleh&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;para penikmatnya. Sejalan dengan itu, komik-komik gaya Jepang pun telah mewabah memenuhi rak toko buku dan rak buku rumah-rumah pelajar Indonesia. Semua itu diterima secara sadar demi mengikuti arus besar. Kesopanan pun telah mulai diruntuhkan dalam aneka sinetron garapan masyarakat teater Indonesia, demi meniru secara sadar sinetron gaya Mexico yang telah lebih dahulu disukai masyarakat penonton.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pengembangan bidang pariwisata, lebih khusus di Bali, telah lama memberi pengaruh besar kepada pertumbuhan pola pikir baru dalam penggubahan karya seni kriya. Sejumlah bentuk baru mengilhami para perajin sejalan dengan tuntutan para wisatawan. Pasar pun telah menjadi lingkungan baru yang harus disikapi secara toleran. Oleh karena itu, produk asing yang&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;ikut memenuhi pasar, disikapi dengan dua cara: menerima keberadaan produk secara apa adanya, atau mengambil alih pembuatan benda asing tersebut. Inilah kondisi yang kini berlangsung di lingkungan perajin Bali. Proses kreatif para perajin Bali mulai banyak berubah mengikuti pola perubahan lingkungannya, lingkungan pariwisata yang melibatkan banyak produk asing dan orang asing.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562622522429490936-6605017484958997661?l=rupasenirupa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/feeds/6605017484958997661/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2010/04/jalan-jalan-proses-kreatif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/6605017484958997661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/6605017484958997661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2010/04/jalan-jalan-proses-kreatif.html' title='Jalan-jalan Proses Kreatif'/><author><name>Je Suryana</name><uri>https://profiles.google.com/108432985872626695684</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-MfOlICd2i3U/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAATE/IwozjZU4t_0/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562622522429490936.post-4335031077393533843</id><published>2010-01-26T13:36:00.002-08:00</published><updated>2010-01-26T14:07:02.565-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='surakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mimi rasinah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bentara budaya bali'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='9 windu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jeihan sukmantoro'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='between techniques and instinctive framing'/><title type='text'>LELAKI DI ANTARA PEREMPUAN-PEREMPUAN JEIHAN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Oleh&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Jajang Suryana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Ketika seseorang menyebut Jeihan Sukmantoro, yang terbayang adalah lukisan-lukisan dengan objek perempuan yang khas. Kekhasan tokoh perempuan dalam lukisan Jeihan adalah para perempuan dengan mata misteri, mata tertutup. Jeihan sangat suka melukis tokoh perempuan, tak memandang siapa tokoh yang dilukisnya. Dari jejak karyanya, ada gadis desa, ada &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;euceu-euceu &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;(mbak-mbak) yang ‘setengah matang’, bahkan mbok-mbok yang sudah ‘kelewat matang’. Periksa saja, ada Mumum (140 x 140 cm), Anna (140 x 140 cm), Setamani (190 x 200 cm), Mimi Rasinah, dan banyak lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Ada &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;joke&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt; yang dibicarakan orang tentang permintaan seseorang agar Jeihan mau melukis tokoh perempuannya dengan mata terbuka, mata normal. Tak ada jawaban karya dari Jeihan. Para perempuan dalam bingkai lukisannya tetap memejamkan mata. Dalam posisi dan kondisi apa pun, para perempuan itu tetap dilukis dengan mata tertutup. Atau lebih tepatnya, bermata (warna) gelap tanpa bentuk biji mata. Ada yang menyebutnya dengan &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;mata mbeling.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt; Misalnya seperti mata perempuan dalam tokoh film X-Man, Storm. Jika mata Storm putih, mata perempuan-perempuan Jeihan adalah hitam, atau hitam kebiruan. Ada yang digambarkan bermain seruling, yang bermain biola, yang sekadar bergaya, dan kini ada yang dilukis berkelompok. Periksa Dua Sahabat (140 x 200 cm), Yang Tiga (200 x 200 cm), atau kelompok perempuan yang sedang menari dan bermain musik. Lukisan perempuan berkelompok ini, juga merupakan tema baru yang berbeda dari kebanyak tema lukisan Jeihan sebelumnya. &amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Ada yang lebih baru, yang menandai pameran &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Between Techiniques and Instinctive Framing: 9 Windu Jeihan,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt; di Bentara Budaya Bali. Pameran yang diselenggarakan dari 27 Desember 2009 hingga 17 Januari 2010 itu memamerkan karya Jeihan Sukmantoro yang tampilannya banyak berbeda. Dalam lukisan-lukisan yang dipamerkan, ada sejumlah lukisan dengan tokoh laki-laki. Misalnya, Ujang (190 x 225 cm).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Lukisan laki-laki karya Jeihan tampil masih tetap dalam ciri khas jejak pulasan kuas besar yang ekspresif. Karena gaya laki-laki --mungkin-- agak terbatas, maka gerak tokoh laki-laki karya Jeihan tidak sedinamis gerak tokoh lukisan dengan objek perempuan. Unsur-unsur yang melengkapi komposisi, mislanya gerak tangan, untaian rambut, cara duduk, cara menghadap, adalah kemungkinan-kemungkinan yang bisa diolah sebagai pola komposisi tokohnya. Tetapi, ketika tokoh lelaki yang dilukis, pola itu menjadi hilang. Gaya bersedekap, duduk tegak, atau hanya gaya lukisan potret wajah, menjadi pola tampilan tokoh-tokoh lelaki yang dilukis oleh Jeihan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Kehadiran model lelaki dalam lukisan Jeihan, tentu, menjadi catatan khusus. Jeihan berusaha menepis rutinitas pola penggambaran. Ketika semua objek lukisannya adalah seorang perempuan, Jeihan mencoba mengubah-ubah posisi tubuh para model yang dilengkapi dengan perubahan-perubahan posisi tangannya. Komposisi yang baik bisa didapatkan dengan cara seperti itu. Begitupun ketika Jeihan menggarap model-model yang terdiri atas dua atau tiga orang, Jeihan bisa menemukan keluwesan gaya modelnya. Tetapi, ketika model lelaki yang dilukis, seorang lelaki tidak biasa bergaya tubuh seperti perempuan. Gerakan menjadi ‘sempit’ mengikukti ketidakbiasaan gerak tersebut, bersedekap, duduk, atau duduk mengangkat kaki yang dalam penggambarannya menjadi agak aneh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Jeihan Sukmantoro, lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 72 tahun yang lalu, adalah seorang pelukis yang fenomenal. Pada masanya, Jeihan pernah menjadi pelukis yang ramai menjadi bahan berita. Dan, pada masa kini, ketika banyak pelukis muda yang juga terkenal pada masanya, Jeihan masih tetap bisa hadir sebagai pelukis produktif. Sementara pelukis lain seangkatannya banyak yang telah hilang dari pemberitaan. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/S19gRIsKQKI/AAAAAAAAAOs/1N6AvboQP-o/s1600-h/Jeihan-Peremupan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;img border="0" height="528" src="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/S19gRIsKQKI/AAAAAAAAAOs/1N6AvboQP-o/s640/Jeihan-Peremupan.jpg" width="640" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Mata perempuan dalam lukisan Jeihan selalu tampak 'tertutup', menunjukkan mata yang 'mbleing'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/S19gRXaazDI/AAAAAAAAAOw/RyOyu5sFcMc/s1600-h/Jeihan-Perempuan-perempuan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/S19gRXaazDI/AAAAAAAAAOw/RyOyu5sFcMc/s640/Jeihan-Perempuan-perempuan.jpg" width="640" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Perempuan-perempuan dalam lukisan Jeihan lebih dinamis dalam gerak&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/S19gRo8FWBI/AAAAAAAAAO0/5g-Kh9jN90g/s1600-h/Jeihan-Perempuan%20bermain%20seruling.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;img border="0" height="484" src="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/S19gRo8FWBI/AAAAAAAAAO0/5g-Kh9jN90g/s640/Jeihan-Perempuan%20bermain%20seruling.jpg" width="640" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Perempuan yang bermain musik menjadi salah satu inspirasi lukisan bagi Jeihan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/S19gSGfZ5dI/AAAAAAAAAO4/q6ftaObaEo8/s1600-h/Jeihan-Model%20lelaki%20lebih%20kaku%20dibandingmodel%20perempuan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/S19gSGfZ5dI/AAAAAAAAAO4/q6ftaObaEo8/s640/Jeihan-Model%20lelaki%20lebih%20kaku%20dibandingmodel%20perempuan.jpg" width="640" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Model perempuan dalan lukisan Jeihan dinamis dalam berbagai gaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/S19gSVpuW8I/AAAAAAAAAO8/Y5Cf9VWhhMQ/s1600-h/Jeihan-Model%20Ayu%20Laksmi%20yang%20dilukis%20pada%20saat%20pembukaan%20pameran.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/S19gSVpuW8I/AAAAAAAAAO8/Y5Cf9VWhhMQ/s640/Jeihan-Model%20Ayu%20Laksmi%20yang%20dilukis%20pada%20saat%20pembukaan%20pameran.jpg" width="640" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Model penari, penyanyi, dan pesinetron, Ayu Laksmi dari Buleleng&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/S19h12fnnpI/AAAAAAAAAPA/OANLMHaMokg/s1600-h/Jeihan-Lelaki.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;img border="0" height="620" src="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/S19h12fnnpI/AAAAAAAAAPA/OANLMHaMokg/s640/Jeihan-Lelaki.jpg" width="640" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Gaya yang 'aneh'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/S19iHehFYzI/AAAAAAAAAPI/OMHBbRgP0pc/s1600-h/Jeihan-Gaya+model+lelaki+yang+agak+kaku.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;img border="0" height="476" src="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/S19iHehFYzI/AAAAAAAAAPI/OMHBbRgP0pc/s640/Jeihan-Gaya+model+lelaki+yang+agak+kaku.jpg" width="640" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Bersedekap adalah gaya model lelaki dalam lukisan Jeihan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/S19iW556eQI/AAAAAAAAAPQ/lIljGKa5KTk/s1600-h/Jeihan-Dua+penari+yang+dilukis+saat+pembukaan+pameran.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/S19iW556eQI/AAAAAAAAAPQ/lIljGKa5KTk/s640/Jeihan-Dua+penari+yang+dilukis+saat+pembukaan+pameran.jpg" width="640" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Jeihan juga melukis perempuan-perempuan dalam kelompok&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/S19ikcJctzI/AAAAAAAAAPY/9dnZHOxVzfE/s1600-h/Jeihan-Gaya+2+perempuan+modis.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="436" src="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/S19ikcJctzI/AAAAAAAAAPY/9dnZHOxVzfE/s640/Jeihan-Gaya+2+perempuan+modis.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Gaya perempuan-perempuan modis sangat pas ditangkap oleh Jeihan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/S19i2PGuYpI/AAAAAAAAAPg/TbAnlgHLBT0/s1600-h/Jeihan-Aura.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;img border="0" height="540" src="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/S19i2PGuYpI/AAAAAAAAAPg/TbAnlgHLBT0/s640/Jeihan-Aura.jpg" width="640" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Gaya perempuan yang lugu, yang banyak ditemukan dalam pola lukisan model perempuan karya Jeihan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/S19jDrYAueI/AAAAAAAAAPo/4GceLnVoVRU/s1600-h/Jeihan-Gaya+Perempuan+selalu+lebih+dinamis.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/S19jDrYAueI/AAAAAAAAAPo/4GceLnVoVRU/s640/Jeihan-Gaya+Perempuan+selalu+lebih+dinamis.jpg" width="640" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Suasana di ruang pameran Bentara Budaya Bali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/S19jY0BYjJI/AAAAAAAAAPw/0923gLwo2iI/s1600-h/Gedung+Bentar+Budaya+Bali.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/S19jY0BYjJI/AAAAAAAAAPw/0923gLwo2iI/s640/Gedung+Bentar+Budaya+Bali.jpg" width="640" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Gedung Bentara Budaya Bali&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Semua gambar dibuat menggunakan kamera Sony Ericsson K850i&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562622522429490936-4335031077393533843?l=rupasenirupa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/feeds/4335031077393533843/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2010/01/lelaki-lelaki-jeihan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/4335031077393533843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/4335031077393533843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2010/01/lelaki-lelaki-jeihan.html' title='LELAKI DI ANTARA PEREMPUAN-PEREMPUAN JEIHAN'/><author><name>Je Suryana</name><uri>https://profiles.google.com/108432985872626695684</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-MfOlICd2i3U/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAATE/IwozjZU4t_0/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/S19gRIsKQKI/AAAAAAAAAOs/1N6AvboQP-o/s72-c/Jeihan-Peremupan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562622522429490936.post-3931552999983082026</id><published>2010-01-05T13:50:00.002-08:00</published><updated>2010-01-05T14:05:01.040-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='komik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pangeran mlaar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kalong'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='animasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='godam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gundala'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='panji tengkorak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kapten mar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='si buta dari goa hantu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='si jampang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jagoan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='walt disney'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='laba-laba merah'/><title type='text'>FENOMENA BERJUALAN DENGAN ANAK-ANAK</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Oleh &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;JAJANG SURYANA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Pengantar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Tulisan ini saya susun tahun 1997. Isinya, mungkin bisa berbeda dengan kondisi masa kini, atau sama saja, saya belum memeriksa ulang di lapangan. Yang jelas, tulisan ini saya posting lagi untuk melengkapi informasi tentang &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;komik dan pendidikan anak&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;. Saya ingin melanjutkan penelaahannya pada kondisi masa kini, tapi hingga kini belum sempat. Jadi, apapun yang Anda baca dan Anda nilai tentang tulisan ini, mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi-lanjut dalam melihat dan membahas kondisi seni rupa anak-anak Indonesia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Membudayakan&lt;/b&gt; kegiatan membaca tampaknya mulai menjadi kebijakan para pengusaha. Gejala baru yang perlu dipandang secara positif, terutama oleh para pendidik. Perusahaan makanan dan minuman mulai merambah dunia majalah, terutama majalah anak-anak. Melalui komik mereka membuka wawasan, menawarkan pesan, mengaduk imajinasi anak, dan menjajakan produk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Tahun 70-an, anak-anak &lt;/span&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt; mengenal empat kelompok tokoh jagoan dalam komik. Kelompok pertama, jagoan pewayangan. Jagoan pewayangan ini, di antaranya disuguhkan oleh dua pekomik wayang:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;R.A. Kosasih dan S. Ardisoma. Komik jenis ini, selain disukai oleh anak-anak juga diminati oleh pembaca dewasa. Kelompok kedua jagoan dunia &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;jawara, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;dunia persilatan. Misalnya, tokoh Si Buta Dari Gua Hantu, Si Jampang, dan Panji Tengkorak yang berlatar cerita kehidupan desa. Di samping itu ada juga komik silat yang isi ceritanya diramu dengan dunia siluman dan para mambang, seperti yang banyak digarap Teguh Santosa dan Yan Mintaraga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Kelompok ketiga, jagoan dari dunia "primitif" pengaruh cerita Tarzan. Seperti tokoh Waro, misalnya. Keakraban manusia dengan alam, terutama binatang, menjadi unsur yang menarik dalam cerita-cerita model ini. Kelompok keempat jagoan-jagoan yang bersentuhan dengan teknologi modern, alam angkasa, dan kesaktian yang menyertakan kemampuan mengubah wujud. Komik ini pada dasarnya lahir setelah generasi Flash Gordon, kemudian disusul Superman, Batman, dan Spiderman. Di Indonesia muncul tokoh-tokoh seperti Godam, Kapten Mar, Laba-Laba Merah, Kawa Hijau, Gundala, Maza, Pangeran Mlaar, Santini, sampai jagoan kecil seperti Kalong.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Tampaknya, sejak tahun 90-an, setelah jagoan ciptaan komikus &lt;/span&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt; "tertidur", anak-anak &lt;/span&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt; lebih banyak lagi memiliki tokoh jagoan. Maraknya acara teve, terutama setelah munculnya beberapa teve swasta dan kebolehan menggunakan antena parabola, membawa anak-anak kita kepada dunia penuh jagoan. Jagoan manusiawi, jagoan roboti, jagoan dewani, juga jagoan hewani (tokoh binatang yang jago), menjadi pilihan penikmatan anak-anak kita. Mereka terlena dengan aneka kegagahan, kepintaran, dan kesaktian para jagoan &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;import&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt; ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Pada keadaan selanjutnya, komik-komik yang kemudian diterbitkan bersamaan dengan jenis-jenis film kartun, yang menggambarkan keindahan alam, kemanisan persahabatan antarbinatang dan antara binatang dengan manusia, kelucuan polah aneka binatang hutan yang menjadi ciri khas garapan kelompok Walt Disney, yang pernah mendominasi dunia kartun di &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;, kini sudah agak jarang ditampilkan di teve kita. Begitu pun pada komik-komik yang beredar di &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Book Store&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;, kini lebih banyak berisi cerita jagoan yang &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;lebih keras, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;kadang juga &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;lebih kejam &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;dibanding film yang dilakonkan oleh manusia. Bisa kita perhatikan ketika anak-anak menonton film kartun para jagoan masa kini, mereka tanpa beban berteriak: "Ya ... mati kamu!"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Kekerasan, kekasaran, kerusakan, bahkan kematian tokoh cerita, terutama tokoh jahat, sudah menjadi "keharusan, kewajaran". Bahkan, dalam cerita-cerita yang dikemas pada program pemainan komputer, bisa kita temukan perilaku tokoh yang lebih kejam seperti pada cerita &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Mortal Combat.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;FENOMENA BARU&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;"Joni dan Mimi terus berjalan tapi tanpa disadari mereka malah makin jauh tersesat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;'Istirahat dulu Jon ... Aku capai dan haus ...'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;'Untung aku bawa &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Vidoran&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt; Multivitamin minumlah agar kondisimu lebih stabil'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;'Daripada makin sulit cari jalan keluar ayo kita gunakan ini ...'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;'Setuju ..!!'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;... Akibatnya makin fatal ... Joni Kukuh dan Mimi malah terpental ke jaman lain ...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Bezz" (&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Bobo,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt; Tahun Ke XXII, Tgl. 26 Januari 1995: hal. 9).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Itulah sepenggal cerita jagoan baru yang dilatari &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;kehebatan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt; sebuah produk multivitamin untuk anak-anak. Dengan selalu menelan butiran Vidoran, Joni Kukuh bisa memiliki kekuatan hebat. Bahkan V-man (Vidoran man) jagoan teman Joni Kukuh, pun selalu rajin meminum produk tersebut. Hal yang sama digambarkan dalam cerita Milo Kid (diilhami &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Karate Kid?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;). Milo Kid, sang jagoan, bisa menjadi jagoan karena rajin meminum &lt;/span&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Milo&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;. Misalnya, pada satu penggal cerita (&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Bobo, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Tahun Ke XXIII. Tgl. 12 Oktober 1995, hal.: 53), ketika Milo Kid berhasil mengalahkan seorang pencoleng "Si Bayangan". Si Bayangan bertanya: "Dik, kau hebat! Apa rahasianya?" Dijawab oleh Milo Kid: "Giat berlatih, selalu minum &lt;/span&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Milo&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;, dan makan Koko Krunch". Kini, Milo Kid lebih banyak digarap dengan unsur cerita olah raga. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Di samping yang menggambarkan kejagoan, ada juga cerita komik yang menggambarkan tokoh piawai dalam menyelesaikan masalah, cergas, bijak, dan rajin belajar. Misalnya, tokoh Freddy dari Dunkin' Donuts (komik) dan Nana dari Frisian Flag Instant (cergam). &lt;/span&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt; juga yang menyertakan tokoh &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;trade mark &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;produk yang "dimanusiakan", seperti tokoh Calfred (ayam goreng &lt;/span&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:state w:st="on"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;California&lt;/span&gt;&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;), Dancow (susu Dancow), Si Nyam-Nyam Harimau (biskuit-batang colek Nyam-Nyam), Koko&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Koala (susu sereal Koko Krunch), dan Prince (biskuit).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Produsen Dancow tampaknya lebih berani menampilkan bahan pengetahuan bagi pembaca, sebanyak dua halaman, seperti juga pernah ditampilkan produsen Frisian Flag Susu &amp;amp; Sereal dan KIKO.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Materi bacaan cukup beragam. Selain tampil dalam cerita yang bersifat pengetahuan, kadang-kadang Dancow juga menambah tampilannya dalam bentuk komik secara bersamaan (seperti pada &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Bobo,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt; Tahun XXIV, Tgl. 13 Oktober 1996, hal. 34-35 dan 52). Hingga tahun 1997 ini, tampaknya hanya produsen Dancow inilah yang tetap berani menampilkan aneka cerita berbau ilmu pengetahuan secara terus menerus dalam Majalah &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Bobo. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Bahkan kini, pemroduk susu ini, kembali menunjukkan perhatian-lebihnya terhadap penyediaan cerita anak (mengindonesia) melalui bonus komik kepada para pembeli.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;PT Kinosentra Indrustrindo, pemroduk permen, menghadiahkan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;komik mini sebagai bonus pada setiap kemasan permen yang dijualnya. Komik mini dengan cerita Scooby Doo dipilihnya sebagai hadiah. Tahun 2000 awal, Penerbit Mizan dengan Divisi Komik Mizan menerbitkan komik mini sejenis yang disebarluaskan sebagai hadiah permen oleh perusahaan permen yang sama. Ceritanya digarap oleh pekomik lokal, yaitu mengambil pokok cerita 1001 Malam, seperti Aladdin, Abu Nawas, Ali Baba, dan Sinbad si Pelaut, dengan pola cerita dagelan ala anak muda masa kini. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Pada kenyataannya, kecenderungan ini bisa dianggap memuat sumbangan positif dan negatif. Sumbangan yang positif yaitu mendorong anak supaya senang membaca. Bahan bacaan, seperti telah disebutkan, lumayan banyak yang bernilai pengetahuan umum praktis. Hal negatif yang boleh jadi berpengaruh juga kepada anak, keinginan membeli setiap dagangan yang ditawarkan. Mungkin karena ingin menjadi "jagoan". Mungkin juga karena ada embel-embel hadiah yang beraneka macam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;IKAPI (Ikatan Penerbit &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;) mulai tahun ini (1997) memberikan penghargaan Adi Karya untuk buku anak-anak terbaik (&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Gatra,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt; No. 33 TAHUN III, 5 Juli 1997: 124). Sebuah upaya menghargai karya masyarakat buku dalam negeri telah dimulai. Tampaknya, melalui cara penghargaan tersebut, diharapkan keberadaan buku-buku cerita produk dalam negeri bisa terdongkrak, bisa bersaing dengan produk luar yang kini semakin menggelombang. Tetapi, kalau para penerbit masih setengah-setengah dalam menyikapi hal ini, terutama lebih mematok pertimbangan untung-rugi fisik, keberadaan buku cerita yang menasional masih tetap sulit terangkat. Di samping itu, kualitas garapan karya para penulis cerita maupun para pekomik dalam negeri, masih perlu peningkatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Keindahan alam, keindahan nilai sebuah persahabatan, keindahan perjuangan dalam aneka cerita keluaran Walt Disney, misalnya, meskipun berlatar belakang cerita dunia lain, bisa mengasah rasa cinta para pembaca. Lebih hidup lagi kalau cerita itu kita nikmati dalam cerita animasi kartunnya. Tetapi, cerita hasil para pengarang kita? Rasanya belum ada yang peduli dengan model penceritaan yang lebih mementingkan pembinaan rasa tersebut. Beberapa film animasi kartun Jepang yang kini kerap diputar di teve-teve swasta, menampakkan konsep penceritaan yang melibatkan emosi penuh penontonnya. &lt;/span&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Gaya&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt; penceritaan tersebut, misalnya saja, tampak pada cerita &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;The Kicker, Virtua Fighter,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;dan &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Kungfu Boy.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Lingkungan anak-anak kini telah banyak berubah. Dunia bermain mereka adalah dunia cerita para jagoan. Merebaknya acara teve ke desa-desa, sejalan dengan meningkatnya tanda kemakmuran dan kemampuan daya beli masyarakat &lt;/span&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt; pada umumnya, telah mengubah begitu banyak lingkungan anak kita. Dulu, ketika teve dan radio masih berupa barang mewah dan langka, anak-anak masih bisa merasakan perubahan alam.&amp;nbsp;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman';"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Rembulan yang purnama masih bisa dinikmati, bahkan ditunggu-tunggu, untuk melengkapi kebahagiaan bermain di lingkungan rumah. Musim panen di lingkungan persawahan selalu dinanti untuk bermain layang-layang sepuasnya. Keakraban anak-anak dengan lingkungan alam kini telah dibatasi dinding rumah. Pada siang hari, anak sulit menemukan lahan bermain yang bebas dan aman. Pada malam hari, anak-anak lebih banyak menongkrongi acara teve. Keakraban anak dengan alam tinggal dongeng dalam buku-buku. Itu pun telah disusupi aneka pesan sponsor lewat para jagoan ciptaan baru. Boleh dikatakan, kini, dunia anak adalah dunia para jagoan: jago belanja dan jago tawuran?&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562622522429490936-3931552999983082026?l=rupasenirupa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/feeds/3931552999983082026/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2010/01/fenomena-berjualan-dengan-anak-anak.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/3931552999983082026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/3931552999983082026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2010/01/fenomena-berjualan-dengan-anak-anak.html' title='FENOMENA BERJUALAN DENGAN ANAK-ANAK'/><author><name>Je Suryana</name><uri>https://profiles.google.com/108432985872626695684</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-MfOlICd2i3U/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAATE/IwozjZU4t_0/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562622522429490936.post-446413173411819915</id><published>2010-01-02T00:25:00.002-08:00</published><updated>2010-01-02T01:43:22.861-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rasio'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pola rebah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='imajinasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pola tumpuk'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perspektif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='beban'/><title type='text'>BEBAN DALAM POLA GAMBAR GUNUNG KEMBAR</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;O&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;leh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Jajang Suryana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Sebuah kondisi umum yang ditemukan dalam gambar anak-anak dengan pola "gunung kembar" adalah 2 bidang 'luas' yang sulit ditaklukan oleh anak-anak. Pola gambar tersebut menyisakan dua ruang bidang gambar yang penggarapannya bisa melelahkan. Seseorang yang ingin mengisi kedua bidang tersebut, harus berpikir "bagaimana mengisi lahan luas di depan penggambar hingga ujung kaki gunung"? Kesadaran bahwa antara gunung dengan penggambar ada 'jarak' yang amat luas, amat jauh, memaksa penggambar harus bersusah payah mengisikan banyak objek dalam dua bagian lahan tadi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Sebuah pemecahan masalah yang lazim ditemukan adalah, setelah menempatkan jalan lurus atau berkelok (ini bagian pola 'wajib' dalam pola gambar "gunung kembar"), adalah mengisi bidang kiri dengan gambar petak-petak sawah atau tegalan yang berpohon jarang, dan sebelah kanan dengan ruang berair sejenis danau atau laut. Pola ini bisa juga memaksa penggambar untuk mengisi bagian kiri dan kanan dengan tegalan, sementara bagian tengah dengan lahan berair.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Bagi anak-anak sekolah TK dan SD kelas rendah, kondisi itu tidak terlalu memberatkan. Bagi mereka, isi tegalan bisa berupa satu rumah, satu pohon besar (pohon kayu atau kelapa), satu orang, dan satu vas bunga. Bagi mereka isi tegalan yang luas itu cukup dengan objek-objek tadi. Tetapi bagi anak-anak kelas 5 dan 6 SD misalnya, apalagi remaja SMP dan SMA, mereka dibebani oleh 'keharusan' mengisi ruang dengan objek gambar yang "rasional". Beban inilah yang kerap dikeluhkan oleh anak-anak dan remaja yang sejak awal hanya bisa menggambar mengikuti pola "gunung kembar".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Anak-anak yang pola berpikir ruangnya telah mengikuti pola pikir teori gambar perspektif, di antaranya bisa mengatasi beberapa kendala pola gambar "gunung kembar" itu. Misalnya, mereka menemukan bahwa objek yang dekat dengan penggambar ukurannya lebih besar, sehingga bisa menutup sebagian ruang gambar. Sementara gambar objek lainnya yang jauh dari penggambar, dibuat dengan ukuran lebih kecil, dan sebagian terhalang objek yang lebih dekat posisinya. Objek disusun bersaf saling menghalangi. Ada juga yang menemukan cara "perebahan" yang khas. Contohnya, ketika ada gambar objek jalan yang telah dibuat, maka gambar pohon, tiang listrik, rumah, atau objek lainnya direbahkan ke arah sisi jalan yang berbeda: ke kiri dan ke kanan. Gambar kendaran bisa digambarkan rebah ke arah kiri atau ke kanan. Dan yang lebih unik, ketika ada gambar sebuah lapangan atau kolam dengan dasar gambar segi empat, objek-objek akan digambarkan rebah keempat arah sisi bentuk sebi empat objek. Namun kebanyakan anak dan remaja mengalami kesulitan karena mereka menggunakan pola gambar perspektif burung: semua objek digambar dengan posisi penggambar dari arah atas.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Satu pola lagi yang kerap ditemukan sebagai bentuk penaklukan ruangan perspektifis pada anak dan remaja adalah pola susun yang biasa digunakan dalam lukisan tradisional. Objek disusun berderet ke arah bidang atas. Objek yang jauh ditempatkan lebih di atas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Yang perlu mendapat perhatian guru dan orang tua adalah beban berat yang dihadapi anak-anak ketika mereka telah sangat kuat terikat pola gambar "gunung kembar". Anak-anak menghadapi bidang gambar yang harus diisi begitu banyak objek (tuntutan rasio), sementara mereka memiliki keterbatasan imajinasi. Jalan keluar menghadapi permasalahan itu adalah mengenalkan pola perspektif objek, bahwa benda-benda yang ada di alam tidak berposisi sama semuanya. Objek-objek selalu menempati ruang yang berbeda (:contohkan dengan melihat benda-benda sebenarnya di alam). Menggambar alam, sebaiknya melihat langsung alamnya. Menggambar menggunakan imajinasi semata kerap berbentrokan dengan pertimbangan rasio. Pertimbangan rasio itulah yang sering membebani anak-anak dan remaja. Apalagi jika beban itu ditambah oleh pertanyaan dan pernyataan guru atau orang tua: "Kok gambarnya begitu? Mengapa tidak begini dan begitu?"!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sz8D_4Wg_yI/AAAAAAAAANk/QTDA8YvUBeY/s1600-h/Tegalan-4.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sz8D_4Wg_yI/AAAAAAAAANk/QTDA8YvUBeY/s320/Tegalan-4.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Tegalan yang luas, dalam pola gambar "gunung kembar", menjadi beban tersendiri bagi anak-anak&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;yang telah 'dikuasai' pertimbangan rasionya&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sz8E0dkEdUI/AAAAAAAAANs/8SPbNabg7XM/s1600-h/TegalanJuga.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sz8E0dkEdUI/AAAAAAAAANs/8SPbNabg7XM/s640/TegalanJuga.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Bagian lahan berair menjadi pilihan yang dianggap 'aman' untuk mengisi ruang gambar yang luas, di samping tegalan yang tak rimbun&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sz8G4nLJtfI/AAAAAAAAAN0/IJfzYBASAIs/s1600-h/tegalan-6.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sz8G4nLJtfI/AAAAAAAAAN0/IJfzYBASAIs/s640/tegalan-6.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Gambar jalan dalam pola gambar "gunung kembar" seolah menjadi objek 'wajib'. Anak-anak&amp;nbsp;tertentu menggarap penggambaran gunung menjadi lebih beragam dari pola dasar yang telah mereka dapatkan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sz8I8XCALSI/AAAAAAAAAN8/q3HSvLD-H4I/s1600-h/Tegalan-5.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sz8I8XCALSI/AAAAAAAAAN8/q3HSvLD-H4I/s640/Tegalan-5.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Pola gambar perspektif burung, penggambar berada di posisi atas, menyebabkan lahan gambar yang&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;semakin luas, semakin berat beban keharusan dalam mengisi lahan luas tersebut&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sz8J8aiIkUI/AAAAAAAAAOE/J5ElbmOZimY/s1600-h/Tegalandan-8.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sz8J8aiIkUI/AAAAAAAAAOE/J5ElbmOZimY/s640/Tegalandan-8.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Objek yang dekat dengan penggambar telah direkam secara benar (menurut rasio), sementara objek lainnya&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;masih diposisikan sesuai dengan imajinasi penggambar&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sz8K5X8kSXI/AAAAAAAAAOM/YQwutFdsjoA/s1600-h/Tegalan-1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sz8K5X8kSXI/AAAAAAAAAOM/YQwutFdsjoA/s640/Tegalan-1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Petak-petak sawah dan vas bunga menjadi sangat penting dalam gambar ini, sehingga ukurannya (secara rasio) lebih besar daripada objek lainnya, objek rumah misalnya&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sz8L1HdA1rI/AAAAAAAAAOU/lRECUu4NNfc/s1600-h/TegalanView.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sz8L1HdA1rI/AAAAAAAAAOU/lRECUu4NNfc/s640/TegalanView.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Kesadaran perspektif mulai tampak lebih dominan dalam gambar ini. Objek-objek mulai ditempatkan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;'sesuai dengan posisinya'. Tetapi, beban tegalan masih menjadi beban yang jug dominan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sz8M6lD9bYI/AAAAAAAAAOc/C1iB7fJ4EAY/s1600-h/TegalanLain.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sz8M6lD9bYI/AAAAAAAAAOc/C1iB7fJ4EAY/s640/TegalanLain.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Meniru lingkungan, paling tidak meniru gambar hasil karya orang dewasa, telah mengubah&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;bebarapa bagian gambar yang dibuat oleh anak-anak&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sz8Ub9OMK6I/AAAAAAAAAOk/Nr-YvyBk0bw/s1600-h/PolaRebahan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sz8Ub9OMK6I/AAAAAAAAAOk/Nr-YvyBk0bw/s640/PolaRebahan.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Pola perebahan objek gambar mengikuti arah bidang gambar, misalnya jalan, di sini kentara sekali, terutama&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;dalam penggambaran kendaraan dan sebagian pohon yang ada di pinggir jalan. Imajinasi penggambar,&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;dalam gambar ini, sangat dominan dibanding rasionya&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Semua gambar direproduksi menggunakan kamera HP Sony Ericsson K850i&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562622522429490936-446413173411819915?l=rupasenirupa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/feeds/446413173411819915/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2010/01/beban-dalam-pola-gambar-gunung-kembar.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/446413173411819915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/446413173411819915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2010/01/beban-dalam-pola-gambar-gunung-kembar.html' title='BEBAN DALAM POLA GAMBAR GUNUNG KEMBAR'/><author><name>Je Suryana</name><uri>https://profiles.google.com/108432985872626695684</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-MfOlICd2i3U/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAATE/IwozjZU4t_0/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sz8D_4Wg_yI/AAAAAAAAANk/QTDA8YvUBeY/s72-c/Tegalan-4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562622522429490936.post-8887770423633083323</id><published>2009-12-28T15:00:00.001-08:00</published><updated>2009-12-28T15:07:31.706-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='peniruan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gambar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='copy the master'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lomba'/><title type='text'>GAMBAR BUNGA HASIL LOMBA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;O&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;leh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Jajang Suryana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Gambar bertema dalam kegiatan lomba, bahkan menggunakan model, tidak selalu menjadi ikatan penyeragaman bentuk tampilan gambar bagai anak-anak. Terbukti, anak-anak masih bisa bergerak melepas ikatan "keharusan" tema maupun model. Mereka bisa menempatkan kebebasan ekspresi mereka ketika menggambar. Hal ini membuktikan, bahwa anak-anak masih memiliki kesempatan melepas keinginbebasannya, sekalipun ada kekangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Kegiatan meniru bentuk, tampaknya juga harus dibuktikan di lapangan, bukan sebagai penghalang kreativitas anak. Di Bali, hampir semua seniman lukis tradisi, seniman patung tradisi, seniman kriya tradisi, berangkat dari pola meniru seniornya. Kegiatan meniru inilah yang kemudian melahirkan begitu banyak seniman Bali yang mengagumkan. Tak ada hambatan bagi mereka untuk menemukan jati-dirinya yang unik, sekalipun awalnya melalui jalur pola peniruan, penurunan. &lt;i&gt;Copy the master&lt;/i&gt;&amp;nbsp;menjadi ciri pola pengembangan seni tradisi, yang terkenal di China, misalnya. Bahkan, jika mau merujuk lebih dalam kepada pola kehidupan manusia yang fitrah, kehidupan manusia dibentuk dari pola perilaku meniru dan meniru.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Tak usah ada kekhawatiran jika para calon seniman harus ditempa melalui proses meniru. Seniman-seniman yang mengaku dirinya sebagai manusia modern, bahkan pascamodern, mereka tetap tidak bisa melepaskan ciri fitrah kemanusiaannya: meniru lingkungannya. Bentuk, cara, pola, pikiran, keinginan, gaya, trend, adalah objek-objek tiruan yang selalu menjadi garapan manusia. Dalam dunia desain masa kini kondisi tiru-meniru itu sangat kentara. Perhatikan bentuk-bentuk kendaraan bermotor buatan Jepang dan China. Perhatikan juga perangkat komputer masa kini, handphone masa kini, gadget masa kini, hampir semua menunjukkan jejak peniruan bentuk, fungsi, fitur, maupun spesifikasi khusus barang-barang tersebut!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Szk1-wq5K-I/AAAAAAAAANA/EVMfUCh9Z28/s1600-h/Bunga-1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Szk1-wq5K-I/AAAAAAAAANA/EVMfUCh9Z28/s640/Bunga-1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Szk1_NSU2ZI/AAAAAAAAANE/Ja_WBwaEYvE/s1600-h/Bunga-2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Szk1_NSU2ZI/AAAAAAAAANE/Ja_WBwaEYvE/s640/Bunga-2.jpg" width="424" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Szk1_Yvcv1I/AAAAAAAAANI/LG2cDdbBE9Y/s1600-h/Bunga-3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Szk1_Yvcv1I/AAAAAAAAANI/LG2cDdbBE9Y/s640/Bunga-3.jpg" width="480" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Szk1_l6fmtI/AAAAAAAAANM/1SlyOBVPIaw/s1600-h/Bunga-4.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Szk1_l6fmtI/AAAAAAAAANM/1SlyOBVPIaw/s640/Bunga-4.jpg" width="448" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Szk1_vIiovI/AAAAAAAAANQ/QX2GfAwz0ME/s1600-h/Bunga-5.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Szk1_vIiovI/AAAAAAAAANQ/QX2GfAwz0ME/s640/Bunga-5.jpg" width="480" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Szk38AokFsI/AAAAAAAAANU/HUJMNXklQZY/s1600-h/Bunga-6.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Szk38AokFsI/AAAAAAAAANU/HUJMNXklQZY/s640/Bunga-6.jpg" width="480" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Szk38AokFsI/AAAAAAAAANU/HUJMNXklQZY/s1600-h/Bunga-6.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Szk38SVGi_I/AAAAAAAAANY/wdRugWvcWv8/s1600-h/Bunga-7.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Szk38SVGi_I/AAAAAAAAANY/wdRugWvcWv8/s640/Bunga-7.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Semua gambar direproduksi menggunakan HP Sony Ericsson K850i &amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562622522429490936-8887770423633083323?l=rupasenirupa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/feeds/8887770423633083323/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2009/12/gambar-bunga-hasil-lomba.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/8887770423633083323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/8887770423633083323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2009/12/gambar-bunga-hasil-lomba.html' title='GAMBAR BUNGA HASIL LOMBA'/><author><name>Je Suryana</name><uri>https://profiles.google.com/108432985872626695684</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-MfOlICd2i3U/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAATE/IwozjZU4t_0/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Szk1-wq5K-I/AAAAAAAAANA/EVMfUCh9Z28/s72-c/Bunga-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562622522429490936.post-7026665154142152826</id><published>2009-12-26T23:40:00.001-08:00</published><updated>2009-12-26T23:47:45.744-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='komik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='robot'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nyawa dan rasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='animasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='game'/><title type='text'>ANAK, DUNIA ANIMASI, GAME, DAN ROBOT</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;O&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;leh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Jajang Suryana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Pengaruh komik, film animasi, dan game, yang deras, telah membawa anak-anak hanyut mengikuti aliran arus robot. Era robot dalam aneka cerita, telah mengajak imajinasi anak-anak masa kini ke dalam penjara menyenangkan di dalam dunia robot. Aneka karakter aneh dan tak lazim, kemudian, banyak ditemukan di dalam gambar-gambar buatan anak-anak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Robot telah diberi "nyawa dan rasa". Perhatikan Astro Boy. Anehnya, karakter manusia banyak yang dipermak menjadi setengah robot, yang dalam penokohannya telah kehilangan banyak milik dan karakter kemanusiaannya. Tokoh manusia setengah robot dengan robot setengah manusia menjadi sangat berbeda sifatnya. Manusia yang dipasangi perangkat mesin robot secara otomatis menjadi manusia kejam tanpa perasaan kemanusiaannya (kecuali tokoh Robocop?). Sebaliknya, robot yang diceritakan memiliki sifat setengah manusia, memiliki kebaikan hati dan perasaan yang sangat terpuji.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Bagi anak-anak, dunia yang menyenangkan mereka, bisa dianggap sebagai sesuatu yang nyata. Ketika anak-anak terlah tergila-gila dengan komik, film animasi, atau game, mereka menyediakan dirinya untuk dunia yang sangat menyenangkan itu. Seakan tidak ada lagi dunia lain bagi mereka. Bagi mereka, semua lahan "kosong" seperti dinding rumah, kertas buku gambar, bahkan kertas bekas pun, adalah lahan gambar mereka. Dan, robotlah yang mereka gambar. Yang menarik, imajinasi yang menjadi dasar lahirnya desain, deras juga mereka dapatkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzcKC0wb1GI/AAAAAAAAAMY/amoor8nSbHE/s1600-h/DisainPesawat.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzcKC0wb1GI/AAAAAAAAAMY/amoor8nSbHE/s400/DisainPesawat.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Desain pesawat&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzcKC1iylrI/AAAAAAAAAMc/1WMCkPzwxJo/s1600-h/JagoanRobot.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzcKC1iylrI/AAAAAAAAAMc/1WMCkPzwxJo/s400/JagoanRobot.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Robot-robot lucu&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzcKDLHWbuI/AAAAAAAAAMg/O-0tDRz7ro0/s1600-h/NinjaRobot.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzcKDLHWbuI/AAAAAAAAAMg/O-0tDRz7ro0/s640/NinjaRobot.jpg" width="476" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Muncul juga robot yang kejam&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzcKDGekWrI/AAAAAAAAAMk/YCG6KZEsA6I/s1600-h/PocketMonster-1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzcKDGekWrI/AAAAAAAAAMk/YCG6KZEsA6I/s320/PocketMonster-1.jpg" width="288" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Digital monster (digimon) yang menarik bagi anak-anak&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzcKDJ8oQyI/AAAAAAAAAMo/Mya1QpTUN6k/s1600-h/RobotdanRobot-1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="290" src="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzcKDJ8oQyI/AAAAAAAAAMo/Mya1QpTUN6k/s400/RobotdanRobot-1.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Berburu pun telah menggunakan robot&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzcMr1WLwTI/AAAAAAAAAMs/VXaTUh2R6NI/s1600-h/FlyClown-1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzcMr1WLwTI/AAAAAAAAAMs/VXaTUh2R6NI/s400/FlyClown-1.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;"The Flying Clown", katanya&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzcMr1WLwTI/AAAAAAAAAMs/VXaTUh2R6NI/s1600-h/FlyClown-1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzcMr1wiVAI/AAAAAAAAAMw/sU7yaM2qfbQ/s1600-h/Game-2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzcMr1wiVAI/AAAAAAAAAMw/sU7yaM2qfbQ/s640/Game-2.jpg" width="485" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Desain game&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzcMr1wiVAI/AAAAAAAAAMw/sU7yaM2qfbQ/s1600-h/Game-2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzcMrzvIkbI/AAAAAAAAAM0/R1UndpBSR3w/s1600-h/RobotdanRobot.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzcMrzvIkbI/AAAAAAAAAM0/R1UndpBSR3w/s640/RobotdanRobot.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Robot kaleng bekas?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzcMrzvIkbI/AAAAAAAAAM0/R1UndpBSR3w/s1600-h/RobotdanRobot.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzcMsP-jJxI/AAAAAAAAAM4/Mdi5lGtrRKE/s1600-h/RobotdanRobot-2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzcMsP-jJxI/AAAAAAAAAM4/Mdi5lGtrRKE/s400/RobotdanRobot-2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Robot dan robot&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzcMsP-jJxI/AAAAAAAAAM4/Mdi5lGtrRKE/s1600-h/RobotdanRobot-2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzcMsK03l9I/AAAAAAAAAM8/P6EP1kdIPgY/s1600-h/UFO.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzcMsK03l9I/AAAAAAAAAM8/P6EP1kdIPgY/s640/UFO.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;UFO dalam jejak catatan anak-anak&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Semua gambar karya Fikri Fuadi Suryana dan Luthfi Ihsan Suryana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;direproduksi dengan kamera HP Sony Ericsson K750i&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562622522429490936-7026665154142152826?l=rupasenirupa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/feeds/7026665154142152826/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2009/12/anak-dunia-animasi-game-dan-robot.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/7026665154142152826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/7026665154142152826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2009/12/anak-dunia-animasi-game-dan-robot.html' title='ANAK, DUNIA ANIMASI, GAME, DAN ROBOT'/><author><name>Je Suryana</name><uri>https://profiles.google.com/108432985872626695684</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-MfOlICd2i3U/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAATE/IwozjZU4t_0/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzcKC0wb1GI/AAAAAAAAAMY/amoor8nSbHE/s72-c/DisainPesawat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562622522429490936.post-2953702318447151546</id><published>2009-12-22T13:28:00.001-08:00</published><updated>2009-12-22T13:58:10.135-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mutering jagat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='melayu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dwi jendra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sundawan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='surya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pura mekah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pasek'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='syah bandar'/><title type='text'>BULELENG YANG NYELENEH 4</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Oleh&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Jajang Suryana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Masyarakat Bali mengenal istilah &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;nyama braya.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt; Istilah ini dikaitkan dengan keberadaan masyarakat pendatang. Masyarakat pendatang, bagi mereka, adalah saudara (&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;braya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;). Prinsip ini dinyatakan dalam berbagai bentuk bukti nyata di lapangan. Masyarakat Bali di Buleleng misalnya, dulu, menyediakan tempat khusus untuk saudaranya yang berbeda keyakinan, yaitu masyarakat muslim, di sebuah desa yang diberi nama Pegayaman. Kelompok masyarakat muslim ini, pada awal kedatangannya di Buleleng, adalah sebagai tentara bantuan dari Kerajaan Blambangan. Desa Pegayaman dikenal dengan keunikan jejak budayanya yang unik. Masyarakat yang terdiri atas mayoritas umat muslim ini, kini, hidup tenteram di samping masyarakat asli Buleleng yang lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Di kawasan Bali Selatan, yang sangat terkenal adalah Pulau Serangan yang dihuni mayoritas muslim. Banyak tempat lainnya yang suasananya penuh perasudaraan antarpenghuni berbeda agama: Hindu-Muslim-Kristen, dan sebagainya. Tampaknya, di kawasan Buleleng, daerah seperti itu ada di sejumlah tempat. Di sekitar Danau Beratan, Bedugul, di Tegallinggah, Sukasada, di Kampung Bugis dan Kampung Kajanan,Singaraja, adalah contoh komunitas muslim yang hidup damai dengan komunitas Hindu maupun komunitas agama lainnya. Dan, di Tejakula, Buleleng Timur, ada jejak yang unik terkait dengan kondisi jejak ikatan persaudaraan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Di sebuah kawasan kebun kelapa, jauh dari pemukinan penduduk, berdiri sebuah kompleks pura. Pura ini terletak tidak begitu jauh dari bagian pantai Utara Bali bagian Timur. Menurut sejumlah masyarakat yang bekerja di kawasan perkebunan kelapa ini, bangunan pura didirikan sebagai tanda peringatan adanya tali persaudaraan antara kelompok masyarakat sekitar pura dengan orang-orang tertentu yang dianggap &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;braya.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt; Hal itu tampak dalam jejak catatan berupa &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;pelinggih-pelinggih&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt; (tempat menupacarai, tempat “kediaman”) tokoh-tokoh yang ada dalam ikatan persaudaraan tersebut. Ada pelinggih Ratu Bagus Sundawan, Ratu Agung Melayu, Ratu Agung Syah Bandar, Ratu Ayu Mutering Jagat, Ratu&amp;nbsp; Ayu Pasek, Ratu Gede Dalem Mekah, Batara Surya, Batari Sri Dwi Jendra, dan satu pelinggih yang tanpa nama. Kesembilan pelinggih itu ditempatkan dalam satu deretan yang menghadap halaman dalam pura berupa lapangan penuh batu. Batu-batu halus khas pantai Buleleng Timur memenuhi halaman tengah pura ini. Khusus untuk pelinggih Batara Surya, posisinya menghadap arah Barat-Timur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Bagian-bagian bangunan pura lainnya yang dianggap unik adalah adanya pola hias pinggir Yunani, berbentuk huruf T yang disusun berbalikan, ditempatkan di antara pola hias gaya Bali lainnya. Bagian candi bentar pelinggih Ratu Gede Dalem Mekah dibiarkan miring. Konon, kemiringan itu terjadi sendirinya, hingga kini kondisi itu tidak berubah lagi. Dan, menurut para penutur, khusus untuk pelinggih Ratu Gede Dalem Mekah ini, ada kaitan dengan persaudaraan antara pembangun pura dengan &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;braya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt; muslim yang berangkat ke Mekkah dan tidak pernah kembali. Pura ini, memang, dikenal dengan sebutan Pura Mekah, karena terkait dengan keberadaan jejak persaudaraan tadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzE285rqeZI/AAAAAAAAALQ/GnsrLG16T8M/s1600-h/RatuBagusSundawan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzE285rqeZI/AAAAAAAAALQ/GnsrLG16T8M/s640/RatuBagusSundawan.jpg" width="480" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: center;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;Ratu Bagus Sundawan&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzE4tja_W0I/AAAAAAAAALU/kHSEW76aGvY/s1600-h/RatuAgungMelayu.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzE4tja_W0I/AAAAAAAAALU/kHSEW76aGvY/s640/RatuAgungMelayu.jpg" width="480" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Ratu Agung Melayu&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzE4uMjCUHI/AAAAAAAAALY/ol3Kk4dm6CY/s1600-h/RatuAgungSyahBandar.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzE4uMjCUHI/AAAAAAAAALY/ol3Kk4dm6CY/s640/RatuAgungSyahBandar.jpg" width="480" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Ratu Agung Syah Bandar&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzE4uRQw_HI/AAAAAAAAALc/7CEIjrmUVF0/s1600-h/RatuAyuMuteringJagat.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzE4uRQw_HI/AAAAAAAAALc/7CEIjrmUVF0/s640/RatuAyuMuteringJagat.jpg" width="480" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Ratu Ayu Mutering Jagat&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzE4utx5h5I/AAAAAAAAALg/ZUG4gVsg5Jw/s1600-h/RatuAyuPasek.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzE4utx5h5I/AAAAAAAAALg/ZUG4gVsg5Jw/s640/RatuAyuPasek.jpg" width="416" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Ratu Ayu Pasek&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzE9z1dTfEI/AAAAAAAAALo/1t_siR21c7s/s1600-h/RatuGedeDalemMekah.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzE9z1dTfEI/AAAAAAAAALo/1t_siR21c7s/s640/RatuGedeDalemMekah.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: center;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Ratu Gede Dalem Mekah&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzE-e2R2QnI/AAAAAAAAALw/TCgibEXl01c/s1600-h/BataraSurya.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzE-e2R2QnI/AAAAAAAAALw/TCgibEXl01c/s640/BataraSurya.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Batara Surya&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzE4vPWOs1I/AAAAAAAAALk/LpT-m-vPFr0/s1600-h/BatariSriDwiDjendra.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzE4vPWOs1I/AAAAAAAAALk/LpT-m-vPFr0/s640/BatariSriDwiDjendra.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Batari Sri Dewi Jendra&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzE_4Rqwk1I/AAAAAAAAAMA/zk3RMgbsC7s/s1600-h/HalamanDalamPuraBernuansaPantai.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzE_4Rqwk1I/AAAAAAAAAMA/zk3RMgbsC7s/s640/HalamanDalamPuraBernuansaPantai.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Halaman dalam pura yang dipenuhi batu pantai yang halus&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzFAZlUhc4I/AAAAAAAAAMI/7JTiuO4ODJo/s1600-h/GerbangPura.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzFAZlUhc4I/AAAAAAAAAMI/7JTiuO4ODJo/s640/GerbangPura.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Pintu gerbang utama pura&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Semua foto dibuat menggunakan Sony Ericsson K850i&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562622522429490936-2953702318447151546?l=rupasenirupa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/feeds/2953702318447151546/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2009/12/buleleng-yang-nyeleneh-4.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/2953702318447151546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/2953702318447151546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2009/12/buleleng-yang-nyeleneh-4.html' title='BULELENG YANG NYELENEH 4'/><author><name>Je Suryana</name><uri>https://profiles.google.com/108432985872626695684</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-MfOlICd2i3U/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAATE/IwozjZU4t_0/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzE285rqeZI/AAAAAAAAALQ/GnsrLG16T8M/s72-c/RatuBagusSundawan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562622522429490936.post-5743117619295743256</id><published>2009-12-21T14:49:00.001-08:00</published><updated>2009-12-21T15:19:13.820-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='T-Ford'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pesawat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jeep'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jagaraga'/><title type='text'>BULELENG YANG NYELENEH 3</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;O&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;leh&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Jajang Suryana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Sebuah pura dalem yang dulu jarang terjangkau masyarakat umum, kini rata-rata sangat mudah didatangi. Fasilitas jalan beraspal, sejalan dengan keperluan penyediaan kemudahan sarana lalu-lintas pariwisata, telah dibangun hampir di semua sudut kawasan di Bali. Kini, tidak ada daerah yang terkategori terpencil di kawasan Bali. Hampir semua kawasan telah dimudahkan untuk didatangi, minimal melalui pembangunan jalan lintas beraspal yang mudah dilewati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Pura Dalem Jagaraga terkenal ke mancanegara karena relief-relief uniknya yang pernah terekam dalam "buku pintar" pariwisata Bali yang pernah dibuat oleh seorang penulis Belanda. Relief &lt;i&gt;penyengker&lt;/i&gt; (pagar luar) pura yang berisi relief model Jeep T-Ford, pesawat terbang, sepeda gayung, perahu, tokoh wayang, dan wisatawan yang santai di bawah payung taman, sangat menarik perhatian para pelancong. Secara geografis pura dalem ini jauh dari kawasan pantai, tetapi dalam relief yang menghiasinya ada sejumlah adegan dalam air, dunia laut, yang lengkap dengan unsur-unsur lingkungannya seperti ikan, kepiting, buaya, dan bahkan "kecelakaan" laut yang menggambarkan seseorang yang ditelan raksasa laut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Pura Dalem Jagaraga menarik sebagai bahan penelitian. Terutama tentang pola pikir para seniman yang secara "senang tanpa bebas" menghias bangunan pura dengan hiasa yang sungguh jauh dengan keperluan pura pada umumnya. Dan, itulah, kelebihan seniman-seniman Buleleng yang kerap berbeda dengan seniman lainnya di kawasan Bali yang taat pakem.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy_6FicxgcI/AAAAAAAAAJs/NatEvhtRbLc/s1600-h/PuraJagaraga-1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy_6FicxgcI/AAAAAAAAAJs/NatEvhtRbLc/s640/PuraJagaraga-1.jpg" width="480" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Paduraksa Pura Dalem Jagaraga&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy_6F6tdzHI/AAAAAAAAAJw/8jOvxqTGoJ8/s1600-h/ReliefPuraJagaraga-1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy_6F6tdzHI/AAAAAAAAAJw/8jOvxqTGoJ8/s320/ReliefPuraJagaraga-1.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Mtif hiasa bentuk Jeep T-Ford yang unik&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy_6GDcpK4I/AAAAAAAAAJ0/7vQlFoTI4TA/s1600-h/ReliefPuraJagaraga-4.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy_6GDcpK4I/AAAAAAAAAJ0/7vQlFoTI4TA/s400/ReliefPuraJagaraga-4.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Motif tokoh wayang dengan adegan yang verbal&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy_6GWTTQMI/AAAAAAAAAJ4/m8SI2l9ME5w/s1600-h/ReliefPuraJagaraga-5.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy_6GWTTQMI/AAAAAAAAAJ4/m8SI2l9ME5w/s640/ReliefPuraJagaraga-5.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;"Toris" (?) dengan kendaraan Jeep T-Ford&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy_-ya9FyjI/AAAAAAAAAKA/KfWj5QlTUUE/s1600-h/ReliefPuraJagaraga-6.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy_-ya9FyjI/AAAAAAAAAKA/KfWj5QlTUUE/s400/ReliefPuraJagaraga-6.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Kegiatan lingkungan laut&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy__dVJTKQI/AAAAAAAAAKI/rkLqUAHS7Zs/s1600-h/ReliefPuraJagaraga-9.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy__dVJTKQI/AAAAAAAAAKI/rkLqUAHS7Zs/s400/ReliefPuraJagaraga-9.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Seseorang yang ditelan raksasa laut&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzAAMPL-umI/AAAAAAAAAKQ/P2IozODk2EI/s1600-h/PuraJagaraga-7.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzAAMPL-umI/AAAAAAAAAKQ/P2IozODk2EI/s640/PuraJagaraga-7.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Pintu masuk samping menuju ruang dalam Pura Dalem Jagaraga&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzAAw_UjzhI/AAAAAAAAAKY/JbtFPLi__tY/s1600-h/ReliefPuraJagaraga-7.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzAAw_UjzhI/AAAAAAAAAKY/JbtFPLi__tY/s320/ReliefPuraJagaraga-7.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Relief dengan motif Jeep T-Ford yang lain&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzABNc3CLXI/AAAAAAAAAKg/kPHwAXvsb1E/s1600-h/PuraJagaraga-4.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzABNc3CLXI/AAAAAAAAAKg/kPHwAXvsb1E/s640/PuraJagaraga-4.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Paduraksa bagian dalam&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzACI9K1eeI/AAAAAAAAAKo/bb_YAzB-YL4/s1600-h/ReliefPuraJagaraga-11.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SzACI9K1eeI/AAAAAAAAAKo/bb_YAzB-YL4/s400/ReliefPuraJagaraga-11.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Relief dengan motif bentuk binatang air&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Semua foto dibuat menggunakan Sony Ericsson K850i&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562622522429490936-5743117619295743256?l=rupasenirupa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/feeds/5743117619295743256/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2009/12/buleleng-yang-nyeleneh-3.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/5743117619295743256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/5743117619295743256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2009/12/buleleng-yang-nyeleneh-3.html' title='BULELENG YANG NYELENEH 3'/><author><name>Je Suryana</name><uri>https://profiles.google.com/108432985872626695684</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-MfOlICd2i3U/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAATE/IwozjZU4t_0/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy_6FicxgcI/AAAAAAAAAJs/NatEvhtRbLc/s72-c/PuraJagaraga-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562622522429490936.post-8360075949557236283</id><published>2009-12-21T00:42:00.003-08:00</published><updated>2009-12-21T01:03:04.269-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sangsit'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pura dalem'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='relief'/><title type='text'>BULELENG YANG NYELENEH 2</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Oleh&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Jajang Suryana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Di belakang Pura Beji, Sangsit, Buleleng, Bali Utara, ada sebuah pura dalem. Pura tersebut adalah pura yang berkaitan dengan urusan upacara kematian. Pura jenis ini, juga, dikaitkan dengan keberadaan Syiwa sebagai yang disungsung para penganut agama Hindu. Pura dalem selalu berada di lokasi yang terbilang sepi, dekat kuburan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Yang unik, pada bagian &lt;i&gt;penyengker&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(pagar luar) bangunan pura, ada sejumlah relief yang bentuk dan isinya sangat menarik. Relief masih tampak utuh sehingga bentuk-bentuk yang mengisi bingkai relief masih tampak jelas. Semua relief bercerita tentang kehidupan setelah mati. Cerita bingkai perbingkai relief berbeda-beda. Ada yang bercerita tentang hasil perbuatan manusia yang kerap berbuat zina ketika masih hidup. Dalam bingkai ini digambarkan secara vulgar bagaimana tokoh-tokoh cerita yang sedang melakukan perbuatan zina. Sangat unik. Ada juga cerita yang terkait dengan para pelaku yang tidak jujur berdagang ketika masih hidup. Ada gambaran perempuan yang tidak bisa menenun saat masih hidup, hal ini terkait dengan mitos di daerah sekitar itu, yang dikejar-kejar anjing ketika sudah di alam lain. Dan, cicak atau tokek (?) di sinipun telah menjadi tokoh cerita penting yang dikaitkan dengan hukuman bagi perempuan pelaku kegiatan buruk tertentu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Karena berhubungan dengan upacara kematian, di pura dalem selalu dipenuhi hiasan yang menggambarkan tokoh negatif. Di sini karakter Rangda (tokoh buruk) mendominasi bentuk-bentuk patung yang menghiasi bagian bangunan pura ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy8v_ul7_gI/AAAAAAAAAJU/MfFlV2kAS18/s1600-h/ReliefPuraDalem-9.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy8v_ul7_gI/AAAAAAAAAJU/MfFlV2kAS18/s400/ReliefPuraDalem-9.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy8v_-wyOaI/AAAAAAAAAJY/lCvFV6Y7XuI/s1600-h/ReliefPuraDalem-3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="325" src="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy8v_-wyOaI/AAAAAAAAAJY/lCvFV6Y7XuI/s400/ReliefPuraDalem-3.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy8wAH8DdvI/AAAAAAAAAJc/D4rpkN8KkWM/s1600-h/ReliefPuraDalem-4.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy8wAH8DdvI/AAAAAAAAAJc/D4rpkN8KkWM/s400/ReliefPuraDalem-4.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy8wATYz7hI/AAAAAAAAAJg/T9U-MN_kvGU/s1600-h/ReliefPuraDalem-6.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="285" src="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy8wATYz7hI/AAAAAAAAAJg/T9U-MN_kvGU/s400/ReliefPuraDalem-6.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy8wA-2HmjI/AAAAAAAAAJk/_tG73PAzYjo/s1600-h/ReliefPuraDalem-7.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy8wA-2HmjI/AAAAAAAAAJk/_tG73PAzYjo/s400/ReliefPuraDalem-7.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy8z36T1v7I/AAAAAAAAAJo/4Ks5esFNdEk/s1600-h/PuraDalem-1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="270" src="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy8z36T1v7I/AAAAAAAAAJo/4Ks5esFNdEk/s400/PuraDalem-1.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Semua foto dibuat menggunakan Sony Ericsson K850i&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562622522429490936-8360075949557236283?l=rupasenirupa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/feeds/8360075949557236283/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2009/12/buleleng-yang-nyeleneh-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/8360075949557236283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/8360075949557236283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2009/12/buleleng-yang-nyeleneh-2.html' title='BULELENG YANG NYELENEH 2'/><author><name>Je Suryana</name><uri>https://profiles.google.com/108432985872626695684</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-MfOlICd2i3U/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAATE/IwozjZU4t_0/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy8v_ul7_gI/AAAAAAAAAJU/MfFlV2kAS18/s72-c/ReliefPuraDalem-9.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562622522429490936.post-5576006559003507461</id><published>2009-12-20T03:02:00.003-08:00</published><updated>2009-12-21T01:06:17.137-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buleleng'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pura'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kelainan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ornamen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rococo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nyeleneh'/><title type='text'>BULELENG YANG NYELENEH 1</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;leh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Jajang Suryana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Buleleng, Bali Utara, dikenal sebagai kawasan komunitas masyarakat &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;terbuka. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Pengaruh kawasan pelabuhan laut yang pernah jaya, menjadi pusat ekonomi Bali, membentuk masyarakat sekitarnya menjadi sangat loyal terhadap unsur luar. Dan, yang paling membuat kagum, begitu banyak pembaharuan yang muncul dari lingkungan masyarakat Buleleng. Keterbukaan sikap telah membawa cara memandang lingkungan dengan cara yang berbeda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Banyak tinggalan masa lalu yang kini masih membuat orang &lt;i&gt;ngeh &lt;/i&gt;bahwa Buleleng memang memiliki gaya yang berbeda dengan lingkungan masyarakat Bali lainnya. Satu di antara banyak hal yang menunjukkan "kelainan" Buleleng adalah yang didapatkan di lingkungan bangunan pura, bangunan ibadat masyarakat Hindu. Di Buleleng, ada sejumlah pura yang memiliki &lt;i&gt;asesoris&lt;/i&gt;&amp;nbsp;bangunan pura yang &lt;i&gt;nyeleneh,&lt;/i&gt;&amp;nbsp;di luar kebiasaan bangunan pura yang lain di Bali.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Satu di antara bangunan pura yang menunjukkan "kelainan" adalah Pura Beji di kawasan Desa Sangsit. Pura ini dianggap seperti pura bergaya Rococo. Pura yang seluruh bangunannya dipenuhi hiasan. Seluruh bagian bangunan pura, dari bagian depan hingga bagian belakang, dihiasi dengan ornamen Bulelengan yang sangat menakjubkan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Dua buah bangunan pura lainnya --di antaranya-- yang sangat &lt;i&gt;nyeleneh, &lt;/i&gt;insya Allah&amp;nbsp;akan ditampilkan dalam postingan &amp;nbsp;berikutnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy4BSvDSXCI/AAAAAAAAAIU/R68_kc_L1As/s1600-h/PerbaikanPuraBeji.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy4BSvDSXCI/AAAAAAAAAIU/R68_kc_L1As/s320/PerbaikanPuraBeji.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Perbaikan bangunan pura&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy39uik4W_I/AAAAAAAAAIA/psAE_egFMfU/s1600-h/PuraBeji-1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy39uik4W_I/AAAAAAAAAIA/psAE_egFMfU/s400/PuraBeji-1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Pura Beji bergaya Rococo&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy39u-GhmqI/AAAAAAAAAIE/h_i9o-WaAMM/s1600-h/PuraBeji-2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy39u-GhmqI/AAAAAAAAAIE/h_i9o-WaAMM/s640/PuraBeji-2.jpg" width="480" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Paduraksa yang sarat hiasan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy4BSz_Br_I/AAAAAAAAAIY/y-hh-_idIiA/s1600-h/PuraBeji-4.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy4BSz_Br_I/AAAAAAAAAIY/y-hh-_idIiA/s320/PuraBeji-4.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Halaman dalam pura yang cukup lapang&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy39vXUONWI/AAAAAAAAAII/2GrusAqb9lw/s1600-h/PuraBeji-6.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy39vXUONWI/AAAAAAAAAII/2GrusAqb9lw/s640/PuraBeji-6.jpg" width="480" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Bangunan inti Pura Beji yang kaya ornamen&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy39vvNnsWI/AAAAAAAAAIM/SrbocU59log/s1600-h/PuraBeji-9.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy39vvNnsWI/AAAAAAAAAIM/SrbocU59log/s400/PuraBeji-9.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Kemegahan bangunan bisa menampakkan kekayaan masyarakat pendukung pura tersebut sebagai petani yang berhasil&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy39v99sIlI/AAAAAAAAAIQ/4rd5yx82xZ8/s1600-h/PuraBeji-12.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy39v99sIlI/AAAAAAAAAIQ/4rd5yx82xZ8/s400/PuraBeji-12.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Patung kesuburan yang dipasang di depan bangunan utama&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Semua foto dibuat menggunakan Sony Ericsson K850i&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562622522429490936-5576006559003507461?l=rupasenirupa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/feeds/5576006559003507461/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2009/12/buleleng-yang-nyeleneh-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/5576006559003507461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/5576006559003507461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2009/12/buleleng-yang-nyeleneh-1.html' title='BULELENG YANG NYELENEH 1'/><author><name>Je Suryana</name><uri>https://profiles.google.com/108432985872626695684</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-MfOlICd2i3U/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAATE/IwozjZU4t_0/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/Sy4BSvDSXCI/AAAAAAAAAIU/R68_kc_L1As/s72-c/PerbaikanPuraBeji.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562622522429490936.post-2577608573463227678</id><published>2009-12-13T00:54:00.000-08:00</published><updated>2009-12-13T00:54:08.305-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ogoh-ogoh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rangda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wayang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='leak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='barong'/><title type='text'>GAMBAR KARAKTER HASIL BELAJAR DARI LINGKUNGAN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;oleh&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Jajang Suryana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Sejumlah anak dan remaja Bali masih sangat intens perhatiannya terhadap kekayaan lingkungannya. Mereka merekam kondisi lingkungan, lebih khusus yang bersifat tradisi, kemudian menggambarnya. Objek gambar Ogoh-ogoh (festival patung menjelang hari Raya Nyepi), Leak dan Rangda (tokoh dunia hitam sebagai lawan Barong), dan wayang (dengan gaya pelukisan tradisi maupun gaya komik) masih menjadi gambar yang menarik bagi mereka.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SySnP1H9isI/AAAAAAAAAHk/_ikOerjAPG0/s1600-h/KarakterCeritaWayang-1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SySnP1H9isI/AAAAAAAAAHk/_ikOerjAPG0/s640/KarakterCeritaWayang-1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SySp4DX0ZHI/AAAAAAAAAHo/yGvKN5yHzbU/s1600-h/KarakterRangda-1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SySp4DX0ZHI/AAAAAAAAAHo/yGvKN5yHzbU/s640/KarakterRangda-1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SySp4DX0ZHI/AAAAAAAAAHo/yGvKN5yHzbU/s1600-h/KarakterRangda-1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SySp4RQCbhI/AAAAAAAAAHs/sAUILbbhIBg/s1600-h/KarakterRangda-2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SySp4RQCbhI/AAAAAAAAAHs/sAUILbbhIBg/s640/KarakterRangda-2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SySp4RQCbhI/AAAAAAAAAHs/sAUILbbhIBg/s1600-h/KarakterRangda-2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SySp4skJUNI/AAAAAAAAAHw/jFWXbLTAC9Q/s1600-h/KarakterWayang.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SySp4skJUNI/AAAAAAAAAHw/jFWXbLTAC9Q/s640/KarakterWayang.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SySp4skJUNI/AAAAAAAAAHw/jFWXbLTAC9Q/s1600-h/KarakterWayang.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SySp5EMBRcI/AAAAAAAAAH0/S6PLBhgtRjU/s1600-h/KarakterCeritaWayang.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SySp5EMBRcI/AAAAAAAAAH0/S6PLBhgtRjU/s640/KarakterCeritaWayang.jpg" width="480" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SySp5EMBRcI/AAAAAAAAAH0/S6PLBhgtRjU/s1600-h/KarakterCeritaWayang.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SySp5c4ukPI/AAAAAAAAAH4/TPpqjf772Kg/s1600-h/KarakterOgoh-ogoh.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SySp5c4ukPI/AAAAAAAAAH4/TPpqjf772Kg/s640/KarakterOgoh-ogoh.jpg" width="480" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Semua gambar direproduksi menggunakan kamera telesel Sony Ericsson K850i&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562622522429490936-2577608573463227678?l=rupasenirupa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/feeds/2577608573463227678/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2009/12/gambar-karakter-hasil-belajar-dari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/2577608573463227678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/2577608573463227678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2009/12/gambar-karakter-hasil-belajar-dari.html' title='GAMBAR KARAKTER HASIL BELAJAR DARI LINGKUNGAN'/><author><name>Je Suryana</name><uri>https://profiles.google.com/108432985872626695684</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-MfOlICd2i3U/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAATE/IwozjZU4t_0/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SySnP1H9isI/AAAAAAAAAHk/_ikOerjAPG0/s72-c/KarakterCeritaWayang-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562622522429490936.post-420732853067600397</id><published>2009-12-11T14:04:00.005-08:00</published><updated>2009-12-13T01:02:07.613-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gunung kembar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gambar karya anak-anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gambar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pola'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bali'/><title type='text'>FENOMENA GAMBAR GUNUNG KEMBAR</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Oleh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Jajang Suryana&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Pola gambar gunung kembar menjadi fenomena yang menarik sebagai bahan kajian dalam membahas gambar karya anak-anak Indonesia. Pola ini, selalu muncul dalam gambar buatan anak-anak di manapun anak-anak itu bertempat tinggal. Pola pengaruh lingkungan yang selama ini ditunjuk sebagai kekuatan yang bisa mewarnai kegiatan menggambar anak-anak, ternyata tidak semuanya bisa dibuktikan. Ada sesuatu yang jelas menjadi penanda munculnya gambar pola gunung kembar, yaitu ketika anak-anak mulai berhubungan dengan orang lain di luar keluarganya. Terutama ketika anak-anak mulai memasuki dunia sekolah: Taman Kanak-kanak (TK), berlanjut ke tingkat Sekolah Dasar (SD), bahkan hingga sekolah menengah (SMP dan SMA).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Sejumlah contoh gambar gunung kembar dengan aneka variasinya bisa dilihat dalam postingan ini. Gambar-gambar diambil dari sekolah-sekolah TK dan SD di sekitar Bali.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 13.5pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SyLAfgN7c5I/AAAAAAAAAFw/I_K9sp3bfEg/s1600-h/Gunung%20Kembar%201.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SyLAfgN7c5I/AAAAAAAAAFw/I_K9sp3bfEg/s640/Gunung%20Kembar%201.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SyLAf5LVKkI/AAAAAAAAAF0/GnOEQNTtZRc/s1600-h/Gunung%20Kembar%202.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SyLAf5LVKkI/AAAAAAAAAF0/GnOEQNTtZRc/s640/Gunung%20Kembar%202.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SyLAgn4_KZI/AAAAAAAAAF4/pOvu8RtytB4/s1600-h/Gunung%20Kembar%203.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SyLAgn4_KZI/AAAAAAAAAF4/pOvu8RtytB4/s640/Gunung%20Kembar%203.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SyLAhPyyZDI/AAAAAAAAAGA/Q9vduO88i1I/s1600-h/Gunung%20Kembar%205.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SyLAhPyyZDI/AAAAAAAAAGA/Q9vduO88i1I/s640/Gunung%20Kembar%205.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SyLHiMAkPjI/AAAAAAAAAG8/P25HcvCmDEg/s1600-h/Gunung+Kembar+13.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SyLHiMAkPjI/AAAAAAAAAG8/P25HcvCmDEg/s640/Gunung+Kembar+13.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SyLHiMAkPjI/AAAAAAAAAG8/P25HcvCmDEg/s1600-h/Gunung+Kembar+13.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SyLAgx16NOI/AAAAAAAAAF8/gK5cXQaDpeU/s1600-h/Gunung%20Kembar%204.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SyLAgx16NOI/AAAAAAAAAF8/gK5cXQaDpeU/s640/Gunung%20Kembar%204.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SyLRid5EnwI/AAAAAAAAAHE/FMr9lKFzTpk/s1600-h/Gunung+Kembar+15.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SyLRid5EnwI/AAAAAAAAAHE/FMr9lKFzTpk/s640/Gunung+Kembar+15.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SyLR5Wk5T5I/AAAAAAAAAHU/y3bZG4K__rQ/s1600-h/Gunung+Kembar+18.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="470" src="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SyLR5Wk5T5I/AAAAAAAAAHU/y3bZG4K__rQ/s640/Gunung+Kembar+18.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;Semua gambar direproduksi menggunakan telesel (telefon seluler) Sony Ericsson K850i&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562622522429490936-420732853067600397?l=rupasenirupa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/feeds/420732853067600397/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2009/12/fenomena-gambar-gunung-kembar.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/420732853067600397'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/420732853067600397'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2009/12/fenomena-gambar-gunung-kembar.html' title='FENOMENA GAMBAR GUNUNG KEMBAR'/><author><name>Je Suryana</name><uri>https://profiles.google.com/108432985872626695684</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-MfOlICd2i3U/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAATE/IwozjZU4t_0/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SyLAfgN7c5I/AAAAAAAAAFw/I_K9sp3bfEg/s72-c/Gunung%20Kembar%201.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562622522429490936.post-295155646668422338</id><published>2009-11-14T17:58:00.004-08:00</published><updated>2009-11-18T13:48:42.742-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='open lesson'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='komunitas belajar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lesson study'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pengkajian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mutual learning'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kolaborasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='model pembinaan profesi pendidik'/><title type='text'>TUJUH PERTANYAAN TENTANG  PROGRAM LESSON STUDY:  Sebuah Program Pembinaan Kemitraan Antarguru/dosen</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Oleh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Jajang Suryana&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif; font-weight: bold;"&gt;1. Pengantar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Kertas kerja ini membahas lima buah pertanyaan. Lima pertanyaan dimaksud adalah: Apakah batasan pengertian Program Lesson Study?; Mengapa Program Lesson Study dilaksanakan?; Bagaimana pelaksanaan Program Lesson Study?; Siapa yang sebaiknya terlibat dalam Program Lesson Study?; dan Apa saja luaran yang diharapkan dari Program Lesson Study?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif; font-weight: bold;"&gt;2. Apakah Batasan Pengertian Program Lesson Study?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Dalam buku &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Lesson Study Suatu Strategi untuk Meningkatkan Keprofesionalan Pendidik (Pengalaman IMSTEP-JICA)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;, disebutkan bahwa lesson study adalah “model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;mutual learning&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt; untuk membangun komunitas belajar” (2006: 10). Lesson study bukanlah metode ataupun strategi pembelajaran. Di dalam kegiatan lesson study bisa diterapkan berbagai metode dan strategi pembelajaran dalam rangka pembinaan berkelanjutan pembelajaran kolaboratif-kolegalitas untuk membangun komunitas belajar. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #333333;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Selanjutnya secara kolaboratif pula para pendidik mencari solusi dan merancang pembelajaran yang berpusat pada siswa/mahasiswa. Langkah berikutnya adalah menerapkan pembelajaran di kelas oleh seorang guru/dosen, sementara yang lain sebagai pengamat aktivitas siswa, yang dilanjutkan dengan diskusi pasca pembelajaran untuk merefleksikannya (&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Argawinata, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Jurnalnet.com/konten. php?nama=BeritaUtama&amp;amp; topik=5&amp;amp; id=894&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;, akses 12 Februari 2009: 17.45)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Inti kegiatan program lesson study mengikuti pola:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;PLAN - DO - SEE yang sinambung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" style="text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td height="10" width="219"&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif; font-weight: bold;"&gt;3. Mengapa Program Lesson Study Dilaksanakan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Program Lesson Study telah dibuktikan memberi banyak manfaat dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Program yang berasal dari Jepang ini, kini telah pula diserap dan diadopsi oleh berbagai negara, termasuk Amerika Serikat. Strategi lesson study memiliki banyak keunggulan dibanding dengan model &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;inservice training&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt; guru lainnya (Hendayana, dkk., 2006: 36). Di Indonesia, program ini telah pula dijadikan pilot projek sejak tahun 1998 di 3 IKIP (Bandung, Yogya, dan Malang). Alasannya, seperti dikemukakan oleh Fasli Jalal: "Model lesson study sengaja diadopsi dan dimodifikasi untuk dijadikan sekolah pelatihan guru yang terkait masalah pembelajaran sehari-hari khususnya matematika dan IPA".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Pada awalnya, program lesson study ini digunakan dalam pembelajaran MIPA. Tetapi, sejalan dengan pernyataan Fasli Jalal bahwa program lesson study itu sengaja diadopsi dan dimodifikasi, maka di Bandung, sebagai salah satu contoh modifikasi tersebut adalah yang diselenggarakan di SMAN 9 Bandung. Mereka melaksanakan program lesson study untuk mata pelajaran PPKN. Materi pelajaran yang dipilih adalah tentang sistem politik, yang dikemas dalam bentuk drama rancangan siswa secara berkelompok.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Manfaat yang bisa didapatkan dari program lesson study antara lain menyangkut peningkatan pengetahuan guru/dosen tentang materi ajar dan pembelajarannya; peningkatan pengetahuan guru/dosen tentang cara mengobservasi kegiatan belajar siswa; menguatnya hubungan kolegalitas antarguru/dosen, guru-dosen, maupun dengan observer di luar guru dan dosen; menguatnya hubungan antara pelaksanaan pembelajaran sehari-hari dengan tujuan pembelajaran jangka panjang; meningkatnya motivasi guru/dosen untuk senantiasa berkembang; dan meningkatnya kualitas rencana pembelajaran --termasuk komponen-komponennya seoerti bahan ajar, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;teaching materials (hands on&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;), dan stragegi pembelajaran (Hendayana, dkk. 2006: 39).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif; font-weight: bold;"&gt;4. Bagaimana Bentuk Pelaksanaan Program Lesson Study?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Hendayana dkk. mencatat beberapa masukan yang diberikan oleh observer pada saat pelaksanaan refleksi pada akhir kegiatan lesson study. Catatan tersebut bisa dijadikan sebagai acuan dalam melaksanakan kegiatan lesson study.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;·&lt;/span&gt;&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Siswa/mahasiswa yang duduk jauh dari posisi guru/dosen pada saat pengajar memberi&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; penjelasan tentang materi ajar, sebaiknya diberi kesempatan mengambil tempat lebih&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dekat dengan posisi guru/dosen;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 14.2pt; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;·&lt;/span&gt;&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Pada saat siswa/mahasiswa sedang bekerja dalam kelompok, guru/dosen sebaiknya memperhatikan keaktifan siswa/mahasiswa. Posisi duduk melingkar, model huruf U, atau membentuk segi empat mengelilingi guru/dosen, disarankan agar menjadi pilihan dalam pemosisian tempat duduk siswa/mahasiswa. Dengan cara seperti itu, semua siswa/mahasiswa memiliki kesempatan akses yang sama terhadap aktivitas yang dikerjakan secara bersama. Guru/dosen pun bisa memperhatikan siswa/mahasiswa secara menyeluruh;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 14.2pt; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;·&lt;/span&gt;&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Posisi meja laboratorium disarankan berhadapan sepasang-sepasang agar ruang gerak siswa/mahasiswa lebih leluasa. Salah satu yang ditengarai sebagai penyebab sulitnya bekerja secara berkelompok, adalah posisi tempat duduk yang kurang memberi keleluasaan gerak siswa/mahasiswa;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 14.2pt; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;·&lt;/span&gt;&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Observer disarankan terdiri atas beragam kalangan, yang memungkinkan beragamnya masukan ditinjau dari substansi hasil amatan, kedalaman, maupun ketelitiannya. Observer berada di luar posisi daerah kegiatan pembelajaran, tidak mengganggu kegiatan belajar, tidak berkomunikasi, dan harus mencatat perilaku pebelajar. Masukan-masukan dari observer dibahas secara menyeluruh pada saat dilaksanakan kegiatan refleksi;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 14.2pt; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;·&lt;/span&gt;&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Pemahaman tentang perilaku-perilaku siswa/mahasiswa dalam proses pembelajaran menjadi sangat penting terutama bagi guru/dosen. Pada saat guru/dosen menjadi observer, mereke harus mampu mengidentifikasi secara baik tingkat pemahaman dan kesulitan yang dihadapi siswa/mahasiswa. Peningkatan kemampuan mengajar dalam lesson study tidak hanya pada guru/dosen model, tetapi juga pada guru/dosen observer; dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 14.2pt; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;·&lt;/span&gt;&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Kerja sama yang dilakukan oleh para guru/dosen dalam mengembangkan perencanaan, implementasi, dan refleksi dapat meningkatkan proses interaksi konstruktif yang sangat potensial untuk meningkatkan profesionalisme guru/dosen.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;5. Siapa Yang Sebaiknya Terlibat Dalam Program Lesson Study?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Lesson study adalah sebuah kegiatan kolaborasi. Inisiatif pelaksanaan, idealnya datang dari pemimpin lembaga (kepala sekolah, ketua jurusan, dekan, rektor) dengan guru/dosen.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Jika lesson study dikembangkan berbasis sekolah/fakultas, maka yang melaksanakan kegiatan lesson study adalah guru/dosen dari semua bidang studi di sekolah/fakultas tersebut bersama kepala sekolah/dekan. Tujuan lesson study jenis ini adalah untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa/mahasiswa menyangkut semua bidang studi yang diajarkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Lesson study bisa dilaksanakan melibatkan guru/dosen bidang study sejenis. Misalnya, kelompok guru/dosen matematika. Untuk guru telah ada komunitas belajar yang diwadahi dalam MGMP. Lesson study jenis ini akan melibatkan banyak orang dari lokasi yang lebih beragam. Bisa juga melibatkan para penentu kebijakan pendidikan atau bahkan &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;stake holders&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt; dan masyarakat pendukung sekolah/fakultas, dan sejenisnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif; font-weight: bold;"&gt;6. Apa Saja Luaran Yang Diharapkan Dari Program Lesson Study?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Seperti disebutkan dalam definisi operasionalnya, ada sejumlah kondisi yang diharapkan muncul setelah melaksanakan kegiatan lesson study. Beberapa hal yang penting adalah kesiapan kolaboratif, kesadaran kolegalitas, dan terbentuknya komunitas belajar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Beberapa hal fisik sebagai indikator luaran hasil kegiatan antara lain:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;·&lt;/span&gt;&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;P&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;engembangan silabus yang lengkap;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 14.2pt; mso-list: l0 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;·&lt;/span&gt;&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Pembelajaran yang terencana dalam bentuk RPP;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 14.2pt; mso-list: l0 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;·&lt;/span&gt;&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Teaching materials (handout, LKS);&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 14.2pt; mso-list: l0 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;·&lt;/span&gt;&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Teaching media (media pembelajaran, sumber belajar);&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 14.2pt; mso-list: l0 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;·&lt;/span&gt;&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Data input (peserta didik, guru, komunitas, lingkungan kerja);&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 14.2pt; mso-list: l0 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;·&lt;/span&gt;&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Data proses (perencanaan, implementasi, dan refleksi);&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 14.2pt; mso-list: l0 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;·&lt;/span&gt;&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Data output (kinerja guru/dosen, peningkatan kemampuan dan sikap pebelajar maupun pengajar, kegiatan laboratorium/studio, tanggapan pihak-pihak terkait); dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="margin-left: 14.2pt; mso-list: l0 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;·&lt;/span&gt;&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Data evaluasi dampak (keberlanjutan) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;(dari Firman dan Kaniawati (Ed.), 2007: 7 - 10). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif; font-weight: bold;"&gt;7. Pertanyaan Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Semua yang dikemukakan adalah hasil rangkuman dari beberapa catatan yang menjadi sumber acuan yang membahas lesson study. Acuan tersebut menjadi penting karena disusun oleh para pendahulu yang memiliki pengalaman melaksanakan kegiatan lesson study. Pertanyaan terakhir, siapkah para guru dan dosen seni rupa melaksanakan program lesson study?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;8. Pustaka Acuan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Argawinata, Asep Z. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Jurnalnet.com/konten. php?nama=BeritaUtama&amp;amp;topik=&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;5&amp;amp;id=894&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;, akses 12 Februari 2009: 17.45&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Firman, Harry dan Ida Kaniawati (Ed.). 2007. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Monitoring &amp;amp; Evaluasi Program &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Lesson Study (Lesson Learned dari JICA-SISTTEMS).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt; Bandung: UPI Press&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Hendayana, Sumar. 2006. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Lesson Study Suatu Strategi untuk Meningkatkan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;Keprofesionalan Pendidik (Pengalaman IMSTEP-JICA).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt; Bandung: UPI Press&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562622522429490936-295155646668422338?l=rupasenirupa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/feeds/295155646668422338/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2009/11/tujuh-pertanyaan-tentang-program-lesson.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/295155646668422338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/295155646668422338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2009/11/tujuh-pertanyaan-tentang-program-lesson.html' title='TUJUH PERTANYAAN TENTANG  PROGRAM LESSON STUDY:  Sebuah Program Pembinaan Kemitraan Antarguru/dosen'/><author><name>Je Suryana</name><uri>https://profiles.google.com/108432985872626695684</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-MfOlICd2i3U/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAATE/IwozjZU4t_0/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562622522429490936.post-2696660214514637243</id><published>2009-11-04T16:10:00.008-08:00</published><updated>2009-11-08T23:26:07.454-08:00</updated><title type='text'>MEMBACA JEJAK SOSIAL GAMBAR KARYA ANAK DAN REMAJA BALI</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;oleh Jajang Suryana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa teori seni rupa Indonesia didominasi hasil pemikiran dan penelitian ilmuwan Barat. Bahan pembaruan teori seni rupa anak-anak yang sesuai dengan lingkungan pendidikan Indonesia, diharapkan bisa didapatkan melalui penelitian ini. Hasilnya bisa dijadikan lawan-banding dengan teori yang telah dirumuskan berdasarkan lingkungan seni rupa Barat. Penelitian survai ini dimaksudkan untuk mengembangkan upaya ke arah harapan tadi. Dalam penelitian ini dikumpulkan gambar karya anak-anak kawasan Bali dan sekitarnya, kemudian dianalisis isi dan tampilan visualnya untuk mendapatkan bahan pembentukan teori dimaksud.&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembabakan perkembangan kegiatan menggambar pada anak-anak dan remaja Indonesia, khususnya Bali, berbeda dengan rumusan yang dikemukakan oleh &lt;span lang="IN"&gt;Sir Cyril Burt serta Ruth Griffiths (dalam Read,&lt;/span&gt; 1958&lt;span lang="IN"&gt;), Viktor Lowenfeld and W. Lambert Brittain (1970), dan Amir Hamzah Nasution dan Oejeng Soewargana (1968)&lt;/span&gt;. Gambar anak dan remaja di Bali menunjukkan pola ciri khas masyarakat Indonesia. Gambar dengan pola “gunung kembar” menjadi pola yang dominan ditemukan pada gambar anak usia TK hingga SMTA. Di samping hal utama tersebut, pola gambar bunga, pohon, matahari, burung, dan pembagian ruang gambar areal berair, menjadi ciri khas gambar anak dan remaja Bali, bahkan Indonesia. Hal itu tidak didapatkan dalam temuan pola-pola gambar karya anak dan remaja Barat yang kerap menjadi sumber acuan para ahli pendidikan seni rupa Indonesia. Tahap-tahapan perkembangan menggambar yang, sementara ini, dianggap universal oleh para ahli ilmu pendidikan seni rupa, tidak banyak ditemukan dalam gambar-gambar yang menjadi data dalam penelitian ini. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kata-kata kunci: teori seni rupa, gambar karya anak dan remaja, lingkungan, pola&amp;nbsp;gambar "gunung-kembar"&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola "Gunung-Kembar" karya anak Taman Kanak-Kanak (TK)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SvXUSsGtvlI/AAAAAAAAADs/qeoTfzht3hs/s1600-h/PolaGunungKembar-1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SvXUSsGtvlI/AAAAAAAAADs/qeoTfzht3hs/s400/PolaGunungKembar-1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola "Gunung-Kembar" karya anak Sekolah Dasar (SD)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SvXUsqlfToI/AAAAAAAAAEE/qr3yNzbODog/s1600-h/PolaGunungKembar.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SvXUsqlfToI/AAAAAAAAAEE/qr3yNzbODog/s400/PolaGunungKembar.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SvXUsqlfToI/AAAAAAAAAEE/qr3yNzbODog/s1600-h/PolaGunungKembar.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Pola "Gunung-Kembar" karya anak SD&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SvXT4F94GlI/AAAAAAAAADM/6ukaShDRGLM/s1600-h/GambarGunungKembar.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SvXT4F94GlI/AAAAAAAAADM/6ukaShDRGLM/s400/GambarGunungKembar.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SvXUsqlfToI/AAAAAAAAAEE/qr3yNzbODog/s1600-h/PolaGunungKembar.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola "Gunung-Kembar" karya anak SD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SvXTutKdRII/AAAAAAAAADE/bprjr-l_GGY/s1600-h/GambarGunungKembar-1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SvXTutKdRII/AAAAAAAAADE/bprjr-l_GGY/s400/GambarGunungKembar-1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola "Gunung-Kembar" karya anak Sekolah Menengah Pertama (SMP)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SvXUYpYcLfI/AAAAAAAAAD0/nYjZTVi0RTs/s1600-h/PolaGunungKembar-2.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SvXUYpYcLfI/AAAAAAAAAD0/nYjZTVi0RTs/s400/PolaGunungKembar-2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola "Gunung-Kembar" karya anak Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMTA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SvXUfFyMUmI/AAAAAAAAAD8/Kq1XC7oT_9U/s1600-h/PolaGunungKembar-3.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="232" src="http://4.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SvXUfFyMUmI/AAAAAAAAAD8/Kq1XC7oT_9U/s320/PolaGunungKembar-3.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar karya anak usia pra-TK yang dipengaruhi dunia televisi. Gambar ini dibuat anak usia 2,8 tahun, menggambarkan tokoh Ksatria Baja Hitam, tokoh film hero Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SvXYINHXhEI/AAAAAAAAAEM/D5pFagG9bDM/s1600-h/KasatriaBajaHitam-Fikri2th.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SvXYINHXhEI/AAAAAAAAAEM/D5pFagG9bDM/s640/KasatriaBajaHitam-Fikri2th.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya anak TK (5 tahun) tentang Perang Robot. Kengerian, muncratan darah, kegarangan, telah menjadi bagian dari imajinasi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SvXYuF0-3YI/AAAAAAAAAEU/QiW-L_8h-6g/s1600-h/GambarFikri-PerangRobot-1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SvXYuF0-3YI/AAAAAAAAAEU/QiW-L_8h-6g/s640/GambarFikri-PerangRobot-1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar yang tetap terkait dengan lingkungan asli anak-anak, lingkungan tradisi mereka, lingkungan upacara di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SvXZS_6nFAI/AAAAAAAAAEc/5UDpxpX-4Xo/s1600-h/GambarAnak-Ogoh-ogoh.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="236" src="http://2.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SvXZS_6nFAI/AAAAAAAAAEc/5UDpxpX-4Xo/s320/GambarAnak-Ogoh-ogoh.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar yang merupakan hasil tiruan terhadap gaya (tradisi) menggambar masyarakat Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SvXZxABpC1I/AAAAAAAAAEk/qPv6EzuY03Y/s1600-h/GambarPolaTradisiLukisanBali.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SvXZxABpC1I/AAAAAAAAAEk/qPv6EzuY03Y/s640/GambarPolaTradisiLukisanBali.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562622522429490936-2696660214514637243?l=rupasenirupa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/feeds/2696660214514637243/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2009/11/membaca-jejak-sosial-gambar-karya-anak.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/2696660214514637243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/2696660214514637243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2009/11/membaca-jejak-sosial-gambar-karya-anak.html' title='MEMBACA JEJAK SOSIAL GAMBAR KARYA ANAK DAN REMAJA BALI'/><author><name>Je Suryana</name><uri>https://profiles.google.com/108432985872626695684</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-MfOlICd2i3U/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAATE/IwozjZU4t_0/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HFcADH2Ps20/SvXUSsGtvlI/AAAAAAAAADs/qeoTfzht3hs/s72-c/PolaGunungKembar-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562622522429490936.post-1995584565167017149</id><published>2009-10-08T15:02:00.001-07:00</published><updated>2009-10-14T17:41:07.541-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BSE'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='e-book'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='telesel'/><title type='text'>MEMAKSIMALKAN FUNGSI E-BOOK TELESEL (TELEFON SELULAR)</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Oleh Jajang Suryana&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;PENDAHULUAN&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Penelitian tentang efektifitas e-Book sebagai alat pembelajaran perlu segera dilakukan. E-Book adalah hasil olah teknologi yang sangat praktis sebagai bentuk bahan bacaan bagi masyarakat luas. Sebagai definisi operasional, perlu dikemukakan terlebih dahulu pengertian tentang e-Book. Di sini, bisa dikemukakan sebagai contoh, batasan pengertiannya yang diambil --di antaranya-- dari dua jejaring. Pengertian ini adalah pengertian umum perkomputeran yang --boleh jadi-- belum masuk ke dalam teori ilmiah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Dalam &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/kbaklub/tentangebook.htm"&gt;&lt;span style=" line-height: 150%;color:windowtext;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;http://www.geocities.com/kbaklub/tentange-Book.htm&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;diakses 29 Juni 2008, disebutkan bahwa &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;“E-Book&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; adalah singkatan dari Electronic Book atau buku elektronik. E-Book tidak lain adalah sebuah bentuk buku yang dapat dibuka secara elektronis melalui komputer”. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Begitupun dalam &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:windowtext;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;a href="http://blog.%20persimpangan.com/blog/2007/08/30/what-is-an-e-Book-information-about-%20%0ddownloadable-books/"&gt;http://blog. persimpangan.com/blog/2007/08/30/what-is-an-e-Book-information-about-&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, serif; "&gt;&lt;span class="MsoHyperlink"&gt;&lt;span style=" line-height: 150%;color:windowtext;"&gt;&lt;a href="http://blog.%20persimpangan.com/blog/2007/08/30/what-is-an-e-Book-information-about-%20%0ddownloadable-books/"&gt;&lt;span style="color:windowtext;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;downloadable-books/&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; diakses 29 Juni 2008, secara sejalan disebutkan bahwa “&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;e-Books are very similar to normal physical books in the sense that they are rich in content. They are a huge resource for information. Anything you can put in a physical book, you can put in an e-Book”. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Kini, e-Book (cara penulisannya beragam, tampaknya para pengguna TIK lebih suka menyebutnya e-Book, bukan buku elektronik yang merupakan terjemahannya), seperti e-Mail (electronic mail, surat-e, atau surat elektronik) telah mulai memasyarakat. Penggunaan e-Mail telah lebih dahulu memasyarakat sejalan dengan merebaknya pengaruh penggunaan media internet. Surat elektronik ini sempat menurunkan ketenaran kartu ucapan, sehingga para desainer kartu menjadi panik. Bahkan, hampir menjatuhkan posisi layanan surat lewat kantor pos. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Kemudahan penggunaan e-Mail, karena bersifat dua arah, yaitu bisa digunakan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;chatting,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; sebagian besar bisa mengalahkan surat nodigital yang terbilang “ribet” dan agak mahal. Alamat e-Mail telah menjadi kebanggaan seseorang ataupun lembaga dan perusahaan ketika menerakan alamat dalam kartu namanya. Kemudahan penggunaan e-Mail kini mulai didesak oleh kemudahan penggunaan surat pendek yang disebut SMS. Lebih jauh lagi, SMS telah dikembangkan sama seperti fungsi e-Mail, bisa digunakan untuk chatting. Kini, fitur e-Mail telah pula menjadi bagian penting dalam teknologi telesel. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Sementara itu, e-Book sebagai hasil pengembangan teknologi baru, masih dalam proses pemasyarakatan. Sebagai buku digital, e-Book memiliki kelebihan dan kekurangan. Ia lebih “ringan” dan ringkas. Tetapi, seseorang yang ingin membaca e-Book, paling tidak harus memiliki perangkat komputer yang terkoneksi dengan internet. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Kini, Depdiknas telah mulai memasyarakatkan e-Book dalam bentuk program BSE (buku sekolah elektronik)  secara gratis kepada khalayak. Sayang, program BSE ini masih terkategori sulit pengaksesannya, entah karena banyak pengakses, entah karena jalur data yang kurang memadai untuk proses pengunduhan. Sekalipun teknologi &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;mirror server&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; disediakan di beberapa tempat: Jakarta, Surabaya, dan Makassar. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Tampaknya, ada kendala besar dalam jalur-jalur lalu-lintas informasi yang kita miliki. Kendala tersebut terkait dengan ketimpangan yang berat antara kondisi di daerah dengan di pusat. Masyarakat kota-kota besar sudah bisa menikmati layanan internet gratis dengan kesempatan akses yang --bisa dikatakan-- sangat sedikit hambatan. Sementara itu, masyarakat di pinggiran, yang secara ekonomis kurang mampu melayani dirinya sendiri karena ketidakmampuan secara ekonomis, dipersulit lagi oleh kondisi layanan informasi yang tidak lancar. Seseorang yang berada di daerah, jika ingin mengakses BSE yang &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;free download&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, harus mengeluarkan biaya lebih mahal ketimbang membeli buku cetakan. Ketimpangan-ketimpangan sejenis kerap memosisikan masyarakat kecil sebagai korban aneka program yang dirancang secara kurang matang. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Tetapi, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Media Informasi &amp;amp; Panduan Optimalisasi Ponsel Mobile Guide,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; Edisi &lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, serif; "&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;16, 8 Agustus - 4 September 2008, telah berusaha memberi kemudahan akses BSE untuk para pembaca majalah tersebut, yaitu menyertakan hasil unduhan BSE yang utuh dalam CD gratis yang disertakan dalam penerbitan majalah! Sebuah terobasan yang cantik dari perusahaan yang peduli terhadap kebutuhan khalayak. Yang lebih menyenangkan pembaca adalah yang dilakukan pengelola majalah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;PCMedia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;. Pada edisi 10/2008, pengelola majalah tersebut telah menyediakan bonus pembelian majalah berupan 2 DVD yang berisi 406 judul BSE (ver. 2008.08.23 - unofficial) lengkap hasil download. Satu DVD berisi 95 judul buku elektronik tingkat SD/MI, yang lain berisi 70 judul buku SMP/MTs, 25 judul buku SMA/MA, dan 216 buku SMK.            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Banyak situs internet yang menawarkan e-Book yang bisa di&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;download&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; tanpa bayar. Buku-buku langka, misalnya kitab kuning yang sangat beragam, buku yang secara fisik bisa memakan tempat yang cukup banyak, kini telah dikemas lebih ringkas dalam bentuk e-Book. Di antaranya bisa diunduh secara bebas. Permasalahan utama pengunduhan buku-buku elektronik itu, seperti telah disebutkan, adalah ihwal kemampuan layanan besaran jalur lalu lintas data atau &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;bandwitch&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; yang masih belum seimbang dengan kebutuhan. Sehingga, melalui bandwitch yang ada sekarang, proses pengunduhan bisa menjadi masalah besar bagi masyarakat umum di luar perusahaan. Bisa dibayangkan, seseorang yang mengunduh satu set ensiklopedi yang memakan ruang ukuran &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;gigabytes&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, akan memerlukan waktu yang sangat lama. Komputer gegas dan layanan server yang lancar, diperlukan sebagai sarana utama pengunduhannya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Meskipun telah banyak ditawarkan software pengunduh sejenis &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;bit-torrent&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; yang diiklankan sebagai pengunduh data ukuran gigabytes yang mudah karena teknologi transportasi data yang dibagi dalam gabungan sejumlah server, proses pengunduhan data yang besar memerlukan saluran aliran data yang deras. Hanya perusahaan besar yang telah memiliki layanan bandwitch lebar yang bisa dengan leluasa melakukan pengunduhan data secara cepat.   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Belum lama ini, e-Book telah ditawarkan juga sebagai salah satu fitur yang bisa diolah di dalam telesel. E-Book jenis ini, dalam sejumlah website, telah ditawarkan juga secara gratis maupun berbayar. Begitupun softaware pengolahnya. Software atau perangkat lunak yang ditawarkan di internet banyak jenis dan tuntutannya. Kehadiran perangkat lunak baru untuk keperluan operasi kegiatan baru, pasti melahirkan format-format file yang baru juga. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Kini, telah lahir file olahan kata, sekaligus juga hasil olah gambar dengan format yang cocok untuk telesel tertentu. Dengan memanfaatkan e-Book khusus format telesel, seseorang bisa menikmati bacaan kesayangannya, misalnya cerita pendek, novel, bahkan kitab suci, melalui telesel miliknya. Telesel yang bisa digunakan untuk meyimpan e-Book jenis ini adalah telesel yang memiliki fitur Java. Pembuatan e-Book format telesel ini memerlukan perangkat komputer dan software khusus pengolah e-Book. Software dimaksud di antaranya adalah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;mjBookMaker 4.7.0.226 &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; yang bersifat freeware. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;E-Book v.s. Buku Cetakan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;“Buku sebagai medium informasi nondigital, yang tidak kolaboratif, tidak interaktif, tidak &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;up to date,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; tidaklah lagi cocok di era informasi dan sebaiknya minggir” (Haryanto, dalam &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;PCMedia,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; 2008: 26).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Pernyataan di atas yang ekstrem, yang mengacu kepada kondisi informasi sekaligus juga sosial masa kini, tampaknya perlu menjadi bahan renungan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="border-collapse: collapse; mso-padding-alt: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-yfti-tbllook: 1184;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr style="height: 159.95pt; mso-yfti-firstrow: yes; mso-yfti-irow: 0; mso-yfti-lastrow: yes;"&gt;   &lt;td style="height: 159.95pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 296.0pt;" valign="top" width="395"&gt;   &lt;div align="center" class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;    &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;    &lt;v:formulas&gt;     &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;     &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;     &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;     &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;     &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;     &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;     &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;     &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;     &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;     &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;     &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;     &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;    &lt;/v:formulas&gt;    &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;    &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt;   &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="Picture_x0020_0" spid="_x0000_i1027" type="#_x0000_t75" alt="MjBook.jpg" style="'width:241.5pt;height:189.75pt;visibility:visible;"&gt;    &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\JESURY~1\LOCALS~1\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image001.jpg" title="MjBook"&gt;   &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;img alt="MjBook.jpg" border="0" height="253" src="file:///C:/DOCUME~1/JESURY~1/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image002.jpg" shapes="Picture_x0020_0" width="322" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="height: 159.95pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 125.85pt;" valign="top" width="168"&gt;   &lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Gambar   1&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Antarmuka software &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;mjBookMaker 4.7.0.226.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; Program freeware ini ditawarkan dalam   sejumlah situs. Dengan cara meng&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;google&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;   (istilah pencarian atau searching menggunakan search engine Google) kita bisa   menemukan lokasi banyak situs yang menawarkan download secara gratis software   ini. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Barangkali, terkait dengan keberadaan buku cetakan sebagai pustaka yang dikatakan “paling &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;kolot&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, paling mahal, paling memiliki berbagai kekurangan”, memang demikian adanya. Satu set ensiklopedi berupa buku cetakan yang terdiri atas 15 jilid misalnya, bisa berbobot sekitar 30 kg. Siapa yang memiliki kekuatan lebih untuk membawa-bawa semua buku ensiklopedi seberat itu? Manusia masa kini yang sangat &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;mobile,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; selalu bergerak berpindah-pindah tempat, dan sangat sadar informasi, memerlukan kenyamanan dan kelengkapan data miliknya yang bisa diakses di mana pun mereka berada.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Sebuah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;mobile personal computer&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; masa kini, dengan container data di atas 250 GB, bisa menyimpan buku elektronik (e-Book) dalam jumlah yang begitu banyak. Ditambah kemampuan mengakses internet yang juga mobile, lengkaplah bagi si pemilik untuk bisa selalu mengakses sumber informasi di mana pun. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Hal yang mengejutkan adalah data tentang pengubahan distribusi buku-buku &lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, serif; "&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;cetakan menjadi e-Book akan menghilangkan sebagian besar kekurangan buku, tidak ada lagi biaya dan efek samping dari kertas, dan seandainya 3 milyaran buku tak perlu dicetak lagi setiap tahunnya, Amerika saja bisa menyelamatkan 20 juta pohon. Di samping hal itu, pada saat manusia sangat sibuk, rata-rata penyuka buku hanya akan membaca ringkasan (: abstrak) isi sebuah buku (Haryanto, dalam &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;PCMedia,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; 2008: 26). Menurut perhitungan para ahli, e-Book membuat harga buku turun 20-25%.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Pengembangan teknologi pengolahan naskah digital telah mengalami perubahan sangat cepat. Semua perusahaan perangkat lunak berusaha menggandeng pengguna agar mengikuti dan suka menggunakan format jenis file yang mereka buat. Ketika produk Microsoft menjadi software yang sangat populer di kalangan para pengguna, misalnya Microsoft Windows untuk &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;operating systems (OS) &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;dan Microsoft Office (perangkat lunak perkantoran seperti pengolah kata, pengolah database, pengolah presentasi, dan pengolah rancangan website), maka format-format file buatan Microsoftlah yang banyak didukung oleh pembuat software lainnya. Pengagas, penemu, pendahulu, selalu menjadi patokan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Satu contoh lain yang tampaknya menjadi nakhoda file-file berformat .pdf adalah perusahaan Adobe, melalui software Adobe Acrobar Readernya. Tetapi, selalu saja ada jalan keluar, ada jalan pintas, bahkan ada jalan “curang” yang ditemukan oleh para pemrogram yang cerdik. Kini, file-file format .pdf yang pada awalnya sulit diubah-ubah, selain didukung oleh perusahaan-perusahaan lainnya untuk memrogram perangkat lunak sejenis, juga disaingi oleh pembuat software tandingan yang kemampuan softwarenya dirancang bisa mengubah citra file .pdf yang selama ini dianggap “aman” dari upaya pengubahan. File .pdf, kini, mulai bisa diolah ulang sebagaimana file olahan kata yang umum. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;File dengan ekstensi .rtf yang populer buatan Microsoft Windows, dianggap simpel dalam penyimpanan data tulis untuk kegiatan sharing data e-Mail. Oleh karena itu, banyak sekali orang menggunakan format file ini dalam pengiriman e-Mail mereka. Di samping hal itu, jenis file ini tergolong masih aman dari serangan virus. Tetapi, jika file .rtf berisi tulisan dan gambar (tabel, apalagi gambar citra/image bentuk vector maupun pixel) format file ini malah semakin “gemuk” isinya. File .pdf maupun  file .rtf sementara waktu ini masih dianggap jenis file yang nyaman digunakan. Oleh karena itu, penggunaan file .pdf dan .rtf masih banyak disukai pengguna komputer sebagai format file naskah untuk simpanan data. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Format file .pdf kini banyak digunakan untuk mengemas e-Book. Di samping .pdf, ada juga format file .png, .zip, .rar, .sis, .jar, .jad, sebagai basis format e-Book. Sementara itu, sebelumnya file format .chm yang bisa diproduksi menggunakan software buatan China, sangat populer dan biasa dipakai dalam menyusun tutorial perangkat-perangkat lunak. Format file e-Book untuk telesel, pada dasarnya berbeda dengan e-Book untuk PC (personal computer). &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="border-collapse: collapse; mso-padding-alt: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-yfti-tbllook: 1184;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 296.0pt;" valign="top" width="395"&gt;   &lt;div align="center" class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="Picture_x0020_3" spid="_x0000_i1026" type="#_x0000_t75" alt="File-file eBook.jpg" style="'width:240pt;height:175.5pt;"&gt;    &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\JESURY~1\LOCALS~1\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image003.jpg" title="File-file eBook"&gt;   &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;img alt="File-file eBook.jpg" border="0" height="234" src="file:///C:/DOCUME~1/JESURY~1/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image004.jpg" shapes="Picture_x0020_3" width="320" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 125.85pt;" valign="top" width="168"&gt;   &lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Gambar   2&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Sejumlah contoh file yang digunakan sebagai   format e-Book di internet. Ada file dengan format .pdf, .zip, .rar, .doc,   .rtf, maupun .html.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Java sebagai salah satu platform bahasa pemrograman yang digunakan dalam perangkat telesel, menjadi format umum yang dipakai sebagai rujukan di samping bahasa pemrograman lainnya yang berbasis Symbian, Windows, Linux, dan banyak lagi. Extension file e-Book berbasis telesel dengan platfom Java, biasanya .jar dan .jad. Contoh-contoh file e-Book hasil unduhan, beberapa di antaranya bisa dilihat dalam gambar 2.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Sejumlah situs yang menawarkan unduhan gratis buku-buku elektronik di antaranya dicatat berikut ini, juga contoh penawaran yang menggiurkan untuk mendapatkan e-Book gratis di internet.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; margin-left: 36.0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.shamela.ws/"&gt;&lt;span style=" line-height: 150%;color:windowtext;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;http://www.shamela.ws&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; margin-left: 36.0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.almeshkat.com/books/"&gt;&lt;span style=" line-height: 150%;color:windowtext;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;http://www.almeshkat.com/books/&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; margin-left: 36.0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.almaktba.com/"&gt;&lt;span style=" line-height: 150%;color:windowtext;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;http://www.almaktba.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;; dan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; margin-left: 36.0pt;"&gt;&lt;a href="http://saaid.net/book/index.php"&gt;&lt;span style=" line-height: 150%;color:windowtext;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;http://saaid.net/book/index.php&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Sebuah iklan yang menawarkan unduhan gratis e-Book kitab kuning tertulis seperti berikut:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 36.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Info Terbaru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; : Terdapat Maktabah Syamilah dengan hampir 6250 kitab, kapasitas 14 GB lebih dalam harddisk external 80 GB, jumlah kitab lebih banyak dari Pustaka Digital Kubro dalam waktu dekat akan lebih banyak lagi, lebih dari 20.000. jilid.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Perubahan-perubahan terus dilakukan. Buku cetakan yang memerlukan bahan baku kertas yang semakin mahal, mendorong para pengembang perangkat keras teknologi maupun perangkat lunaknya untuk mengupayakan respon positif terhadap kekhawatiran langkanya bahan baku kertas dan terutama tentang kelestarian alam. Sebuah upaya yang disebut “teknologi hijau”, “green computing”, dan sejenisnya, mulai digelar di mana-mana, termasuk dalam teknologi pengadaan bahan pustaka. Kondisi tersebut akan terus berlangsung. Di satu sisi, manusia adalah “perusak alam” (Q.S. Ar-Ruum, 30: 41) di sisi lain manusia pun diberi kecenderungan untuk bisa menata dan memperbaiki dirinya (Q.S. Al-Anfaal; 53). Oleh karena itu, ketika krisis bahan baku kertas semakin terasa di mana-mana, manusia pun berusaha mengatasi kondisi buruk tersebut dengan berbagai cara. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" class="MsoNormalTable" style="border-collapse: collapse; mso-padding-alt: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-yfti-tbllook: 1184;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr style="height: 142.9pt; mso-yfti-firstrow: yes; mso-yfti-irow: 0; mso-yfti-lastrow: yes;"&gt;   &lt;td style="height: 142.9pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 222.3pt;" valign="top" width="296"&gt;   &lt;div align="center" class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="Picture_x0020_1" spid="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" alt="BukuTanpaKertas.jpg" style="'width:255.75pt;"&gt;    &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\JESURY~1\LOCALS~1\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image005.jpg" title="BukuTanpaKertas"&gt;   &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;img alt="BukuTanpaKertas.jpg" border="0" height="499" src="file:///C:/DOCUME~1/JESURY~1/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image006.jpg" shapes="Picture_x0020_1" width="341" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="height: 142.9pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 199.55pt;" valign="top" width="266"&gt;   &lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Gambar 3&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Satu   catatan menarik yang dipampang koran &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Jawa   Post&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; (Jumat, 5/9/2008) adalah berita tentang perilisan buku tanpa kertas   buatan Sony. E-Book ini bisa menampung begitu banyak novel, memungkinkan juga   digunakan untuk menyimpan jenis tulisan lainnya. Penduplikasian,   pengembangan, atau pun pemalsu-an, dalam produk teknologi masa kini, terus   berjalan tanpa membuat kehebohan. Bisa diperiksa pada desain mobil, speda   motor, alat-alat elektronik --seperti televisi, kamera, komputer, dan   telesel, begitupun pola layanan untuk pelanggan yang menunjukkan   peniruan-peniruan tersebut. E-Book buatan Sony ini, dalam waktu yang tidak   begitu lama, biasanya diikuti hasil produk yang mirip dari fabrikan   lainnya.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Ada satu analisis bisnis tentang keuntungan membuat, menerbitkan, dan menjual e-Book daripada menerbitkan dan menjual buku-buku cetakan. Analisis yang mungkin bisa menjadi bahan debatan bagi mereka yang belum membuktikan kenyataannya di lapangan, terutama di lingkungan internet marketing. Al-Arif (&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;CaraBisnis.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, akses 28 Januari 2009) menyebutkan bahwa menulis e-Book tidak memerlukan biaya terlalu besar dibanding menulis buku cetakan. Begitupun ketika kedua jenis buku itu diterbitkan (disosialisasikan) kepada masyarakat, e-Book lebih menguntungkan dari sisi modal, keuntungan (royalti), maupun jangkauan penggunanya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Produk Kreatif dan Inovatif&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Perangkat hasil pengembangan teknologi harus dimanfaatkan lebih efektif sebagai perkakas yang bisa “memperpanjang jangkauan tangan manusia” (van Peurseun, 1989: 125-126). E-Book bisa digunakan sebagai alternatif bahan pustaka yang lebih efektif dibanding pustaka fisik. Pemanfaatan e-Book sebagai pustaka digital alternatif ini, meminjam istilah yang digunakan Edward de Bono (1989: 64), adalah salah satu bentuk cara khusus. Cara khusus dimaksud, bukan satu-satunya cara yang diyakini paling efektif. Sepantasnya, “kita mencoba untuk menghasilkan sebanyak mungkin alternatif. Kita tidak mencari pendekatan yang &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;terbaik,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; tetapi sebanyak mungkin pendekatan yang &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;berbeda-beda”; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;“alternatif yang masuk akal” (de Bono, 1989: 65). &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Alternatif penggunaan bahan pustaka digital seperti software pembelajaran, ensiklopedi digital, video pembelajaran (VCD, DVD), bahan internet e-Learning, maupun e-Book, adalah sejumlah pilihan yang masing-masing memiliki risiko. Risiko dimaksud adalah risiko pendanaan, pengadaan bahan ajar maupun hardware, pengadaan materi pembelajaran yang sejalan dengan pilihan model pembelajaran, dan terutama kesiapan tenaga pengelola bahan dan model pembelajaran tersebut. Pembelajaran menggunakan perangkat teknologi komunikasi masa kini (ICT/TIK), membutuhkan dana yang besar dan sinambung, terutama dalam memelihara keberlangsungan alat dan program yang digunakan. E-Book telesel, yang termasuk di dalam lingkup perangkat teknologi komunikasi masa kini, juga akan membutuhkan risiko pendanaan maupun penyelenggaraannya. Tetapi, e-Book telesel adalah alternatif yang &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;dianggap masuk akal&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; penggunaannya sebagai materi pustaka digital bagi banyak anak muda masa kini!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Hampir semua remaja, murid sekolah menengah termasuk mahasiswa, baik yang ada di perkotaan maupun di perdesaan, kini, kebanyakan telah terimbas budaya pop yang konsumpif. Memiliki sebuah telesel sebagai alat komunikasi praktis masa kini adalah semacam keharusan, kebutuhan, bahkan sebagai bagian dari kebanggaan. Banyak remaja yang merasa “&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;pede”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; (percaya diri) jika telah memiliki telesel, sebuah benda “mainan ataupun kebutuhan utama” yang telah menjadi simbol pergaulan pop masa kini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Menimbang fungsi telesel masa kini dan kesiapan telesel yang dimiliki rata-rata mahasiswa, sangat masuk akal jika keberadaan telesel itu dimanfaatkan lebih optimal, sebagai alat pembelajaran. Diperkirakan, belajar menggunakan telesel akan sangat mempengaruhi semangat dan minat belajar mahasiswa. Sehingga, keberadaan telesel mahasiswa yang selama ini kerap menjadi masalah di dalam ruang kuliah, bisa lebih terkontrol melalui “penggunaan telesel sebagai media pembelajaran”. Di samping hal itu, pengaruh yang bisa muncul dalam diri mahasiswa sebagai calon guru adalah adanya kesadaran bahwa telesel memiliki fungsi sebagai alat komunikasi yang bisa diperluas fungsinya sebagai alat pembelajaran.   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Masalah selanjutnya adalah bahan ajar digital. Dosen harus memiliki bahan pembelajaran yang dikemas dalam format digital. Dosen harus siap menata ulang materi-materi yang telah diajarkan atau yang akan diajarkan dalam format e-Book. Agar tidak menyulitkan pengunduhan, e-Book bisa ditata bab demi bab. Dengan menggunakan program freeware &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;mjBook&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; dan sejenisnya, bahan ajar bisa di&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;convert&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; ke dalam format e-Book yang kemudian bisa disimpan di dalam telesel. Sebagai bahan ajar digital, e-Book dalam telesel bisa diakses mahasiswa di mana pun mahasiswa berada. Proses pembelajaran bisa menjadi lebih menyenangkan bagi mahasiswa!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Kondisi krisis bahan baku kertas telah menempatkan buku cetakan menjadi barang yang dianggap kurang mendukung kelestarian alam. Ia sebagai bahan pustaka, kini mulai digantikan dengan buku digital, e-Book (electronic book), yang diperhitungkan lebih ringan pengadaannya serta praktis penggunaannya. Perkembangan teknologi telesel telah menempatkan begitu banyak mahasiswa sebagai pengguna utama. Memanfaatkan e-Book format telesel sebagai bahan pustaka digital, diyakini akan sangat mengefektifkan pembelajaran sehingga menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi mahasiswa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacing" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Masalah utama penelitian yang harus dirancang  adalah pengembangan model perkuliahan dan pengemasan esensi bahan ajar dalam bentuk e-Book telesel. Pengemasan bahan ajar dalam bentuk e-Book, terutama e-Book berbasis PC (personal computer) sudah umum digunakan. Sementara itu, e-Book berbasis telesel perlu dikembangkan segera. Karena, perangkat telesel yang telah menjadi perangkat komunikasi umum yang dimiliki oleh hampir semua mahasiswa perlu diperluas penggunaannya. Pola pembelajaran menggunakan telesel sebagai media pembelajaran menjadi sangat rasional untuk segera dikembangkan. Pengembangan e-Book pembelajaran berbasis telesel menjadi kajian utama penelitian ini. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562622522429490936-1995584565167017149?l=rupasenirupa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/feeds/1995584565167017149/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2009/10/memaksimalkan-fungsi-e-book-telesel.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/1995584565167017149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/1995584565167017149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2009/10/memaksimalkan-fungsi-e-book-telesel.html' title='MEMAKSIMALKAN FUNGSI E-BOOK TELESEL (TELEFON SELULAR)'/><author><name>Je Suryana</name><uri>https://profiles.google.com/108432985872626695684</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-MfOlICd2i3U/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAATE/IwozjZU4t_0/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562622522429490936.post-7070093984139626067</id><published>2009-09-19T18:40:00.001-07:00</published><updated>2009-09-19T18:57:02.378-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='komik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='naruto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='crayon sinchan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kompas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='maza'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='McCloud'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gundala'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='godam'/><title type='text'>Komik dan Pengaruhnya terhadap Gambar Karya Anak-anak Sekolah Dasar</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-size: 13px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="-webkit-border-horizontal-spacing: 2px; -webkit-border-vertical-spacing: 2px; white-space: pre;"&gt;Comic and Its Influence toward Elementary School Students’ Picture&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Copperplate Gothic Light', sans-serif; font-size: 20pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;Oleh Jajang Suryana&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Copperplate Gothic Light', sans-serif;"&gt;Abstract&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Comics made by foreign artist, like American artist, European, and –now- Japanese, have been dominating the comic circulation in Indonesian fiction books’ market. Comic made by Indonesian artist has been experienced the triumph during sixties until seventies. Nowadays, local comics are pushing by foreign comics. Most of publisher is less interested in publishing local comic because they think that the processing cost is too expensive than foreign licensed comic. So many Japanese comics who interested young reader because of its story characteristic containing high technology, are presenting with anime and VCD, and even pc-game. These have been influencing elementary school students much. Everyday narrative, toy’s type, and even elementary school students’ picture nowadays, are more influenced by Japanese comic.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Key words: comic, anime, picture&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Copperplate Gothic Light', sans-serif; font-weight: bold;"&gt;1. Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Copperplate Gothic Light', sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; line-height: 24px;"&gt;Crayon Shin-Chan, Conan, Doraemon, Pikachu, Donald Duck, Mickey Mouse, Obelix,&amp;nbsp;Asterix, Tintin, adalah beberapa tokoh cerita komik yang sangat dikenal oleh anak-anak&amp;nbsp;kota besar di Indonesia. Semua nama tokoh cerita asing itu begitu melekat dalam ingatan anak-anak kota besar. Kini, anak-anak di kota kecil seperti Singaraja, pun telah mulai banyak tahu tentang tokoh-tokoh cerita asing tersebut. Mereka mendapatkan pengetahuan tentangnya dari media massa, terutama dari televisi yang menayangkan film animasi cerita komik dimaksud.&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Para “nasionalis” yang sangat bangga terhadap tokoh-tokoh cerita asli Indonesia, akan&amp;nbsp;merasa sangat terganggu dan prihatin terhadap membanjirnya tokoh-tokoh cerita asing.&amp;nbsp;Tokoh-tokoh cerita asing tadi telah banyak “mengalahkan” ketenaran tokoh-tokoh cerita Nusantara. Tahun 1960-an di kota Semarang pernah terjadi pembakaran jenis komik tertentu. Sekolah-sekolah dan kios-kios buku dirazia. Komik-komik dengan cerita tokoh&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;"ajaib dan sakti", misalnya komik Sri Asih dan Putri Bintang, menjadi sasaran pembakaran. "Komik-komik jenis ini dituduh tidak mendidik, tidak berkeribadian nasional, membuat malas membaca" (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Jakarta-Jakarta&lt;/i&gt;,&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt; &lt;/i&gt;No. 99, 1988: 10). &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Hasil penelitian bersama Depdikbud-Ikapi-Depag-Kowani-FPsi UI-Lembaga Bahasa Nasional tahun 1972, menunjukkan bahwa tak ada komik yang baik dari segi pendidikan (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Jakarta-Jakarta,&lt;/i&gt;No. 99, 1988: 6). Tetapi, hal itu tidak menyurutkan niat para penerbit, untuk tetap menerbitkan buku-buku komik termasuk buku komik yang dianggap berisi banyak masalah. Selanjutnya, disebutkan dalam &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Jakarta-Jakarta&lt;/i&gt;, kondisi itu sama seperti yang dialami AS pada masa Perang Dunia II, masa tumbuhnya industri komik di negara itu, para penerbit menjadi tidak bertanggung jawab memakai tema sadisme dan seks.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Belum lama ini, di Arab Saudi, Qatar, Turki, dan Mesir (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Gatra&lt;/i&gt;, No. 21 Tahun VII, 2001: 20-21) cerita komik dan film animasi Pokemon (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;pocket monster&lt;/i&gt;) hasil karya para seniman Jepang yang sangat populer, telah menjadi musuh besar bagi negara tersebut. Cerita Pokemon, terutama &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;video-game&lt;/i&gt;nya yang dipandang mengarah ke perjudian, membuat anak-anak lalai dari kewajiban ibadat, dinyatakan haram beredar. Cerita tersebut telah manjadi candu bagi masyarakat Arab, tua dan muda. Semua yang bertalian dengan Pokemon, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;video game,&lt;/i&gt; komik, kartu, boneka, pakaian, hingga makanan, tidak akan dijumpai lagi di wilayah Arab. Masyarakat yang melanggar aturan pelarangan tersebut bisa dikenai hukuman cambuk atau denda, dan warga negara asing yang melanggar bisa dideportasi.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;"Candu" cerita rekaan seniman asing tersebut sedang melanda anak-anak Indonesia. Anak-anak Indonesia zaman sekarang lebih suka terhadap tokoh Crayon Shin-Chan, Power Ranger, Donald Duck, dan sejenisnya, daripada tokoh Gatot Kaca, si Kancil, Timun Mas, maupun si Komo. Sehingga ketika seorang anak sekolah dasar disuruh menggambar tokoh kesayangannya, mereka lebih suka menggambar (tepatnya meniru&amp;nbsp;gambar) tokoh-tokoh komik dan film kartun asing yang kurang akrab dengan ingatan&amp;nbsp;para guru maupun orang tua. Kemudian banyak guru yang beranggapan bahwa gambar-gambar buatan anak tadi tidak sesuai dengan lingkungannya. Padahal lingkungan anak masa kini adalah tokoh-tokoh cerita asing tadi, sejalan dengan merebaknya aneka produk komik dan film kartun buatan luar negeri, serta berbagai jenis mainan buatan dalam negeri yang memanfaatkan ketenaran tokoh-tokoh komik asing.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Berbagai pertanyaan bisa dikemukakan berkaitan dengan keberadaan komik-komik asing. Mengapa komik buatan masyarakat Jepang, Amerika, Inggris, dan Perancis banyak beredar di Indonesia? Bentuk kerja sama apa saja yang dilakukan oleh para penerbit dalam negeri untuk mendapatkan lisensi penerbitan komik-komik asing?&amp;nbsp; Bagaimanakah kondisi komik buatan dalam negeri? Masih banyakkah komik-komik buatan seniman Indonesia? Bagaimanakah kebijakan Pemerintah Indonesia dalam pengadaan buku-buku cerita untuk masyarakatnya? Mengapa komik-komik asing lebih menarik minat pembaca muda Indonesia daripada komik-komik buatan dalam negeri? Apa pendapat para pembaca muda tentang tokoh-tokoh komik masa kini yang mereka sukai? Bagaimana pandangan para guru, orang tua, psikolog, tokoh masyarakat, penerbit buku komik, pedagang buku komik, atau masyarakat lain, tentang kehadiran tokoh-tokoh komik asing? Bagaimana nilai estetis tampilan komik-komik buatan seniman Indonesia? Masih banyak pertanyaan lain yang bisa dikemukakan sehubungan dengan permasalahan komik ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Penelitian kesenirupaan terhadap keberadaan komik dan pekomik Indonesia belum banyak dilakukan. Apalagi ada pandangan yang keliru bahwa komik hanya dianggap sebagai "seni remeh" di antara kelompok "bukan seni utama" lainnya dalam pembahasan masalah seni rupa (Jajang, 2000). Di samping itu, keterkaitan masalah ekonomis yang melekat dalam keberadaan komik maupun film animasi sering dituding sebagai satu "tabu seni" yang menghalangi para teoretisi seni rupa untuk mengelompokkan karya-karya seni rupa sejenis ke dalam rumpun seni utama. Oleh karena itu, penelitian tentang komik ini masih sangat perlu dilakukan. Penelitian tentang masalah ini adalah untuk melengkapi data tentang keberadaan komik Indonesia yang selama ini kurang mendapat perhatian masyarakat seni rupa maupun sastra.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Copperplate Gothic Light', sans-serif;"&gt;2. Metode Penelitian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Dokumen menjadi&amp;nbsp; sumber data utama dalam penelitian deskriptif ini, yaitu berupa catatan pada koran, majalah, buku teori seni rupa, maupun buku komik. Data sekunder di-pakai untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan keberadaan komik di Indonesia sejak masa awal pembukuannya. Untuk mengetahui data komik masa kini digunakan sumber data primer (terutama) berupa buku-buku komik yang beredar di toko buku yang ada di sekitar Singaraja. Hal itu dilakukan berdasar kepada pertimbangan bahwa buku komik masa kini telah mengalami peredaran yang bersamaan antara yang ada di kota besar dengan di kota kecil. Data&amp;nbsp; pengaruh cerita komik terhadap anak-anak sekolah dasar, didapatkan melalui gambar karya anak-anak dari SDN No. 1 Banjar Jawa. Data berupa gambar anak-anak tersebut kemudian dianalisis secara kualitatatif untuk mendapatkan gamabaran pengaruh komik dalam gambar anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Copperplate Gothic Light', sans-serif;"&gt;3. Hasil Penelitian dan Pembahasan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;3.1 Komik dalam Buku Acuan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Tahun 1951-an, Poerwadarmita penyusun &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Logat Ketjil Bahasa Indonesia,&lt;/i&gt; belum memasukkan istilah komik dalam kamus yang disusunnya. Bisa diperkirakan bahwa peristilahan tadi masih dianggap asing. Dalam kamus yang disusun lebih kini, istilah&amp;nbsp;komik tersebut sudah umum dikenal. Misalnya, dalam &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI)&lt;/i&gt; akan kita temukan pengertian komik sebagai "bacaan bergambar, cerita bergambar (dl majalah, surat kabar atau berbentuk buku)" (Poerwadarminta, 1991: 517). Para penyusun &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)&lt;/i&gt; menyebut pengertian komik sebagai "cerita bergambar (dl majalah, surat kabar, atau berbentuk buku) yang umumnya mudah dicerna dan lucu" (Moeliono, djp., 1990: 452).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Istilah komik berasal dari bahasa Inggris (Amerika?) &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;comic,&lt;/i&gt; yang berarti cerita atau buku komik; yang bersifat gembira (Echols dan Shadily, 1990: 129), cerita bergambar yang lucu (Wojowasito, 1985: 75). McCloud (2001) dalam buku &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Understanding Comics &lt;/i&gt;yang unik, karena disusun dalam gaya penceritaan buku komik, memaparkan tentang komik secara lebih lengkap. Disebutkan, bahwa pengertian komik: "Gambar-gambar serta lambang-lambang lain yang terjukstaposisi (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;jukstaposisi =&amp;nbsp; berdekatan,bersebelahan&lt;/i&gt;) dalam turutan tertentu, untuk menyampaikan informasi dan/atau mencapai tanggapan estetis dari pembacanya" (McCloud, 2001: 9). &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Kini, yang disebut buku komik, tidak semata berisi cerita gembira, lucu, dan mudah dicerna. Cerita-cerita komik masa kini banyak yang menggambarkan kekerasan, keruwetan, kebengisan, kesadisan, bahkan kecabulan. Buku komik buatan Amerika, misalnya keluaran perusahaan Walt Disney, dikenal dengan cerita-cerita lucu tokoh-tokoh binatang seperti Donald Duck, Mickey Mouse, Pluto, Simba, Garfield, dan Tom and Jerry. Lain halnya dengan komik-komik keluaran perusahaan Warner Bros, sekalipun&amp;nbsp;tokoh-tokoh ceritanya adalah binatang, sejumlah tokoh itu digambarkan kasar dan jahat. Sejumlah komik keluaran perusahaan Perancis (seperti cerita Asterix dan Scooby Dou), Brussel (seperti cerita Smurf ), dan Belgia (seperti cerita Tintin), cenderung menceritakan petualangan detektif atau jagoan masa lalu; kadang-kadang bercampur dengan cerita hantu yang lucu tetapi menegangkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;3.2 Keberadaan Buku Komik di Indonesia &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Perkembangan pengadaan maupun pembuatan buku komik di Indonesia tampaknya tidak sama dengan yang terjadi di Amerika, Eropa, ataupun Jepang. Tahun 1960 s.d. 1970-an tercatat sebagai masa jayanya para pekomik Indonesia. Pada masa itu, banyak komik Indonesia yang menjadi bahan bacaan hiburan para pecandu komik. Pada tahun 1970-an tempat penyewaan komik --sebagai tempat termudah mendapatkan komik secara murah dan teratur-- menjamur di mana-mana. Di desa-desa kecil muncul tempat penyewaan yang selalu dikunjungi peminjam buku. Mungkin, keberadaan tempat penyewaan komik itu hampir sama seperti kondisi jumlah penyewaan VCD pada saat sekarang. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Keberadaan komik Indonesia memang tidak pernah tetap. Pertumbuhan komik Indonesia diawali pada tahun 1930-an. Pada saat itu muncul karya Kho Wan Gie (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Jakarta-Jakarta,&lt;/i&gt;1988: 8) pada koran &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Sin Po.&lt;/i&gt; Tokoh Put On karya Kho Wan Gie sangat populer pada saat itu. Ketika Sin Po dibreidel Jepang, Put On dilanjutkan penceritaannya di koran &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Panca-warna,&lt;/i&gt; kemudian pindah ke koran &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Warta Bhakti,&lt;/i&gt; bahkan hingga kini tokoh tersebut ma-sih sering muncul dengan nama lain pada majalah &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Varia Nada &lt;/i&gt;dan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Ria Film.&lt;/i&gt; Tokoh ciptaan Kho Wan Gie yang lain, yang juga cukup terkenal adalah &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Nona Agogo, Jali Tok Cer, &lt;/i&gt;dan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&amp;nbsp;Si Lemot.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Pada pertumbuhan awal komik Indonesia ini, tahun 1939-1950 tercatat beberapa tonggak komik yang pantas digarisbawahi keberadaannya. Komik fantastik &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Poetri Hidjau,&lt;/i&gt; karya Nasrun AS pantas dicatat sebagai salah satu bentuk komik "modern". Komik ini tampilannya hampir sama seperti komik-komik yang ada pada masa kini. Kemudian muncul era komik koran yang dimulai dengan ditampilkannya komik strip karya Abdul Salam pada harian &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Kedaulatan Rakjat, &lt;/i&gt;Yogyakarta. Komik ini adalah pelopor komik revolusi, dengan judul &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Kisah Pendudukan Jogja. &lt;/i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Tahun 1953-an, komik impor mulai menguasai peredaran komik di Indonesia. Komik dengan cerita &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;superhero&lt;/i&gt; sangat disukai pada saat itu. Pekomik Indonesia pun tak ketinggal-an. Mereka mebuat cerita komik dengan tokoh pahlawan super. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Supermanisme,&lt;/i&gt; komik yang mengacu tokoh Superman, muncul di mana-mana. Misalnya tokoh Sri Asih (R.A. Kosasih) dan Nina Rimba, Putri Bintang, Garuda Putih, serta Kapten Kilat (John Lo). Kemudian muncul juga &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Tarzanisme,&lt;/i&gt; seperti Wiro Anak Rimba Indonesia (Kwik Ing Hoo dan Lie Djoen Lim), Marimba (Ed), dan Roban (John Lo).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Tahun 1960-an, komik model Sri Asih mulai diemohi, bahkan kemudian dibakar karena dianggap bertentangan dengan kepribadian nasional. R.A. Kosasih mulai menggarap cerita &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Ganesha Bangun, Ramayana, &lt;/i&gt;dan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Mahabharata,&lt;/i&gt; yang dianggap berciri nasional. Ko-mik wayang mulai merajai pasaran. Tahun 1965-an&amp;nbsp; komik roman picisan mulai lebih menguasai pembaca Indonesia. Di samping itu muncul juga cerita roman silat (seperti Si Buta dari Gua Hantu karya Ganes TH) dan roman berbau sejarah (Sandhora karya Teguh Santosa). Tahun 1967 wabah komik mulai tak terkontrol. Kepolisian mulai merasa perlu mengadakan penertiban. Opterma (Operasi Tertib Remaja) digelar oleh P&amp;amp;K, Depsos, Deppen, Penerbit, Pengarang, dan Golongan Pemuda.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Tahun 1970-an pekomik Indonesia mulai bangkit lagi. Komik-komik dengan cerita superhero baru muncul lagi. Tetapi mulai tahun 1980-an, ketika komik impor mulai merajai pasaran lagi, komik karya seniman Indonesia terpuruk kembali. Hingga kini, tahun 2001, kondisi tersebut belum berubah. Beberapa kelompok pakomik Indonesia mencoba bangkit dengan karya dan tampilan karya yang baru, namun para penerbit belum bisa memberi sokongan penuh, terkait dengan masalah dana penerbitan yang dianggap terlampau mahal bila dibanding dengan menerbitkan komik impor yang&amp;nbsp; ketika dibeli lisensinya telah siap cetak dengan harga lebih murah.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;3.3 Tema Cerita Komik Karya Seniman Indonesia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Tema cerita yang pernah digarap para pekomik Indonesia sejalan dengan komik-komik buatan pekomik asing. Bila dipilah secara teliti, tema komik buatan pekomik Indonesia terdiri atas: komik wayang, superhero, roman (percintaan, silat, dan sejarah), dongeng (kebanyakan terjemahan), dan&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ketika model superhero disukai publik komik Amerika, menjamur pula tema superhero dalam komik buatan pekomik Indonesia. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Poetri Hidjau, Sri Asih,&amp;nbsp; Nina Rimba, Putri Bintang, Garuda putih, Kapten Kilat,&lt;/i&gt; adalah tokoh-tokoh yang digubah oleh pekomik Indonesia tahun 1950-an. R.A. Kosasih dengan Sri Asihnya mengalami &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;boom.&lt;/i&gt;Para penyuka komik pada saat itu terus memburu karya R.A Kosasih.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Pada tahun 1970-an, masa kedua boom komik, muncul jagoan-jagoan seperti &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Gundala, Pangeran Mlaar, Maza,&amp;nbsp; Aquanus, dan Kalong &lt;/i&gt;(tiruan dari &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;The Flash, Fantastic Four, Tarzan dicampur Aladdin, Aquaman, serta jagoan anak-anak&lt;/i&gt;: semua karya Hasmi), juga &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Godam&lt;/i&gt; (tiruan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Superman&lt;/i&gt;: karya Wid NS), &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Laba-Laba Merah&lt;/i&gt; (tiruan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Spiderman&lt;/i&gt;: karya Kus Bramiyana), &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Kapten Mar&lt;/i&gt; (tiruan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Batman&lt;/i&gt;: karya Mardhani), Kawa Hijau (tiruan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Spiderman &lt;/i&gt;yang diganti dengan kostum hijau: karya Cancer), Gina dan Santini (karya Gerdi WK), dan banyak lagi adalah tokoh-tokoh hero lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Tema lainnya adalah cerita roman, terdiri atas cerita roman (picisan) remaja, seperti karangan Jan Mintaraga, Zaldy, Sim, dan Teguh Santosa; roman campuran cerita silat (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Si Buta dari Gua Hantu, Panji Tengkorak, &lt;/i&gt;dan&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt; Jaka Sembung&lt;/i&gt;); dan campuran cerita sejarah (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Sandhora, &lt;/i&gt;dan&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt; Mat Pelor&lt;/i&gt;). Di samping itu, banyak pula cerita anak-anak asing yang disadur-komikkan terutama dari cerita karangan Hans Christian Andersen. Sehingga anak-anak biasa menyebut komik dongeng tersebut sebagai komik Hans Christian Andersen. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Kini, setelah komik impor mendesak komik-komik karya pekomik Indonesia, komik buatan perusahaan Jepang, misalnya, sangat beragam. Tema ceritanya terdiri atas cerita untuk anak-anak murni (Doraemon, Pokemon, Digimon), cerita tentang anak tetapi ditujukan untuk orang dewasa (Crayon Shin-Chan, Detektif Conan, dan Dragon Balls), cerita remaja (Sailor Moon dan Candy-Candy), dan cerita untuk orang dewasa murni (Saint Seiya). Oleh karena itu tidak semua komik, juga film kartun --McCloud menunjukkan persamaan dan perbedaan antara komik dengan animasi, film kartun-- cocok untuk anak-anak. Kini, sudah banyak perusahaan komik maupun film kartun, yang memproduksi&amp;nbsp;karya senimannya, khusus untuk konsumsi orang dewasa. Tetapi, karena anggapan umum bahwa komik maupun kartun adalah untuk anak-anak, begitu banyak orang tua yang kurang memperhatikan anak-anak pada saat membaca komik maupun menonton film-film kartun untuk orang dewasa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;4.3 Kondisi Penerbitan Komik di Indonesia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Sebuah laporan hasil penelitian wartawan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Kompas&lt;/i&gt; (2001) yang dilaporkan pada edisi Minggu, 28 Januari 2001, ditemukan kenyataan yang sangat mencengangkan. Penjualan buku-buku komik pada beberapa toko buku di Jakarta, tercatat sangat jauh dari jumlah hasil penjualan buku jenis apa pun yang pernah dijual di Indonesia. Pada masa penelitian tersebut, sebagai contoh tercatat di bagian penjualan toko buku Gramedia Melawai, Jakarta, data seperti berikut: buku komik &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Crayon Shin-Chan&lt;/i&gt; bisa terjual 1.000 eksemplar per bulan dan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Detektif Conan&lt;/i&gt; rata-rata terjual 500 eksemplar perbulan. Kemudian berurut-turut, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Cardcaptor Sakura&lt;/i&gt; (170 eksemplar); &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Doraemon Petualangan 18&lt;/i&gt; (149 eksemplar); dan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Detektif Kindaichi &lt;/i&gt;(45 eksemplar). Semua buku komik tadi adalah komik buatan pekomik (pembuat komik) Jepang. Sebagai bahan perbandingan, dikemukakan pula dalam laporan tersebut catatan hasil penjualan buku komik buatan pekomik Indonesia. Pada awal peluncurannya, komik &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Saras 008&lt;/i&gt; bisa terjual 100 eksemplar perbulan, tetapi beberapa bulan kemudian hanya terjual sekitar 5 eksemplar. Begitu pun komik dengan cerita tradisi Nusantara seperti &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Ramayana, Sangkuriang, &lt;/i&gt;dan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Mundinglaya,&lt;/i&gt; perbulan hanya terjual sekitar 15 eksemplar. Data tersebut menunjukkan bukti bahwa komik buatan Jepang sangat digemari oleh masyarakat pembaca Indonesia, dan komik lebih menarik perhatian daripada buku jenis lain.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Cerita impor lebih disuka oleh penerbit dengan alasan lebih praktis penerbitannya dan murah harga lisensinya dibandingkan menerbitkan komik buatan dalam negeri. Di samping itu, sisi kulaitas karya, fisik gambar maupun cerita komik impor lebih menarik di-banding komik dalam negeri. Oleh karena itu, hampir semua penerbit di Indonesia, lebih suka mengolah komik impor daripada komik dalam negeri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;4.4 Dampak Cerita Komik Terhadap Gambar Karya Anak-anak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Pada tahapan tertentu anak-anak usia sekolah dasar menggambar dengan cara meniru.&amp;nbsp;Mereka ingin menguasai cara menggambar objek secara mirip. Dalam beberapa hasil observasi di lapangan, anak usia 5-9 tahun, suka meniru gambar dalam buku bacaan, gambar buatan temannya, atau juga gambar tokoh-tokoh cerita yang sangat disukainya. Anak-anak tertentu yang memiliki pembawaan khusus, pada usia 2,8 tahun sudah bisa meniru gambar tokoh cerita yang sangat disukainya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Kesenangan meniru gambar tokoh cerita kesukaan, pada saat tertentu, dihambat oleh&amp;nbsp;perkembangan nalar yang semakin realis. Pertimbangan mirip dan tidak mirip mulai muncul menjadi penghambat tingkat ekspresivitas anak dalam menggambar. Beberapa&amp;nbsp;anak yang kurang percaya diri mulai suka menghapus gambar karyanya. Irama perkembangan masing-masing anak tidak ada sama persis. Meskipun demikian, hal yang sangat mengejutkan tampak pada gambar buatan anak-anak yang menjadi objek penelitian ini. Anak laki-laki maupun perempuan telah sangat terpengaruh oleh adanya tokoh-tokoh komik, terutama komik Jepang. Hal itu jelas tampak dalam gambar buatan mereka. Ada gambar yang dibuat secara khusus tentang tokoh komik semata, ada juga gambar peman-dangan alam Indonesia dengan tokoh-tokoh komik di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Pemerhati komik sudah mulai bermunculan. Salah satu di antaranya, yang giat melakukan seminar dan penelitian tentang pengaruh komik terhadap anak-anak di Indonesia, adalah Pusat Kajian Komik Indonesia (PKKI) pada Program Pascasarjana Program Studi&amp;nbsp; Kajian Wanita, Universitas Indonesia. Misalnya, mereka meneliti tentang daya tarik ko- mik Jepang bagi anak-anak di kota besar seperti Jakarta. Mereka melakukan kegiatan-kegiatan pemerhatian terhadap komik, berangkat dari kepedulian mereka tentang kondisi realistis anak-anak terkait dengan komik sebagai sumber pengaruh.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Majalah &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Intisari&lt;/i&gt;, Juni 2001, memuat tulisan Andrian W.D. yang mengangkat permasalahan "Kontroversi di Balik Film Kartun". Disebutkan, salah satu film kartun yang pernah ditayangkan oleh RCTI dihentikan penayangannya karena protes para orang&amp;nbsp;tua yang memandang bahwa film kartun tersebut terlalu banyak menonjolkan adegan&amp;nbsp;sadis, pertumpahan darah, dan balas dendam. Hal yang mengenaskan pernah terjadi di&amp;nbsp;Jepang, pemroduk film-film animasi (selalu dibuat lengkap dengan buku komiknya) yang populer. Peristiwa buruk terjadi antara tahun 1995-1996. Seorang murid menusuk gurunya. Peristiwa itu "diduga sebagai pengaruh film kartun &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Neon Genesis Evangelion&lt;/i&gt; yang yang tengah naik daun saat itu. Di dalamnya memang ada adegan salah satu Eva menusuk lawan dengan senjata serupa pisau &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;cutter.&lt;/i&gt; Akibat kasus itu, penayangan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;anime&lt;/i&gt; (film animasi, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;pengutip&lt;/i&gt;) di Jepang dibatasi (Andrian, 2001: 115).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Di Indonesia belum tercatat kasus menggemparkan akibat pengaruh komik, hal ini terkait dengan masih rendahnya minat baca masyarakat kita. Namun kini, setelah komik-komik asing dimunculkan lengkap dengan film animasi cerita yang sama di televisi, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;video game, play station, video compact disk (VCD), &lt;/i&gt;dan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;personal computer game,&lt;/i&gt; minat pembaca muda Indonesia tampaknya mulai bangkit. Akibat langsung dari film animasi dan lebih khusus komik bisa tampak dari kesukaan siswa sekolah dasar mengoleksi buku komik dan meniru-niru bentuk tokoh kesayangan mereka dalam bentuk gambar. Sejumlah orang tua berada pun telah mulai menyediakan fasilitas VCD driver dan mengoleksi aneka VCD berisi cerita animasi untuk anak-anaknya. Bahkan, dengan semakin mudahnya penyewaan VCD dan VCD driver semakin banyak orang yang terlibat langsung dengan penikmatan cerita animasi tersebut. Bisa kita periksa hingga ke pelosok desa kecil sekalipun, tempat penyewaan VCD bisa kita temukan. Juga, munculnya perkembangan hasil riset tentang media&amp;nbsp; penggandaan sejenis cakram, CD-R (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;compact disk recordable, &lt;/i&gt;CD yang bisa ditulisi ulang) dan CD-RW (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;compact disk recordable &amp;amp; writeable,&lt;/i&gt;CD yang bisa ditulisi ataupun dihapus-ulang isinya), sangat memudahkan penggandaan film animasi maupun game di atas CD. Kini, telah muncul pula jenis alat permainan elektronis yang bersaing dengan komputer maupun play station, seperti &lt;i&gt;game cube,&lt;/i&gt; yang semakin memperkaya perangkat pengenalan sekaligus pengembangan kecintaan terhadap cerita buatan luar negeri. Semua perangakat hiburan yang tergolong mewah tersebut telah nyata dimiliki oleh masyarakat Indonesia, tanpa banyak kesulitan untuk mendapatkannya. Apakah hal itu telah cukup dijadikan bukti bahwa masyarakat Indonesia masa kini “tidak terlalu terpengaruh” oleh kondisi krisis ekonomi yang selama ini dituding sebagai penyebab keterpurukan bangsa Indonesia?&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Copperplate Gothic Light', sans-serif;"&gt;4. Simpulan dan Saran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Komik karya pekomik Indonesia pernah mengalami beberapa kali &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;boom.&lt;/i&gt; Kesukaan para pembaca komik sempat menumbuhkan rasa khawatir berbagai pihak. Razia komik berulang kali dilakukan. Bahkan sampai pembakaran jenis komik tertentu. Dengan masuknya karya-karya pekomik asing ke Indonesia, menyebabkan beberapa kali kondisi penerbitan komik buatan dalam negeri mengalami keterpurukan. Hali itu terkait dengan kuali-tas karya dan kemudahan penerbitan komik asing. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Tema cerita komik yang banyak muncul menjadi garapan para pekomik Indonesia bisa dianggap sangat sejalan dengan tema komik-komik buatan pekomik asing. Tema cerita superhero banyak diolah pekomik Indonesia melalui cara meniru-cocokkan dengan kondisi dan nafas lokal. Di samping itu, tema cerita wayang, roman (percintaan, silat, dan sejarah), dongeng (kebanyakan terjemahan seperti karya H.C. Andersen), banyak juga digarap oleh pekomik Indonesia. Tema cerita yang muncul dalam komik-komik asing memang lebih beragam. Bisa diperiksa, misalnya tema-tema cerita sejenis Doraemon, Pokemon, dan Digimon, yang menggambarkan hayalan kehidupan anak-anak dengan teknologi tinggi; cerita anak untuk konsumsi orang tua (Crayon Shin-Chan, Detektif Conan, dan Dragon Balls), cerita remaja (Sailor Moon dan Candy-Candy), dan cerita untuk orang dewasa murni (Saint Seiya). &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Anak-anak sekolah dasar masa kini, tampak sangat tertarik oleh aneka cerita komik buatan seniman asing, terutama buatan seniman Jepang. Doraemon, Pokemon, Digimon, Dragon Ball, dan jenis cerita komik lainnya, telah begitu mengakar dalam ingatan anak-anak. Ketika anak-anak membuat gambar sebagai tugas yang diberikan oleh guru di sekolah, atau pun ketika menggambar suka hati di rumah, tokoh-tokoh cerita komik banyak muncul sebagai objek gambar kesukaan mereka. Oleh karena itu, komik sebagai karya seni rupa dan sastra, dalam batas tertentu bisa dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Kesukaan anak-anak terhadap cerita komik, pada satu sisi yang baik, bisa&amp;nbsp; dimanfaatkan dalam mengolah materi ajar bagai anak SD dalam bentuk komik juga.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Copperplate Gothic Light', sans-serif;"&gt;5. Daftar Pustaka Acuan &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: 'Copperplate Gothic Light', sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Andrian W.D., 2001. "Kontroversi di Balik Film Kartun", dalam majalah &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Intisari,&lt;/i&gt; Juni&amp;nbsp;2001&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Echols, John M. and Hassan Shadilly, 1990. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Kamus Inggris Indonesia.&lt;/i&gt; Cetakan ke-18.&amp;nbsp;Jakarta: Gramedia&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Gatra&lt;/i&gt;, No. 21 Tahun VII, 14 April 2001&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jajang S., 2000. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Tinjauan Seni.&lt;/i&gt; Buku Ajar pada Program Studi Pendidikan Seni Rupa,&amp;nbsp;STKIP Singaraja (tidak diterbitkan)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Jakarta-Jakarta&lt;/i&gt;, Mingguan No. 99, 27 Mei - 2 Juni 1988&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Jakarta-Jakarta,&lt;/i&gt; Mingguan No. 140, 12 Maret 1989&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Kompas&lt;/i&gt;, Minggu, 28 Januari 2001&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;McCloud, Scott, 2001. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Understanding Comics.&lt;/i&gt; Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Moeliono, Anton M. (djp.), 1990. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Kamus Besar Bahasa Indonesia.&lt;/i&gt; Jakarta: Balai&amp;nbsp;Pustaka&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Poerwadarminta, W.J.S., 1951. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Logat Ketjil Bahasa Indonesia.&lt;/i&gt; Jakarta: J.B. Walters-Groningen&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Poerwadarminta, 1976. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Kamus Umum Bahasa Indonesia.&lt;/i&gt; Jakarta: Balai Pustaka&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Wojowasito, S.,1976. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Kamus Umum Indonesia Inggeris.&lt;/i&gt; Bandung: Pangarang&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562622522429490936-7070093984139626067?l=rupasenirupa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/feeds/7070093984139626067/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2009/09/komik-dan-pengaruhnya-terhadap-gambar.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/7070093984139626067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/7070093984139626067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2009/09/komik-dan-pengaruhnya-terhadap-gambar.html' title='Komik dan Pengaruhnya terhadap Gambar Karya Anak-anak Sekolah Dasar'/><author><name>Je Suryana</name><uri>https://profiles.google.com/108432985872626695684</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-MfOlICd2i3U/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAATE/IwozjZU4t_0/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562622522429490936.post-6343692531801256690</id><published>2009-09-17T12:57:00.001-07:00</published><updated>2009-09-17T13:08:02.310-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gatra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='seni'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wayang kulit'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pembaruan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='seni rupa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wayang golek'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Museum Wayang'/><title type='text'>MENGGAGAS PERTUNJUKAN WAYANG KULIT BERWARNA</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Oleh Jajang Suryana&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold; "&gt;PENDAHULUAN&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Pertunjukan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;wayang kulit&lt;/i&gt; adalah pertunjukan wayang yang menggunakan &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;kelir&lt;/i&gt; atau layar. Kelir berfungsi sebagai media untuk menampilkan bayang. Oleh karena itu, istilah wayang diartikan sebagai bayangan. Tetapi, pengertian bayangan tersebut tidak sekedar berupa bayangan yang tergambar pada kelir. Bayangan atau &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;wayang&lt;/i&gt; pada hakekatnya adalah gambaran kehidupan manusia.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Selama ini, pertunjukan wayang kulit cenderung dalam tampilan yang ekawarna (monokrom). Warna-warna penghias wayang yang menggambarkan ciri watak tokoh, tidak pernah tampil pada kelir. Secara lihatan, terutama dalam pertunjukan, warna-warna itu tidak pernah diolah oleh dalang untuk memperkuat penampilan watak tokoh cerita, karena &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;pertunjukan &lt;/i&gt;yang ekawarna dan sifat bahan kulit yang tak tembus cahaya. Memang, pada pertunjukan wayang kulit yang kerap disiarkan oleh stasiun televisi, seperti yang dilakukan setiap malam Minggu (mulai tahun 1996) melalui stasiun teve swasta &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;Indosiar&lt;/i&gt;, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; pertunjukan wayang kulit berwarna sudah dilakukan. "Peran tata cahaya ini", tulis Halyadi dalam harian &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Kompas&lt;/i&gt; (Rabu, 9 Oktober: 1996), "ternyata berpenagaruh pada jalannya pertunjukan. Pemakaian tata cahaya yang berbeda saat adegan di balairung dan di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;medan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; laga membuat pertunjukan semakin kaya akan segi estetik tanpa meninggalkan unsur tradisional".&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Wayang adalah jenis kesenian lama yang bisa bertahan hidup hingga masa kini, dan tetap mendapat dukungan masyarakat pencintanya. Tetapi, di samping itu, banyak kesenian tradisional yang telah punah. Penyebab kepunahannya, di antaranya bisa diperkirakan, karena tidak ada masyarakat pendukungnya. Sejalan dengan perubahan waktu, pandangan masyarakat terhadap salah satu jenis kesenian pun ikut mengalami perubahan. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; jenis-jenis kesenian tertentu yang tidak dianggap memiliki hubungan batin dengan kehidupan masyarakat masa kini. Oleh karena itu, kesenian tersebut ditinggalkan, tak didukung keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Sebagai kesenian masa lalu yang sekligus kesenian masa kini, keberadaan wayang, seperti yang disebutkan dalam beberapa prasasti, telah sangat tua. Dalam prasasti &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;tembaga &lt;/i&gt;(840 M./762 Çaka) disebut kata &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;aringgit&lt;/i&gt; yang berarti &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;tukang wayang&lt;/b&gt; atau &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;dalang.&lt;/b&gt; Kata &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;parbhwayang&lt;/i&gt; atau &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal"&gt;pertunjukan wayang&lt;/b&gt;, yang merupakan salah satu nama kelompok kesenian, disebut dalam &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;prasasti Ugraçena &lt;/i&gt;(896 M.). &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;"Sigaligi &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal"&gt;mawayang&lt;/b&gt; buat Hyang, macarita ya &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal"&gt;Bhima Kumara&lt;/b&gt;", &lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;merupakan satu kalimat yang tertera dalam &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;prasasti Balitung&lt;/i&gt; yang berangka tahun 907 M./829 Çaka (Buku Panduan Pameran Wayang Kulit Koleksi Museum Bali, 1979: 2). Mertosedono (1990: 18) menyebutkan bahwa wayang purwa pertama yang menggambarkan wajah dewa, terbuat dari daun tal, adalah milik Sri Jayabaya, raja Mamonang, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Kediri&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; (939 M.). Salah satu catatan yang paling populer tentang pertunjukan wayang adalah yang tertera dalam &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;kakawin Arjunawiwaha,&lt;/i&gt; yang digubah oleh Mpu Kanwa abad ke-11. Dalam kakawin tersebut diceritakan bahwa penonton wayang menangis sedih karena terpengaruh oleh isi ceritanya (Wibisono, 1983: 59; LRKN-LIPI, 1986: 143; dan Mertosedono, hal. 7). Sumber yang kerap diacu oleh para penulis buku wayang.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Sukasman (1993: 37) bersiteguh bahwa kesinambungan wayang, dalam pakem raut, watak tokoh, dan cerita utamanya, sejak masa lalu hingga kini, karena keluwesannya sehingga selalu dianggap sesuai dengan situasi apa pun. Selanjutnya Sukasman menyebutkan: "Kenyataannya bahwa wayang dapat bertahan, dapat berhasil sebagai media dakwah, bahkan mencapai puncak jaman keemasannya pada jaman yang seharusnya mencampakkannya, ini hanya sekedar bukti hasil kerja keras dari para pendukungnya yang dipimpin para wali".&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Berdasarkan alasan tersebut, Sukasman mempersamakan nilai wayang seperti nilai ilmu pengetahuan eksakta, teknologi, atau pun sistem religi, yang menunjukkan kebenaran tertentu. Tetapi, meskipun demikian Sukasman masih menyadari perlunya menumbuhkan kreativitas para juru wayang.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Hingga kini, pertunjukan wayang masih tetap disukai oleh masyarakat tertentu. Guritno (dalam Ismunandar, 1988: 62) menyebutkan bahwa di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, khususnya di Pulau Jawa, tercatat sekitar 40 jenis wayang. Sebagian di antaranya telah punah, sebagian lagi hanya tercatat pada Museum Wayang Jakarta Kota, tetapi tidak diketahui secara pasti keberadaan wayang-wayang tersebut. Beberapa jenis wayang, seperti wayang kulit purwa (berbahasa Jawa), wayang golek purwa (berbahasa Sunda), wayang wong (berbahasa Jawa), dan wayang langendria (wayang tari berbehasa Jawa) masih kerap dipertunjukkan. Bahkan, wayang kulit purwa &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;gagrag&lt;/i&gt; tertentu, lebih khusus lagi wayang golek purwa, sejak tahun 1980-an telah mengalami masa kebangkitan (kembali) sebagai suatu seni pertunjukan masa kini.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Keberhasilan yang dicapai para dalang dalam menampilkan pertunjukan wayang masa kini, terkait dengan hasil usaha para dalang dan juru wayang (pembuat wayang) dalam mengubah beberapa hal. Perubahan itu --tanpa merusak ugeran pakem-- menyangkut penceritaan (cerita carangan), tampilan sejumlah tokoh cerita (tokoh baru seperti &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;buta&lt;/i&gt; dan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;emban&lt;/i&gt;), maupun penyesuaian tampilan yang sejalan dengan tuntutan penonton masa kini.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Belajar dari keberhasilan "Gebrakan 80-an", sebuah gebrakan pertunjukan wayang golek purwa "baru" yang dilakukan oleh para dalang wayang golek dari Keluarga Giriharja, Jelekong, Kabupaten Bandung, wayang kulit purwa bisa "dihidupkan" kembali. Ade Kosasih Sunarya (Jajang S., 1995: 78-81) memiliki keberanian dan kreativitas dalam menyodorkan sesuatu yang baru, sebuah inovasi pertunjukan wayang golek purwa, tanpa harus melunturkan kekentalan ikatan pakem.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Pertunjukan wayang golek purwa memarak kembali, setelah sangat lama tidak mendapat perhatian masyarakat pendukungnya. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; dalang menemukan kembali kehidupan dunianya. Tanpa sungkan, mereka mengekor &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;pertunjukan &lt;/i&gt;yang dikembangkan oleh Keluarga Sunarya dari Giriharja II, Jelekong itu. Muncullah tokoh-tokoh lakon baru yang diolah sejalan dengan selera penonton masa kini, seperti tokoh &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;buta&lt;/i&gt; (raksasa) yang bisa pecah kepalanya ketika sedang berperang; tokoh panakawan yang bermain alat musik modern seperti gitar; atau tokoh-tokoh lakon yang bisa bersilat dengan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; pekungfu dari biara Shaolin. Pada pertunjukan wayang kulit purwa pun, misalnya yang ditampilkan oleh dalang Anom Soeroto, ada tokoh cerita yang bisa bersalto, bermain musik &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; penge&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;band, &lt;/i&gt;menunggang kuda terbang, dan lain-lain. Kecenderungan maraknya model pertunjukan yang mengutamakan tingginya teknik memainkan wayang &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; masa kini semakin merebak. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; penghuni sekolah, para akademisi, para pegawai kantor, dan para pengelola hotel berbintang, merasa bangga mementaskan wayang golek purwa dan wayang kulit purwa di tempat tinggalnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;"Gebrakan baru" yang sama perlu dikembangkan dalam upaya mengakrabkan wayang kulit purwa Buleleng kepada khalayak, terutama kepada kaum muda. Sebagai pilihan pertama dalam upaya memasukkan unsur baru dalam penggarapan wayang kulit purwa Buleleng, adalah &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;pengayaan bahan pembuatan wayang. Plastik mika&lt;/b&gt; adalah bahan alternatif yang bisa dijadikan media untuk &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;memperkaya jenis wayang, menghasilkan jenis wayang baru.&lt;/b&gt; Seperti pada masa lalu, pertambahan jenis wayang berjalan sesuai dengan kebutuhan waktu. Pada awalnya, wayang hanya berupa wayang batu, kemudian muncul wayang dari kulit kayu, dari daun tal, dari kertas (wayang bèbèr), dari kulit binatang (wayang kulit), dari kayu bulat torak (wayang golek), dari kayu pipih (wayang klithik), dan bahkan dari bahan seng (lihat koleksi Museum Wayang Jakarta Kota).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold; "&gt;PEMBAHASAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Pengayaan bahan pembuatan wayang ini menuntut cara mempertunjukkan yang lain. Yaitu, &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal"&gt;cara&lt;/b&gt; dan &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;pertunjukan&lt;/i&gt; wayang berkelir (wayang kulit) yang berwarna. &lt;/b&gt;Tampilan berwarna bayangan wayang mika pada kelir akan didukung oleh &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;efek pencahayaan yang juga nekawarna.&lt;/b&gt; Pembaruan&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt; pertunjukan&lt;/i&gt; wayang (kulit), wayang yang ditampilkan dengan menggunakan kelir, menjadi pertunjukan wayang yang penuh warna, merupakan upaya menarik minat para penonton muda yang pewaris budaya wayang, yang sudah terbiasa menonton berbagai acara televisi yang nekawarna.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Perubahan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;pertunjukan&lt;/i&gt; dan pengayaan jenis wayang, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;tidak mengubah pakem. &lt;/i&gt;Pakem wayang di antaranya mengikat &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;jejer carita&lt;/i&gt; (jalan cerita utama), raut tampang, watak, dan penokohan. Sabetan dan &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;pertunjukan&lt;/i&gt;, seperti pertunjukan melalui radio, rekaman kaset, maupun pada acara teve, sudah lama diterima oleh masyarakat pendukung wayang tanpa protes. Begitu pun lahirnya jenis wayang baru yang telah begitu lama kita ketahui, tidak menjadi permasalahan dalam pembicaraan tentang pakem. Wayang mika, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; pertunjukan wayang berkelir yang berwarna, pada dasarnya mengacu kepada keadaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Tulisan ini dimaksudkan untuk menggagas upaya pelestarian salah satu hasil budaya milik bangsa &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang berharga, yang telah diakui sebagai salah satu benda budaya milik dunia. Pelestarian bisa berarti pelanjutan secara utuh atau hanya sekadar pengembangan. Pengayaan bahan pembuatan wayang kulit, pengembangan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; pertunjukan wayang kulit berwarna, termasuk ke dalam bentuk usaha pelestarian tadi. Yang mengilhami gagasan ini adalah keberadaan wayang kulit purwa Buleleng.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Wayang kulit purwa Buleleng hingga saat ini kurang begitu akrab dengan masyarakat pendukungnya, terutama dengan kaum muda. Dari hasil wawancara awal, banyak kaum muda yang menyatakan kurang menyukai pertunjukan wayang kulit ini. Kendala pertama yang diakui oleh sejumlah kaum muda Buleleng, adalah unsur bahasa yang digunakan dalang dalam mempertunjukkan wayang. Bahasa pengantar pertunjukan wayang adalah bahasa yang tidak dimengerti oleh kaum muda, yaitu bahasa Jawa Kuna. Kendala kedua menyangkut segi pertunjukan wayang yang kurang sesuai dengan dunia kaum muda.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Pewarisan budaya adalah pengalihan tanggung jawab dari generasi tua kepada generasi muda. Seandainya kaum muda sebagai kelompok yang akan diwarisi budaya tidak memiliki ikatan kepemilikan terhadap sesuatu yang akan diwariskan, maka proses penurunan tidak akan berjalan mulus. Sejumlah seni tradisional yang pada dasarnya menunjukkan nilai-nilai kepiawaian bangsa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, telah punah tanpa sempat terdokumentasikan, apalagi terwariskan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Wayang kulit purwa Buleleng yang selama ini lebih banyak --khususnya-- digunakan untuk kebutuhan melengkapi upacara &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;manusa yadnya,&lt;/i&gt; bisa diperluas jangkauan fungsinya, bukan sebagai media &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;tuntunan&lt;/b&gt; semata. Tuntunan yang terkandung dalam penceritaan wayang, akan lebih banyak tersampaikan bila kesempatan mempertunjuk-kan wayang itu lebih banyak dan lebih memasyarakat. Salah satu usaha untuk mendekatkan wayang kulit purwa Buleleng dengan masyarakat masa kini, terutama untuk menjangkau masyarakat penonton muda adalah melalui pembaruan tampilan wayang.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Sejak abad ke-9 (tercatat dalam prasasti tembaga dan Ugraçena) pertunjukan wayang telah ada di Nusantara. Bentuk dan jenis wayang yang dipertunjukkan tidak disebutkan di dalam prasasti tersebut. Pada awalnya, menurut perkiraan para dalang, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;wayang kulit &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: normal; "&gt;pertama terbuat dari kulit kayu (Jajang S., 1995: 48-49). Unsur agama Hindu (cerita &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;Bhima Kumara: Mahabharata&lt;/i&gt;) di samping unsur cerita pemujaan terhadap arwah para leluhur, dipakai secara berdampingan sebagai unsur cerita wayang. Selanjutnya muncul wayang lontar yang disebut sebagai wayang purwa pertama. Sekitar tahun 1200-an tercatat adanya wayang kertas yang selanjutnya disebut &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;wayang bèbèr &lt;/i&gt;(Tabrani, 1991: 6). Baru pada abad &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;ke-13 tercatat adanya wayang yang terbuat dari bahan kulit binatang yang disebut &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;wayang prampogan, &lt;/i&gt;rombongan. Tercatat pula wayang yang dibuat dari bahan kayu pipih (&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;wayang klithik&lt;/i&gt;), kayu bulat torak (&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;wayang golek&lt;/i&gt;), dan seng.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Di Bali, ada beberapa prasasti, babad, dan relief yang bisa dipakai sebagai petunjuk tentang keberadaan wayang. &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Prasasti Bebetin&lt;/i&gt; (896 M./818 Çaka) atau yang lebih dikenal dengan &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Prasasti Ugraçena&lt;/i&gt;, dan &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;prasasti Pandak Gede&lt;/i&gt; (1045 M. /993 Çaka) merupakan dua buah prasasti yang secara jelas mencatat adanya wayang di &lt;st1:place st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt;. Relief yang menggambarkan Semara Ratih, &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;relief perunggu,&lt;/i&gt; yang disimpan bersama-sama dengan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;prasasti Anak Wungsu&lt;/i&gt; (1071 M.) dan dipergunakan untuk hiasan gantungan &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;pontar &lt;/i&gt;merupakan bentuk wayang tertua yang ada di Bali. Di samping itu, pada &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;prasasti tembaga&lt;/i&gt; (1204 M.) yang tersimpan di Pura Kehen Bangli, digambarkan Batara Guru yang bentuknya mendekati bentuk pelukisan wayang di &lt;st1:place st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt; saat ini. Dalam babad lain, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;babad Dalem&lt;/i&gt;, disebutkan bahwa Sri Dalem Semara Kepakisan pernah pergi ke Majapahit dan pulangnya, di antaranya, membawa hadiah berupa sekotak wayang kulit. Pada waktu raja Mengwi memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke Blambangan, raja sempat membawa &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;wayang gambuh,&lt;/i&gt; yang kini masih tersimpan di Blahbatuh (Suartha, 1993: 14).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Salah satu bentuk wayang peninggalan masa lalau yang kini masih bertahan hidup di lingkungan masyarakat pendukungnya adalah &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;wayang kulit purwa Buleleng.&lt;/i&gt; Wayang kulit ini dikelompokkan sebagai wayang purwa karena ceritanya menyangkut lakon &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Mahabharata&lt;/i&gt; dan &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Ramayana.&lt;/i&gt; Wayang kulit purwa ini bisa bertahan hidup karena merupakan bagian dari upacara keagamaan. Setiap upacara &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;manusa yadnya&lt;/i&gt; (ruatan, kelahiran, dan &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;wetonan&lt;/i&gt;), &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;pitra yadnya&lt;/i&gt; (&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;nyekah&lt;/i&gt;), dan juga &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;dewa yadnya&lt;/i&gt; pertunjukan wayang merupakan salah satu bagian pelengkapnya. Jenis wayang yang digunakan adalah &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;wayang gedog&lt;/i&gt; atau &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;wayang lemah&lt;/i&gt; yang dipertunjukkan pada siang hari. Tetapi, di samping itu, pada saat-saat seperti &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;kaulan,&lt;/i&gt; misalnya, wayang ini pun kerap dipertunjukkan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Pertunjukan wayang untuk keperluan pelengkap upacara keagamaan cenderung sebagai pertunjukan yang fragmentaris, berupa potongan-potongan cerita yang disesuaikan dengan jenis upacara dan pesanan pengundang. Waktu pertunjukan yang sangat pendek, penyampaian cerita yang terbatas, dan penonton juga yang terbatas, menyebabkan penyampaian &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;tuntunan&lt;/b&gt; yang merupakan fungsi awal wayang, kurang terolah. Apalagi jika mempertimbangkan wayang sebagai &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;tontonan. &lt;/b&gt;Memang ada pertunjukan wayang yang lebih banyak ditujukan untuk keperluan tontonan, hiburan, yaitu pertunjukan wayang malam hari pada rangkaian upacara &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;ngaben&lt;/i&gt; misalnya, tetapi faktor bahasa tetap menjadi kendala bagi penonton.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Seperti disebutkan di atas, salah satu kendala yang menyebabkan kurang akrabnya generasi muda dengan pertunjukan wayang kulit purwa Buleleng adalah masalah penggunaan bahasa yang kurang dekat dengan mereka. Soal bahasa, sebagai alat penyampai tuntunan, memegang peranan penting dalam proses ketersampaian pesan. Di samping itu, unsur pertunjukan baik ujaran (&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;audio&lt;/i&gt;) maupun tampilan (&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;visual&lt;/i&gt;) --pada adasarnya merupakan bagian paling penting dalam kesenian wayang-- adalah daya penarik utama yang bisa mengoptimalkan wayang sebagai media penyampai tuntunan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Perubahan bahan pembuatan wayang telah berulang kali dilakukan. Dari sekitar 40 jenis wayang yang pernah tercatat hidup dalam kesenian &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, wayang-wayang tersebut (di luar wayang orang dan wayang langendria) umumnya terbuat dari bahan kulit binatang, kertas, dan kayu (pipih maupun bulat torak). Perubahan tersebut berjalan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Hasil karya ini adalah manifestasi dari pergeseran nilai akibat perubahan nilai fungsi wayang (Yudoseputro, 1993: 42). Keselarasan antara fungsi wayang dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungan zamannya harus merupakan pertimbanggan yang penting.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Ketika “pertunjukan” wayang hanya hanya bisa ditampilkan melalui relief batu pada bangunan candi, wayang batu telah menjadi alat tuntunan yang cukup pada masanya. Tetapi, ketika para pewarta tuntutan itu (“dalang”) perlu memperlebar jangkauan tempat menunjukkan kandungan cerita wayang, wayang batu tidak lagi dainggap sarana yang praktis. Maka, muncullah wayang bébér yang dibuat di atas sejenis bahan pipih dan rata: kulit kayu, kertas, atau pun kain. Wayang yang lebih menyerupai gambar cerita ini bisa digunakan untuk menyampaikan isi cerita oleh dalang tanpa batas ruang dan tempat.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Seorang dalang wayang bébér bisa membawa perangkat wayang ke mana saja ketika dia akan bercerita, menyampaikan tuntunan. Munculnya wayang kulit, jenis wayang yang paling banyak didapatkan di Jawa (terutama), Sumatera, Kalimantan, Bali, dan &lt;st1:place st="on"&gt;Lombok&lt;/st1:place&gt;, sejalan dengan kepentingan pengembangan sarana tuntunan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Ketika para pengguna wayang masa lalu menyadari “keterbatasan” wayang kulit sebagai sarana tuntunan dan tontonan, para pemikir bidang wayang pada masa lalu merasa perlu menciptakan bentuk wayang lain yang lebih cocok untuk kepentingan pengembangan tuntunan kepada masyarakat. Wayang kulit, pada awalnya, ditampilkan mengandalkan cahaya bulan purnama. Perubahan muncul ketika sumber pencahayaan diganti dengan &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;blencong&lt;/i&gt;, lampu cempor, atau lampu minyak.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Pembuatan wayang baru yang menuntut cara mempertunjukkan yang agak lain dari biasanya perlu dilakukan. Wayang mika yang akan mampu menampilkan efek berwarna jika ditampilkan seperti dalam pertunjukan wayang kulit, merupakan salah satu jawaban untuk memenuhi hasrat masyarakat penonton masa kini yang telah terbiasa menonton pertunjukan yang penuh warna. Penggunaan pencahayaan yang nekawarna, disesuaikan dengan tampilan watak tokoh dan suasana cerita, akan lebih menghidupkan isi cerita. Nilai tuntunan bukan terletak pada wujud atau bentuk medianya, tetapi pada keefektifan media tersebut dalam memberi rangsang persitindakan dengan orang yang akan menerima penyampaian tuntunan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Pengenalan bahan mika, bahan pewarna mika, dan efek khusus bayangan wayang, bisa menambah wawasan dan memperkaya pengalaman bagi para juru wayang dan para dalang. Pengayaan bahan pembuatan wayang menghasilkan jenis wayang baru, wayang mika. Hal itu merupakan sumbangan yang berarti bagi peragaman dan pengembangan kekayaan khazanah perwayangan milik bangsa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;Wayang mika&lt;/b&gt; atau &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;wayang yang dibuat dari bahan plastik mika, &lt;/b&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;bukan merupakan gagasan baru. Perubahan bahan pembuatan wayang, seperti diuraikan di atas, sudah sejak lama dilakukan. Perubahan bahan itu tentu saja disesuaikan dengan tuntutan zaman. Mika yang papar seperti kulit samakan, bisa ditatah menjadi wayang, diwarnai dengan teknik pewarnaan yang jernih (transparan, tembus pandang). Warna mika maupun warna watak tokoh wayang yang digambarkan secara simbolis pada bagian tubuh wayang, bisa menampilkan bayangan yang nekawarna pada kelir; bukan tampilan yang ekawarna seperti pada &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;pertunjukan &lt;/i&gt;wayang kulit yang lazim.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Pengembangan wayang bukanlah hal yang tabu. Masyarakat Bali pada umumnya memiliki daya dukung sistem sosial yang disebut &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;jengah&lt;/i&gt; (Mantra, 1992: 13). Kata jengah, dalam hubungannya dengan seni &lt;st1:place st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt;, mengandung makna tautan (konotatif) &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;competitive pride&lt;/i&gt; atau semangat untuk bersaing. Sifat jengah didukung &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;taksu&lt;/i&gt; atau &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;inner power&lt;/i&gt;, yaitu kreativitas budaya. Penciptaan wayang baru (wayang mika) dan penggagasan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; pertunjukan wayang kulit yang penuh warna, bermanfaat untuk membangkitkan kembali kekuatan jengah dan taksu yang merupakan ciri khas masyarakat Buleleng.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal"&gt;&lt;o:p&gt;PENUTUP&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Penikmatan boneka wayang, dalam bentuk apa pun (wayang golek, wayang kulit, wayang klithik, wayang beber) tidak pernah menyentuh unsur-unsur rupa-nya. Warna-warni dan hiasan-hiasan yang menjadi penanda tokoh wayang, tak pernah dipedulikan sebagai bentuk keindahan yang sedap untuk dinikmati. Boneka wayang baru diperlakukan sebagai &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;pelengkap&lt;/i&gt; pertunjukan sebuah cerita. Padahal, boneka wayang adalah karya seni rupa yang sangat sarat ekspresi perupanya, sekalipun dalam perupaannya tetap diikat pakem tertentu, pakem gambaran tokoh.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:18.0pt;text-align:justify;text-indent: -18.0pt"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;SUMBER RUJUKAN&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:18.0pt;text-align:justify;text-indent: -18.0pt"&gt;1. BUKU&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:18.0pt;text-align:justify;text-indent: -18.0pt"&gt;Ahmad, A. Kasim, (djp.), t.th. &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Ungkapan Beberapa Bentuk Kesenian (Teater, &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: normal; font-weight: normal; "&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Wayang, Dan Tari).&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Direktorat Kesenian, Proyek Pengembangan Kesenian Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:18.0pt;text-align:justify;text-indent: -18.0pt"&gt;Amir, Hazim, 1991. &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Nilai-nilai Etis Dalam Wayang.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Pustaka Sinar Harapan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:18.0pt;text-align:justify;text-indent: -18.0pt"&gt;Direktorat &lt;st1:place st="on"&gt;Museum&lt;/st1:place&gt;, Ditjend. Kebudayaan, Departemen P &amp;amp; K, 1979. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Pameran&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;Wayang&lt;/st1:place&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;Kulit&lt;/st1:place&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;Museum&lt;/st1:place&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt;.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:18.0pt;text-align:justify;text-indent: -18.0pt"&gt;Fischer, Joseph (Ed.), 1990. &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Modern Indonesian Art.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt; Three Generations of Tradition And Change 1945-1990. &lt;/i&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt; and &lt;st1:place st="on"&gt;New  York&lt;/st1:place&gt;: Pameran KIAS (1990-91) and Festivas of &lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:18.0pt;text-align:justify;text-indent: -18.0pt"&gt;Guritno, Pandam, 1988. &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Wayang, Kebudayaan &lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;, Dan Pancasila.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;: UI-Press.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:18.0pt;text-align:justify;text-indent: -18.0pt"&gt;Ismunandar K., R.M., 1988. &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Wayang, Asal-Usul Dan Jenisnya.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;Semarang&lt;/st1:place&gt;: Dahara Prize.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:18.0pt;text-align:justify;text-indent: -18.0pt"&gt;Kayam, Umar, 1981. &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Seni, Tradisi, Masyarakat.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;: Sinar Harapan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:18.0pt;text-align:justify;text-indent: -18.0pt"&gt;Mantra, I.B., 1992. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:  normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Bali&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;: Sosial Budaya Dan Modernisasi.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Denpasar: Upada Sastra.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:18.0pt;text-align:justify;text-indent: -18.0pt"&gt;Mellema, R.L., 1954. &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Wayang Puppets, Carving, Colouring And Symbolism.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Koninklijk Instituut voor de Tropen.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:18.0pt;text-align:justify;text-indent: -18.0pt"&gt;Poerwadarminta, W.J.S., 1991. &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Kamus Umum Bahasa &lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Jalarta: Balai Pustaka.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:18.0pt;text-align:justify;text-indent: -18.0pt"&gt;Sagio dan Samsugi, 1991. &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Wayang Kulit Gagrag &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;. &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;: Haji Masagung.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:18.0pt;text-align:justify;text-indent: -18.0pt"&gt;Sedyawati, Edi dan Sapardi Djoko Damono (Peny.), 1989. &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Seni Dalam Masyarakat &lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;: Gramedia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Soedarso, Sp., 1987. &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Wanda, Suatu Studi Tentang Resep Pembuatan Wanda-wanda &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: normal; font-weight: normal; "&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;     &lt;/span&gt;Wayang Kulit Purwa Dan Hubungannya&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dengan Presensi Realistik.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Proyek &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;           &lt;/span&gt;Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi), Ditjend, Depdikbud.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:18.0pt;text-align:justify;text-indent: -18.0pt"&gt;Soekanto, 1992. &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Wayang Kulit Purwa,&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt; Klasifikasi, Jenis, Dan Sejarah.&lt;/i&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;Semarang&lt;/st1:place&gt;: Aneka Ilmu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:18.0pt;text-align:justify;text-indent: -18.0pt"&gt;Suryana, Jajang. 2001. &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;Wayang Golek Sunda. Kajian Estetis Rupa Tokoh Golek.&lt;/i&gt; Bandung: Kiblat Buku Utama (Yayasan Adikarya IKAPI &amp;amp; The Ford Foundation)&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:18.0pt;text-align:justify;text-indent: -18.0pt"&gt;Suseno, Franz Magnis, 1991. &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Wayang Dan Panggilan Manusia.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;: Gramedia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:18.0pt;text-align:justify;text-indent: -18.0pt"&gt;Tim Lembaga Research Kebudayaan Nasional (LRKN-LIPI), 1986.&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt; Kapita Selekta Manifestasi Budaya &lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:place&gt;: Alumni.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:18.0pt;text-align:justify;text-indent: -18.0pt"&gt;Wibisono, Gunawan, 1974. &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;"Wayang Sebagai Sarana Komunikasi".&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Bunga Rampai (1983). &lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;: Gramedia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:18.0pt;text-align:justify;text-indent: -18.0pt"&gt;Widodo, Ki Marwoto Panenggak, 1990. &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Tuntunan Ketrampilan Tatah Sungging Wayang Kulit.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:place&gt;: Citra Jaya Murti.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:18.0pt;text-align:justify;text-indent: -18.0pt"&gt;Yudoseputro, M. Wiyoso dan M. Sulebar Soekarman, 1993. &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Rupa Wayang Dalam Seni Rupa Kontemporer &lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;: Senawangi &amp;amp; Institut Kesenian Jakarta-LPKJ.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:18.0pt;text-align:justify;text-indent: -18.0pt"&gt;2.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;SKRIPSI, TESIS, DISERTASI, BUKU AJAR&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:18.0pt;text-align:justify;text-indent: -18.0pt"&gt;Jajang S., 1995. &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Kajian Tentang Raut Wayang Golek Sunda Dtitinjau Dari Latar Belakang Watak Tokoh. &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;Tesis pada Jurusan Seni Rupa Dan Desain, Fakultas Pascasarjana, Institut Teknologi Bandung.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Jajang S., 1997. &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Wayang Golek Purwa.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Buku Ajar Pada Program Studi Pendidikan Seni &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;      &lt;/span&gt;Rupa, Jurusan Pendidikan Bahasa Dan Seni, STKIP Singaraja&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:18.0pt;text-align:justify;text-indent: -18.0pt"&gt;Rimbawa, I Made, 1993. &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Kerajinan Wayang Kulit Di Nagasepaha Buleleng.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Skripsi pada Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Jurusan Pendidikan Bahasa Dan Seni, STKIP Singaraja.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:18.0pt;text-align:justify;text-indent: -18.0pt"&gt;Tabrani, Primadi, 1991. &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Meninjau Bahasa Rupa Wayang Beber Jaka Kembang Kuning Dari Telaah Cara Wimba Dan Tata Ungkapan Bahasa Rupa Media Ruparungu Dwimatra Statis Modern, Dalam Hubungannya Dengan Bahasa Rupa Gambar Prasejarah, Primitif, Anak, Dan Relief Cerita Lalitavistara Borobudur.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Disertasi pada Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:18.0pt;text-align:justify;text-indent: -18.0pt"&gt;3.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;MAKALAH&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:18.0pt;text-align:justify;text-indent: -18.0pt"&gt;Soedarso, Sp., 1987. &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Morfologi Wayang Kulit, Wayang Kulit Ditinjau Dari Jurusan Bentuk.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Pidato Ilmiah Pada Dies Natalis Ketiga Institut Seni &lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:18.0pt;text-align:justify;text-indent: -18.0pt"&gt;4.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;MAJALAH&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:18.0pt;text-align:justify;text-indent: -18.0pt"&gt;Majalah &lt;st1:place st="on"&gt;Warta&lt;/st1:place&gt; Wayang &lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Gatra.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;: Sekretariat Nasional Pewayangan &lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt; "SENAWANGI".&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:18.0pt;text-align:justify;text-indent: -18.0pt"&gt;Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Seni, &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;SENI. &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;: BPISI.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left:18.0pt;text-align:justify;text-indent: -18.0pt"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1562622522429490936-6343692531801256690?l=rupasenirupa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/feeds/6343692531801256690/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2009/09/menggagas-pertunjukan-wayang-kulit.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/6343692531801256690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1562622522429490936/posts/default/6343692531801256690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rupasenirupa.blogspot.com/2009/09/menggagas-pertunjukan-wayang-kulit.html' title='MENGGAGAS PERTUNJUKAN WAYANG KULIT BERWARNA'/><author><name>Je Suryana</name><uri>https://profiles.google.com/108432985872626695684</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-MfOlICd2i3U/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAATE/IwozjZU4t_0/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1562622522429490936.post-2690925560026776249</id><published>2009-08-30T06:54:00.000-07:00</published><updated>2009-08-30T07:01:27.989-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='M. Duyeh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ITB'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Asep Sunandar Sunarya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sunda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wayang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wayang golek'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Museum Wayang'/><title type='text'>Menghidupkan Golek Dalam Buku</title><content type='html'>&lt;h1 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="  font-weight: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;O&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" font-weight: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;leh Drs. Jajang Suryana, M.Sn.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;1. PENGANTAR&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;(Sebuah Hasil Interpretasi)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Ada sebuah peribahasa Sunda lama yang berbunyi: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;“elmu lain tina daluang tapi ti pada urang”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt; Isi peribahasa yang merupakan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;petuah, pelajaran&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt; (&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Kamus Umum Basa Sunda, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;1992: 44); &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;mengiaskan maksud &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Kamus Umum Bahasa Indonesia,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt; 1991: 738); &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;nasihat, prinsip hidup, atau aturan tingkah laku &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Kamus Besar Bahasa Indonesia, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;1990: 671), boleh jadi telah diwariskan secara turun temurun. Selanjutnya, kandungan petuah tadi dijadikan dasar sikap hidup.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Secara umum peribahasa tadi bisa ditafsirkan sebagai berikut. Padan kalimatnya: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;“ilmu bukan dari kertas (buku) tetapi dari manusia”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt; Isi kalimat tadi bisa mengandung dua arti: 1) untuk mendapatkan ilmu bukan melalui belajar sendiri, tetapi melalui proses guru-murid; 2) mencari ilmu itu cukup dari belajar kepada orang saja, bukan dari buku. Tafsiran yang pertama sudah umum kita ketahui keberadaannya. Belajar, pada masa kini, sebagai sesuatu yang amat mendasar, harus ada guru, di sekolah atau pendidikan formal. Tetapi, tafsiran kedua, kalau memang benar, agak mengundang kekhawatiran. Berguru itu sangat perlu dalam kegiatan mengumpulkan ilmu, sebaliknya belajar sendiri, mengolah ilmu dari buku, atau mengolah ilmu menjadi buku, dianggap sesuatu yang tidak penting!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Berangkat dari kenyataan bahwa buku Ki Sunda yang mencatat masalah hasil olah budi dan daya masyarakatnya sangat kurang, muncul interpretasi tentang keterkaitan antara kenyataan dengan isi peribahasa tersebut, terutama dengan isi tafsiran yang kedua. Masyarakat Sunda telah begitu banyak melahirkan hasil olah pikir dan rasanya dalam bentuk gubahan: dengaran, lihatan, dengaran dan lihatan, maupun yang kasat mata. Mereka merespon lingkungan alam maupun sosial untuk mendapatkan kemaslahatan hidup. Tetapi catatan lengkap tentangnya tidak banyak kita dapatkan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Gubahan berbentuk &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;tembang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;igel, igel-tembang, tabuh, alat tabuh, carita, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;dan aneka perkakas kerja maupun hiburan, begitu banyak jenisnya yang dilahirkan oleh masyarakat tatar Pasundan. Kekayaan tersebut, waktu demi waktu, sebagian telah ditinggalkan penggunanya. Sejumlah kesenian &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;buhun&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt; mulai kehilangan pendukung. Para pelaku aktifnya tidak sempat menurunkan pengalaman, kesukaan, maupun rasa penghargaan kepada generasi penerusnya. Lalu, jenis hasil olah nalar dan tanggapan hati yang masih ada, cukup memiliki pendukung, kurang diperhatikan keberadaannya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Wayang golek sebagai contoh, selanjutnya cukup disebut golek (bisa mengacu kepada boneka wayang maupun pertunjukan) masih diperlakukan sebagai hasil olah pikir dan rasa yang cukup diturunkan lewat pola cantrik. Seorang pegolek (juru golek, pembuat golek) atau pun pedalang (pengguna golek), mengajarkan ilmunya dengan cara lisan dan teladan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Keberadaan sekolah formal pedalangan telah cukup membantu dalam melanjutkan alih generasi bidang pedalangan secara formal. Tetapi, pewarisan keterampilan membuat boneka golek? Belum ada sekolah formal untuk para pembuat golek. Di sekolah formal seni rupa, jurusan atau fakultas pada UPI Bandung, ITB, STISI Bandung, maupun yang lain, belum ada yang tertarik untuk memperhatikan hal itu, walaupun hanya sekadar memasukkan materi pembuatan boneka golek sebagai mata kuliah, atau submata kuliah seni kriya kayu. Sehingga, seseorang yang belajar membuat boneka golek, tidak pernah mendapatkan teori tertulis. Para murid belajar melalui proses peniruan terhadap karya guru (&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;copy master&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;) maupun cara dan gaya guru. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Dalam proses peniruan tersebut diajarkan berbagai aturan, sejenis &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;pakem&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;, tentang raut golek, tentang warna hiasan dan wajah tokoh golek, juga tentang ukuran tinggi dan besar tubuh tokoh golek. Ada pemilahan kerja antara pria dengan wanita yang tampak dalam penyelesaian pembuatan golek. Para pegolek, terdiri atas para pria, hanya menyelesaikan pembuatan bagian tubuh golek tanpa pakaian maupun &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;rarangken&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;. Pemasangan pakaian dan hiasan adalah pekerjaan para wanita. Tentang hal ini pun tanpa acuan pasti yang ketat seperti pada pakem wayang kulit. Golek lebih menampakkan kebebasan sikap, atau malah menunjukkan ketidakajegan aturan? Contohnya pada penggunaan pakaian tokoh utama, warna baju dan jenis kain yang digunakan tidak diatur ketat. Begitu pun pada motif hias dan warna mahkota boneka golek. Semua itu, tentu, diajarkan tanpa buku petunjuk yang jelas. Oleh karena itu, tata aturan pembuatan golek bisa ditafsir secara merdeka oleh para pegolek, namun tetap bertanggung jawab. Yang dimaksud bertanggung jawab, seperti dikemukakan oleh M. Duyeh (1994) pegolek asal Cibiru, tetap mengacu kepada pola umum cerita dan tanda-tanda yang telah menjadi pakem utama dalam cerita wayang. Gaya Cibiru Lama, Gaya Cibiru Baru, Gaya Giriharja, dan Gaya Elung Bandung misalnya, menunjukkan keragaman tafsir tersebut. Begitupun hal-hal yang bertalian dengan cerita. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Pedalang Elan Surawisastra misalnya, pernah memprakarsai lahirnya Golek Pakuan, golek yang dipertunjukkan dengan menampilkan cerita tradisi Pasundan (Jajang, 1997). Memang, seni tradisi cenderung mengikuti pola penurunan yang tuna-tulis. Tetapi, bila kita lihat pola penurunan seni tradisi di lingkungan istana, penurunan itu lengkap dengan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;buku pintar&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;. Tentang buku pintar golek ini, tentu menjadi masalah besar bagi mereka yang ingin mengetahui aneka aturan pembuatan golek. Bukti tentang langkanya buku pintar tentang golek itu bisa ditemukan di lapangan. Hingga kini, belum tampak Ki Sunda yang secara “sungguh-sungguh” merasa perlu membukukan golek. Di bagian perpustakaan Museum Sri Baduga, di Perpustakaan Daerah Jawa Barat, di Perpustakaan Umum Universitas Padjadjaran, dan beberapa tempat yang diperkirakan pantas memiliki pustaka golek, tidak saya temukan pustaka tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Hasil penelitian tahun 1995 (Jajang, 1995), beberapa orang yang terkait langsung dengan keberadaan golek awal --pegolek dan pedalang-- masih &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;jumeneng&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;. Dalam catatan Somantri (1989: 9) disebutkan bahwa Ki Darman, juru wayang asal Tegal, tahun 1840-an menggubah bentuk golek pertama berdasarkan pesanan Dalem Karang Anyar yang pada saat itu akan mengakhiri masa jabatannya sebagai Bupati Bandung. Bentuk golek pertama,cikal bakal golek masa kini, dibuat dari bahan kayu. Hasil gubahan Ki Darman masih menampakkan pengaruh wayang kulit. Bentuk golek buatannya tidak membulat seperti golek masa kini. Ki Darman beserta keluarganya tinggal di daerah Cibiru, Bandung. Beberapa keturunan Ki Darman yang masih tinggal di sekitar Cibiru, Ujung Berung, dan Selacau Padalarang, bisa dijadikan sebagai nara sumber, saksi hidup bagaimana kehadiran golek di tatar Pasundan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Para pegolek generasi keempat dari Ki Darman, hingga kini masih aktif membuat boneka&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;golek. Bahkan, mereka mengembangkan bentuk-bentuk tambahan boneka golek. Mereka aktif merespon tuntutan lingkungan: berdialog dengan para penentu kebijakan seni, pemerhati seni, maupun pengguna karya seni. Begitu pun beberapa dalang kondang (“lima dan empat zaman”) masih bisa diajak berdialog membicarakan sisi kesejarahan golek dan pertunjukannya. Kelompok Giriharja dari Jelekong, Kabupaten Bandung, dikenal sebagai kelompok dalang yang berhasil membangkitkan kembali minat masyarakat dalam menonton pertunjukan wayang golek, terutama kalangan penonton muda. Mereka mempertunjukkan wayang golek sejalan dengan tuntutan zaman. Keberhasilan mereka juga memacu semangat para dalang wayang golek yang lain. Bahkan, gaya pertunjukannya diserap oleh para dalang wayang kulit yang dikenal sebagai dalang taat pakem.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px; font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;2. GOLEK KUNO “RUSAK OLEH BERAS”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;(Sebuah Kenyataan yang Memprihatinkan)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Nasib para pegolek berbeda jauh dengan nasib para dalang. Para dalang yang kemudian dikenal oleh masyarakat, bisa meningkatkan taraf&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;hidup mereka secara normal, bahkan di atas normal. Sebaliknya, para juru golek banyak yang kemudian berhenti berkarya karena alasan kekurangan biaya. Pegolek yang memiliki kemahiran dalam menghasilkan boneka golek yang bermutu, tetapi (terutama) kekurangan modal kerja, baru bisa berkarya ketika menerima uang persekot pesanan dari para dalang kondang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Masih ada sejumlah boneka golek peninggalan masa lalu yang mejadi catatan kesejarahan bidang wayang golek disimpan oleh orang-orang tertentu. M. Duyeh misalnya, banyak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;memiliki boneka golek tua yang sarat dengan catatan penting tentang kesejarahan golek. Seperangkat boneka golek lama yang pernah dipergunakan seorang dalang kondang pada masanya, yang kerap digunakan dalam mempertunjukkan cerita wayang di istana negara pada masa Soekarno, dihibahkan oleh pemiliknya kepada M. Duyeh. Duyeh sendiri tidak mengerti, apa yang menjadi dasar pertimbangan pemilik golek menghibahkan sekotak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;boneka golek itu kepadanya. Yang pasti, boneka-boneka golek karya M. Duyeh banyak dipakai para dalang tenar. Dia memiliki wawasan yang cukup luas tentang sejarah wayang maupun tata-bangun pembuatan boneka golek. Di samping itu, dia bisa dikatakan sebagai pegolek yang kreatif, banyak gagasan, serta banyak berhubungn dengan para pemikir dan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;pemerhati golek. Barangkali, orang percaya kepadanya, sehingga dia mendapatkan hibah boneka-boneka golek kuno. Tetapi sayang, karena seperti pegolek kebanyakan yang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;kondisi ekonomisnya kurang mencukupi, Duyeh terpaksa melepas satu demi satu golek kuno koleksinya, untuk “ditukar dengan beras”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Keberadaan boneka-boneka golek kuno seperti disebutkan tadi , bisa dipandang sebagai sesuatu yang memprihatinkan. “Pemuliaan” benda kuno selalu terbentur dengan masalah kurangnya biaya. Pemerintah daerah maupun pusat belum meperhatikan secara sungguh-sungguh tentang pencatatan semua hasil olah pikir dan rasa masyarakat kita yang penting. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Pengelola Museum Sri Baduga, Jawa Barat, maupun pengelola Museum Wayang Jakarta misalnya, tampaknya belum mampu mendokumentasikan keberadaan wayang secara lengkap, lebih khusus tentang golek. Kedua museum itu baru menyimpan boneka golek sebatas sebagai terok (sampel) catatan semata. Sayangnya, benda-benda visual yang masih tersimpan tersebut dibiarkan “bisu” tanpa informasi tertulis yang mendampinginya. Di Museum Sri Baduga, misalnya, hanya tersimpan (aman dalam kotak kaca) beberapa tokoh boneka golek lama cerita Mahabharata. Ada juga beberapa model golek menak (golek&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;lama dengan cerita panji, Raja Menak, Amir Ambiya), wayang kulit, dan wayang beber. Pengamanan karya, mungkin cukup baik, dengan adanya kamera pengaman untuk memantau pengunjung. Tetapi, kepuasan pengunjung yang ingin mendapatkan informasi yang lebih lengkap tentang golek, belum bisa terpenuhi. Buku koleksi perpustkaan museum yang ditempatkan di sebuah ruangan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;nyingkur, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;juga belum bisa memuaskan pengunjung. Atau mungkin, selama ini pengunjung tidak pernah butuh informasi tersebut?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana; font-size: 13px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Sama halnya dengan yang ada di Museum Wayang Jakarta. Keberadaan golek yang mengisi museum ini baru sebagai pelengkap koleksi museum. Pengelola museum baru menyediakan catatan pendek yang ditempel menyertai benda pajangan. Sumber informasi yang agak panjang baru ada berupa &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;leaflet. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Pengunjung belum bisa mendapat bahan tertulis secara lengkap. Informasi visual yang ada belum sejalan dengan kebutuhan pengunjung. Masih diperlukan begitu banyak bahan tertulis yang bisa dikaji ulang lama setelah mengunjungi museum. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Yayasan Sena Wangi, pengelola Museum Wayang Jakarta, pernah menerbitkan sebuah majalah yang isinya melulu membicarakan masalah perwayangan (1979 - 1989-an). Majalah yang diberi nama &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Gatra&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"
